YUYUDANA TAMBAKYUDHA

SETYAKI mempunyai dasanama Yuyudana, Tambakyuda, Singamulangjaya, Wresniwira bertachta di Swelabumi beristri Dewi Trirasa/Garbarini. Karakteristik SETYAKI  Getapan, ngrampungi damel, tatag, tangguh, tanggon memiliki Gada ‘WESI KUNING’ dan mampu ‘memba’ (berubah rupa) harimau, Sardula (Singamulangjaya). 

Putra Prabu Setyajit (Ugrasena) memperistri Dewi Wresini, bidadari karunia Dewa kepada Prabu Setyajit atas keberhasilannya menumpas Prabu Garbaruci dari Kerajaan Paranggubarja. Kehamilannya “tujuh bulan” akan dilakukan upacara siraman, Dewi Wresini datang dalam sidang persiapan, menyampaikan keinginannya (nyidam) menunggangi HARIMAU PUTIH, Sardula Seta yang bisa tata jalma, bercakap-cakap seperti manusia. Membane, perubahan wujud SINGAMULANGJAYA patih Prabu Tambakyuda Kerajaan Swelabumi berkeinginan  sama memperistri Dewi Wresini. Keinginan (nyidam) ini tidak asing bagi adat-istiadat Jawa.

Yudistira dan Narayana menyetujui niat itu, menugaskan Patih Setyabasa dan Permadi untuk memenuhinya. Singamulangjaya yang berubah menjadi Sardula Seta, Harimau Putih mengalami kesulitan menembus kerajaan Lesanpura untuk menculik Dewi Wresini. Mengetahui bahwa Dewi Wresini nyidam ingin menunggangi harimau putih, ditangan Permadi Sardula Seta menjadi jinak dan bersedia diboyong ke Lesanpura. Sebagai taktik memasuki Lesanpura menculik dan mempersembahkan Dewi Wresini yang didambakannya untuk Prabu Tambakyuda rajanya.

Perlahan-lahan Dewi Wresini yang hamil tujuh bulan ini penuh kebahagiaan duduk di atas punggung harimau putih. Tiba-tiba si harimau bangkit dan melesat pergi membawa kabur Dewi Wresini. Prabu Setyajit dan yang lain terperanjat kaget. Mereka tidak menyangka harimau putih tadi hanya pura-pura jinak, kini menculik Dewi Wresini. Prabu Setyajit menuduh Permadi dan menuntut tanggung jawab kembalinya Dewi Wresini, Bima akan menghukum Permadi bila ternyata melakukan kesalahan.   nDang balia Sri, Sonny Josz

Harimau putih itu telah kembali wujud manusia, Patih Singamulangjaya membawa Dewi Wresini bersembunyi di Hutan Minangsara. Ia melihat Dewi Wresini gemetar ketakutan dengan memegangi perut, dipaksa menggugurkan bayinya. Pada saat itulah Batara Narada tanpa memperlihatkan diri memasukkan roh Prabu Yuyudana dalam rahim Dewi Wresini, bersatu dengan janin yang sedang dikandungnya. Prabu Yuyudana raja bangsa kepiting setelah sekian lama bertapa, ingin diterima sebagai pelayan Bathara Whisnu yang telah lahir ke dunia sebagai Raden Narayana.

Bathara Narada menampakkan diri di hadapan Patih Singamulangjaya dan Dewi Wresini, Ia boleh membawa Dewi Wresini kepada Prabu Tambakyuda di Kerajaan Swelabumi tetapi tidak boleh meninggalkan si bayi. Sepeninggal Bathara Narada Patih Singamulangjaya tetap berkeinginan membunuh bayi itu kemudian dilemparkannya jauh-jauh dan ketika jatuh ke tanah sudah berubah wujud menjadi seorang pemuda berkumis tebal, mampu membunuh Patih Singamulangjaya, Roh-nya bersatu dalam diri Raden Yuyudana. Bathara Narada berkata jangan takut, Roh Patih Singamulangjaya yang bersemayam tidak memengaruhi pikirannya, hanya penambah kekuatan saja.

Dewi Wresini sangat bahagia memeluk putranya tersebut yang tumbuh dewasa dalam waktu singkat. Ia lalu mengajak Raden Yuyudana kembali menemui ayahnya Prabu Setyajit. Ditengah perjalanan bertemu Raden Permadi yang mengira Raden Yuyudana adalah orang yang menjelma sebagai harimau putih. Sebaliknya, Raden Yuyudana mengira Raden Permadi adalah kawan Patih Singamulangjaya yang hendak membalas dendam.

Dewi Wresini melerai, Ia menjelaskan mereka saudara sepupu, bukan musuh. Dewi Wresini menyuruh Raden Yuyudana memanggil kakak kepada Raden Permadi. Sebaliknya kepada Raden Permadi, ia pun bercerita bahwa Raden Yuyudana putranya yang tumbuh dewasa dalam waktu singkat akibat dihajar Patih Singamulangjaya. Prabu Setyajit agak ragu mendengar penuturan istrinya, ia merasa cerita ini sangat aneh dan tidak masuk akal.

PRABU TAMBAKYUDA resah menunggu Patih Singamulangjaya dengan bersenjatakan gada berwarna kuning Gada Wesikuning mengamuk di Lesanpura. Prabu Setyajit baru mau mengakui Raden Yuyudana sebagai anak bila mampu mengalahkan Prabu Tambakyuda.  Yuyudana berhasil merebut Gada Wesikuning dan memukulkannya tepat pada kepala Prabu Tambakyuda tewas seketika, Rohnya bersatu dalam diri Raden Yuyudana. Prabu Setyajit menepati janjinya, memberi gelar RADEN SETYAKI. Menduduki tachta Swelagiri Setyaki bergelar Tambakyuda, menjadi tambak menghadapi serangkan kerajaan lain. Setyaki ahli menggunakan Gada dan mampu mengangkat Gada RUJAKPOLO milik Bima. Karena tubuhnya lebih kecil dia disebut BIMA KUNTHING. Dengan senjata itu pula Setyaki melawan Burisrawa dalam perang Bharata Yudha.

BURISRAWA ksatria berwajah raksaksa, putra ke-empat Prabu Salya tiga orang putrinya yang cantik, masing-masing bersuamikan Baladewa, Duryudana dan Karna. Lahir berwajah raksaksa, tetapi dalam diri Burisrawa mengalir darah Bagaspati resi yang suci dan sakti tidak bisa mati kecuali atas keinginan sendiri. Sedangkan karakter Burisrawa adalah karakter Prabu Salya KARMA yang diturunkan semasa mudanya, menganggap rendah wujud raksasa (Resi Bagaspati) mertuanya. “Raksasa disebut Asura dalam bahasa Sansekerta. Mereka tidak sura, tidak selaras dengan kehidupan.

RAKSASA, asura dalam pewayangan digambarkan berkepala tegak dengan wajah kemerahan. Kepala tegak menggambarkan sikap, watak belum belajar menundukkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi. Wajah kemerahan menunjukkan sikap amarah yang mudah berkobar dalam hati. Raksaksa bukan makhluk masa lalu, dewasa ini sifat raksaksa hidup dalam diri setiap orang yang tidak mampu mengendalikan ke-empat hawa nafsunya dikatakan raksasa, kerakusan ada dalam hatinya, Loba, Dosa dan Moha.

“Ketidaksetaraan”, yang tergambar dalam pembagian KASTA, Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra jaman Hindu, tidak dapat terlepas dari dalam hati sanubari manusia. Sedangkan ‘ketidakseimbangan’ tertuju pada kemampuan mengendalikanan ke-empat hawa nafsu amarah, aluamah, mutmainah dan supiah bekal hidup titipan Tuhan, masing-masing dapat dan boleh berkobar untuk memenuhi panggilan hidup, jangan dikobar-kobarkan untuk kepentingan diri sendiri. Hal ini tidak berkisar, terasa, atau dilakukan hanya oleh kaum Asura, Daitya, Syaitan, Raksasa.

Sebagaimana Burisrawa, dalam diri setiap orang terkandung genetika baik (APIK=HA) dan genetika jahat (ALA=LA). Hanyirnaake ‘tumindak ingkang luput’ memerangi, menjauhi hal jahat merupakan kewajiban manusia. Sebaliknya melakukan hal baik tanpa mengharap pujian, “dibenarkan” orang lain, “laku utama”, berbuat baik, berbelas kasih, mencintai sesama manusia (kesetaraam,) juga sesama ciptaan termasuk tumbuh-tumbuhan, binatang maupun alam semesta. Goyang Maumere GEMU FA MI RE mengingatkan kesadaran, “Batu adalah tulang, tanah adalah daging. Hutan adalah rambut, dan air adalah darah.” (Mama Aleta Baun). Dari filosofi tersebut, menyadarkan kita  bahwa sesungguhnya alam itu juga  seperti manusia  yang harus dilindungi dan di rawat, dengan “CINTA KASIH”, setulus hati, tulus ikhlas tanpa membedakan. Peni Candrarini, Washington, Aja Lamis

Sapadha-padha, kesetaraan dan kebersamaan dalam bahasa Soekarno “Gotong Royong”, dalam bahasa Muhammad “Umma”, dalam bahasa Buddha “Sangha”, dalam bahasa Inggris “Communal Living” dalam bahasa  Bali “Banjar” tidak dapat dipaksakan (Anand Krishna). Kesadaran manusia akan ‘sapadha-padhane dumadi’ nampak dalam sikap ‘ngewongke’, memanusiakan manusia. Kemanusiaan yang adil dan beradab, SILA KE-DUA Pancasila.

Prabu Matswapati menerima laporan Patih Udakawara, Ngastina mengangkat senopati Harya Burisrawa dan Senopati Pendamping Raden Windandini, pertimbangan Bima, Raden Setyaki mampu menghadapinya. Mereka berdua telah sepakat ketemu dalam Bharata Yudha madeg senopati. Terjadi pertempuran sengit, Raden Sencaki semakin lama semakin menurun staminanya, kewalahan menghadapi keperkasaannya Burisrawa. Kresna melihat Setyaki terpojok, memerintahkan Janaka supaya Njemparing rambut yang dipegangnya, sejajar dengan leher Burisrawa. Mengenai bahu Burisrawa sampai timpal (sempal, putus), maka lakon ini dikenal TIMPALAN. Kesempatan Setyaki membunuh Burisrawa disaat sedang bersemedi, bertobat mohon ampun atas perbuatan masa lalunya.

SETYAKI, SETYA artinya setia, patuh tidak pernah mengingkari janji pada para pepundhen tetapi KI (iki) aKU, GUMEDE, merasa lebih, sombong dengan pihak lain karena GADA WESIKUNING dan kemampuannya berubah wujud menjadi Harimau Putih. Keduanya bentuk sikap percaya diri Setyaki menghadapi kehidupannya. Tanpa rasa ragu, ‘Yen WANI aja wedi-wedi, Yen WEDI aja wani-wani’, “JANGAN TAKUT”. Kepithimg, YUYU yang gemar DANA YUYUDANA, Kepithing yang ingin meningkatkan inkarnasi menjadi manusia, bertapa agar dijadikan pelayan Bathara Whisnu (kesempurnaan), kesetiaan dan keberanian pijakan Setyaki membela Pandhawa dalam Bharata Yudha.

Pemahaman spiritual Jawa, kemanunggalan kawula lan Gusti, upaya “warangka manjing curiga”, untuk mencapai kesempurnaan berawal dari pemahaman “kasampurnaning lahir, kasampurnaning urip dan kasampurnaning pati”. Setyaki adalah gambaran, pewayangan usaha manusia untuk mencapai kemanunggalan berdasar pada kesetiaan dan keberaniannya,  “Tenanglah! Aku ini, jangan takut! (Mat. 14:27) Setyaki begitu percaya, dia percaya akan perlindungan KRISNA (Whisnu). KRISTUS (Yesus) mengulurkan tangannya ketika Petrus yang bimbang dan akan tenggelam. “Hai orang yang kurang percaya (beriman), mengapa engkau bimbang?” (Mat. 14:31)

Dalam Kitab Kejadian, dengan imannya yang besar Nabi Musa membelah laut merah dengan tongkatnya menyeberangkan umat Israel. “Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.  (Yoh. 5:46) Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” (Yoh. 5:47).

Seperti halnya Pangeran Purubaya, jaman Sultan Agung, dengan tongkatnya mampu menenggelamkan kapal kompeni di teluk Jakarta. Petunjuk, dhawuh yang terdengar, “tancapkan tongkatmu di sini, pada saatnya seseorang menemukan kembali dan mampu mempersatukan Nusantara”. Bung Karno menemukannya, tongkat itu berubah menjadi tongkat komando “Elar Bangau” yang selalu dibawa kemana-mana. Tongkat itu ditemukan di depan Istana Merdeka sekarang, untuk memperingatinya Bung Karno mendirikan tugu MONAS (LINGGA) lambang keperkasaan laki-laki berdiri tegak “IKI AKU”. Sedang untuk kelembutan, cinta kasih, Bung Karno mempersonifikasikan wanita, perempuan sebagai keseimbangan dibangunlah Gedung MPR/DPR menyerupai YONI.

YONI, dimana manusia dikandung (Rahim), melahirkan bayi yang membahagiakan keluarga dan sekitarnya, demikian harapan Soekarno agar “MPR/DPR melahirkan undang-undang yang membahagiakan masyarakat yang diwakili, bukan mewakili kebahagiaan masyarakat”. Kewenangan mengawasi pelaksanaan undang-undang harus dipisahkan dengan kewenangan memutuskan anggaran. Banyak anggota DPR berfokus masalah uang (korupsi), mereka ‘tidak sura, tidak selaras dengan kehidupan’ masyarakat yang miskin dan turun daya belinya (BURISRAWA). “Kondisi gedung DPR perlu ada perbaikan karena bangunannya sudah miring. Alasannya, sudah 15 tahun sejak reformasi, gedung wakil rakyat itu dinilai belum pernah diperbaiki secara menyeluruh”. Reaksi serentak viral “Hasil penelitian PU gedung DPR tidak miring. Yang bilang miring itulah yang miring,” kata Mahfud, Senin (14/8/2017). Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani: “Perbaiki kinerja dulu, baru minta gedung baru”. http://nasional.kompas.com/read/2017/08/14/13203971/mahfud-md–yang-bilang-gedung-dpr-miring-itu-yang-miring.

Sri Mulyani, saya Usulkan Anggaran DPR yang Pertama Dipangkas. “DPR sedang menggebu-gebu untuk memperlemah KPK. Hak Angket KPK digulirkan karena ada anggota DPR yang dijadikan tersangka oleh KPK. Bahkan Ketua DPR sendiri pun sudah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP. Tak tanggung-tanggung untuk mengadakan Hak Angket kepada KPK saja DPR menganggarkan dana sebesar Rp3,1 milyar rupiah. Padahal Hak Angket tersebut hanya ingin menunjukkan bahwa DPR masih sebuah lembaga yang punya power di Indonesia. Apa iya? Malahan oleh rakyat Indonesia DPR sudah tidak mempunyai legitimasi lagi. Dan rakyat Indonesia tidak merasa diwakili oleh mereka”. https://seword.com/ekonomi/kalau-indonesia-tidak-boleh-berutang-saya-usulkan-anggaran-dpr-yang-pertama-dipangkas/.

“Bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan? (Yoh. 5:47). Aku bertanya padamu Indonesia ?? Mataku penuh suka dan duka. Mataku ada bahagia, amarah dan pilu. Bibirku tetap keluh. Tidakkah kau relungi hatiku. Indonesiaku mau dibawa kemana dirimu”. Puisi jeritan putri Indonesia, senada jeritan Menkeu, dengarkanlah: “Mari melangkah Bersama mengembalikan kejayaan Republik Indonesia”. Aku menjerit padamu Ibu: “Dimanakah ibu Pertiwi ku, ibu berhati suci dan berkasih sayang menaungi bumi Pertiwi. Kembali lah pada hati nurani yang suci”. Aku putrimu, Putri Indonesia, “Indonesia tumpah darahku, aku berjanji padamu,……. Tetap menjunjung tinggi bangsa dan negeriku”. Meriahkan HUT RI Ke-72, Goyang Senam Maumere Getarkan Mako Polda Kaltim. BRAVO

Yuyudana, Tambakyuda, AYU AYU putri Indonesia, Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Mata Najwa Shihab dan masih banyak lagi “paring DANA”, mau menyerahkan bulu bekti, sumbangan pemikiran dan bersedia menjadi TAMBAK, benteng, tameng, perisai dalam YUDA, pertempuran, serangan musuh bukan hanya dari luar, khususnya dari dalam diri.

Mencapai “kemanunggalan”, PERSATUAN INDONESIA, yang masih dibutuhkan bukan untuk Kemerdekaan Lahir yang telah diperjuangkan Bapak Proklamasi, BUNG KARNO – mbongkar sing durung ana – Kemerdekaan Batin, termasuk Kemerdekaan Ekonomi perlu dituntaskan oleh putri-putri Indonesia (Puan Maharani). MERDEKA, sekali MERDEKA tetap MERDEKA. Rahayu!! Sumangga! Ki-Sardjito.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s