KAPANDITAN RESI KUMBAYANA

RESI KUMBAYANA lebih dikenal dengan sebutan DAHYANG DORNA (Sanskerta: द्रोण, Droṇa) atau Dronacharya (Sanskerta: द्रोणाचार्य). Bambang Kumbayana masih saudara sepupu dengan Bambang Sucitra dari negeri Atasangin. Mengalami cacat tubuh karena disiksa patih Gandamana demikian juga Sengkuni. Resi Dorna digambarkan sebagai orang yang bermata kriyipan, hidung mungkal gerang, batu asahan yang telah aus. Mulut gusen (bergusi). Dagu mengerut, akan tanda bahwa dagu seorang tua, berjanggut. Bertarbus. Rambut bersanggul. Berkain bentuk rapekan pendeta. Tangan hanya dapat digerakkan yang belakang, tangan yang lain memegang tasbih. Bercelana cindai dan bersepatu.  Dorna gambaran, Candra seseorang yang menguasai tehnik tipu daya, dusta, menyesatkan.

Kapanditan Resi Kumbayana, DORNA tidak menonjol, wanda kedustaannya yang lebih ditonjolkan. Apapun dilakukan Dorna demi kebahagiaan putranya. “Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah kesia-siaan “ (Ams. 21:6). Dusta disebut sebagai ciri khas Iblis; dia sumber segala kebohongan. Dusta adalah dosa yang bertentangan dengan pikiran Allah (kebenaran). Banyak ditemui orang bersikap acuh tak acuh terhadap dusta, ini salah satu tanda tidak saleh, satu petunjuk bahwa seseorang belum dilahirkan oleh Roh Kudus tetapi berada di bawah pengaruh Iblis selaku bapa rohaninya.

Sekecil apapun perbuatan dusta akan ditutupi dengan dusta yang lain. Dalam upaya memperdaya Bima, Dorna memerintahkan murid unggulannya mencari dan menemukan ‘Susuh Angin’, sangkar, sarang, tempat angin bersarang di gua Gohkarna. Dorna mengetahui disitu bersarang dua orang raksaksa sakti Rukmuka dan Rukmakala. Dusta, tipu daya awal Dorna mencelakai Bratasena atas desakan para Kurawa, khususnya Sengkuni. Kebulatan tekad, keberanian Bima, Bratasena mampu membunuh kedua raksaksa itu dan memperoleh penjelasan bahwa Banyu Tirta Pawitra tidak ada disini, tanyakan kembali kepada Pandita Dorna tempat sebenarnya.

Bima melaporkan sudah menemukan SUSUH ANGIN dan menanyakan TIRTA PAWITRA seperti dijelaskan dua raksaksa yang berhasil dikalahkan, jilmaan Bathara Bayu dan Bathara Indra. Kegagalan tipu muslihat Dorna memperbesar kekhawatiran Kurawa, Sengkuni mendesaknya melakukan tipudaya baru yang mampu menewaskan Bima. Dorna tahu TIRTA PAWITRA ada di TELENGING SAMUDRA, Segara Kidul, di dasar samudra, hal itu baru diungkapkan setelah yakin Bima telah menemukan makna Susuh Angin, bukan dusta.

Angin, udara, ruah, ROH, HAWA selalu bergerak, tidak tinggal diam di tempat. Sesuatu ‘tan kasat mata’, tidak nampak pada pandangan mata, tetapi adanya, kebenarannya dapat dirasakan ‘semilir’, melalui hembusannya yang menyejukkan. Watak angin mampu menyusup, menembus bahkan menerjang apapun, Tornado mengepung Amerika. Angin tidak peduli tinggi atau rendahnya dataran, bahkan disela-sela batu karang angin berhembus.

SUSUH ANGIN, kemustahilan manusia ini tentu tidak bagi Tuhan, Dorna memerintahkan Bima menemukan dimana angin yang tak nampak bersarang. Angin yang tidak pernah berhenti ini bersarang dalam diri manusia melalui paru-paru, dalam setiap ciptaan bernapas mengandung, sarang angin, Roh, Ruah, HURIP, hidup. Sehingga setiap mahluk yang mengandung roh, hurip mampu bergerak dan berpindah tempat.

Dalam proses pernafasan manusia dan binatang mengubah O2 menjadi CO, tumbuh-tumbuhan sebaliknya mengubah CO menjadi O2, tidak memiliki ROH jadi tidak mampu berpindah tempat. Tumbuh-tumbuhan hanya dibekali NYAWA, binatang dibekali nyawa, roh dan jiwa sedang manusia paling sempurna dibekali nyawa, roh, jiwa, suksma dan INGSUN. Tumbuh-tumbuhan hanya mampu tumbuh dan berkembang biak. Penyebaran mereka dibantu angin, air, binatang (Luwak) dan/atau disemai.

Mengalahkan Rukmuka dan Rukmakala dalam kisah ini menggambarkan kemampuan Bima mengendalikan nafas, hambegan angin dan air. Memahami makna SUSUH ANGIN seperti itu beberapa ahli pewayangan tidak serta merta mengiyakan Dorna adalah pendusta. Lakon ini secara tersamar menunjukkan KAPANDITAAN Dorna sebagai guru ngelmu yang mumpuni, mengarahkan siswanya menemukan guru sejati. Ngelmu yang demikian tinggi sudah dikuasai Dorna, tetapi “kelakonne kanthi laku hanya bisa dicapai Bima, dengan membebaskan Bathara Bayu (angin) dan Bathara Indra (air) dari wujud Raksaksa, dan mendayagunakan hambeging keduanya yang luar biasa. Atas jasanya Bima memperoleh cincin Djalasengara ajian yang mampu mengatasi, mengendalikan ombyaking, gelombang samodra, pengaruh air tidak menerpa Bima sehingga berjalan di air seakan di daratan biasa.

Dorna ingin menimba ngelmu pada Bima, masih satu rahasia ngelmu lagi yaitu BANYU TIRTA PAWITRA atau TIRTA KAMANDANU yang dikuasai tetapi tersembunyi belum mendapat makna mendalam, perlu “DILAKONI”. Dorna yakin Bima putra Prabu Pandhu Dewanata kebanggaan Resi Baratmaja mampu nglakoni ‘ambles segara’. Lautan yang luas ini dipakai Dorna menjawab desakan Kurawa untuk mencelakakan Bima dengan mengatakan TIRTA PAWITRA adanya didasar samudra, ‘telenging samudra’, Laut Selatan, Segara Kidul yang dikenal keganasannya. Dibalik semua itu terselubung tutunan bagi Bima dimana dan bagaimana menemukan kemanunggalan kawula Gusti.

DUR (ketidakbenaran, dusta) NA (sasana, istana) dimengerti bahwa pusat atau istana ketidakbenaran ada di dalam hati, dalam pikiran setiap orang. Selama dusta berada di dalam hati tidak berdampak negatif, tetapi ketika SENGKUNI (Sangka Uni) dengan  penuh rasa iri hati, mengucapkan, terlontar menyampaikan pada para Kurawa dampak negatif bermunculan dimana-mana. “Dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri disitu ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yak, 3:16). Sesuatu yang benar disalahkan, diplintir, diplesetkan, memberi makna negatif HOAX.

Niat baik seseorang dapat diplintir untuk memperkaya diri,  TRIBUNTRAVEL.COM – menulis Kepolisian menahan Direktur Utama PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel) Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Desvitasari, yang juga direktur di perusahaan tersebut. Keduanya ditangkap di kompleks perkantoran Kementerian Agama, Rabu (9/8/2017) karena dianggap menipu calon jemaah yang ingin melaksanakan umrah.

Beberapa travel sejenis melakukan hal yang sama, Detik.com mencatat antara lain PT Religi Sukses Jaya Sakti melakukan jasa pemberangkatan umrah, biaya Rp 32 juta, PT Baitullah Baturaja, masing-masing jemaah ditarik Rp 29,7 juta, PT Lintas Utama Sukses paket umrah dari Rp 10,5 juta hingga Rp 17 juta, Windrati, Warga Koja, calon jemaah ditarik uang Rp 18,5 juta, Bambang, paket ibadah ditawarkan sebesar Rp 16,5 juta per orang.

Penipuan-penipuan sejenis seakan dibiarkan, sebagai contoh peristiwa Dimas Kanjeng, UN Swisindo Cirebon dan sejenis, masih banyak lagi, “Iblislah, (sumber kebohongan, dusta) yang menjadi bapamu (mereka) dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu (Joh. 8:44). Berdalih kalau sudah ada kesepakatan sebelumnya harus dicari unsur pidananya baru bisa dilakukan penindakan. Lebih mengkhawatirkan aktivitas Saracen yang memasang tarif berdasar pesanan, diperkirakan mampu memecah belah kerukunan bangsa bahkan negara, seperti terjadi di kawasan Timur Tengah maupun Korea Utara.

Penipuan adalah awal dari segala kejahatan terutama yang bertolak dari iri hati, egoisme suatu hal biasa, wajar. Seumpama pakaian (ageman) bisa dikenakan atau ditanggalkan kapan saja. Disamping Roh, manusia diberi kelengkapan empat nafsu utama, digambarkan  dalam wujud Dasamuka (marah, warna merah), Kumbakarna (serakah, warna hitam), Sarpakenaka (sex, warna kuning)  dan Gunawan Wibisana (kesucian, kebaikan, warna putih), Ramayana.

Tanpa nafsu marah manusia tanpa daya, tidak mampu bersaing mempertahankan hidup, tidak terbakar untuk mempelajari hal yang lebih baik, lebih tinggi. Telepon seluler menjadi nir kabel salah satu bentuk persainganan dibidang komunikasi, demikian juga kecanggihan teknologi persenjataan wujud dari kobaran nafsu tidak terkalahkan, seperti sifat Rahwana. Demikian juga tanpa kobaran ‘semangat lebih’ manusia tidak akan mampu menemukan solusi mencapai kesempurnaan hidup, ‘sampurnaning urip’.

Keserakahan sikap berlebihan untuk mempertahankan hidup. Raga yang berasal dari tanah ini memerlukan makanan yang dihasilkan oleh tanah. Kerakusan manusia terlihat dalam cara hitung-menghitung, perhitungan untung-rugi. Keuntungan besar dirasa menjamin kehidupan duniawi yang panjang turun-tumurun, dinasty. Peluang melakukan korupsi dianggap keberuntungan, anugerah dan sering dilakukan dalam kebersamaan, ‘bareng-bareng’, pemerataan dosa. Mereka lupa bahwa hidup di dunia ini seumpama “mung mampir ngombe”.

Sarpakenaka gambaran nafsu sex yang harus dimiliki manusia untuk memperoleh keturunan, anak. Tanpa karunia anak mereka merasa dipermalukan dan mengejar untuk kawin lagi kalau perlu lebih dari satu. Mereka lupa bahwa nafsu sex hendaknya fokus pada rasa cinta kasih yang sejati, seperti digambarkan cinta Rahwana pada Dewi Sinta tidak menunjukkan keinginannya melakukan hubungan sex meski dia mampu memperkosanya, tetapi lebih mempertimbangan kesediaan Sinta menerima cintanya.

Kesucian, hendaknya dilakukan bukan untuk ‘sok suci’ tetapi betul-betul bersih dari ketiga nafsu diatas. Berani melawan orang tua dikatakan anda melanggar sepuluh perintah Allah, harus patuh sesuai dengan keinginan orang tua atau orang yang dituakan seakan perintah Tuhan. Masih banyak lagi sikap atau tindakan menggunakan dalih membela agama untuk meraih keuntungan pribadi.

waspada dan bertobatlah, “….. buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota”, “harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu”, “menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”.  Eff. (4:22-25).

Perjalanannya ke gunung Candramuka “Golekana Susuhing Angin”, Candramuka sebutan bagi mata, hidung, mulut dan telinga yang merupakan pintu masuk, ‘babahan hawa’ bagi segala keinginan. Selengkapnya terdapat sembilan, babahan hawa sanga untuk laki-laki sedangkan untuk perempuan terdapat sebelas, sewelas babahan yang harus dikendalikan untuk mencapai kemanunggalan. Manunggaling Kawula lan Gusti dan menemukan Banyu Tirtapawitra Sari, Banyu Urip.

Bima mampu nutupi, mepet ‘babahan hawa sangaSAMADI, “ambles” menembus kedalaman jiwa dan bertemu DEWA RUCI, anak Bajang menyerupai dirinya, “SIRA YA INGSUN. Dalam masyarakat Jawa hal ini disebut manunggal, manunggaling kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, pamoring kawula Gusti, warangka manjing curiga – curiga manjing warangka. Dewa Ruci mbabar, menjelaskan Tirtapawitra Sari, tanpa air timbul kekeringan, tidak ada kesuburan, air sebagai sumber kehidupan. AIR HIDUP. “Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Yoh. 4:14)

DORNA dalam perang Baratha Yudha menggunakan ‘aji panglimunan’, tidak kasat mata sehingga kedatangannya tidak diketahui, menimbulkan korban banyak sekali. Mendengar Aswatama mati baru menampakkan diri dan bertanya kepada setiap orang yang ditemui dijawab BENAR. Kepada Yudistira satu-satunya orang yang tidak pernah dusta Dorna bertanya mendapat jawaban dengan intonasi seperti pengarahan Krisna. Tekanan suara yang berbeda meskipun isinya benar bernuansa DUSTA salah satu bentuk dusta yang dibenarkan, ‘Dora Sembada’.

BENAR…!!! Jawabnya dilanjutkan dengan suara lirih ‘Gajah Esti’  TAMA !! (tegas) MATI..! Tama Mati !.  Ini yang tertangkap pendengaran Dorna, Tama ksatria bertelapak kaki kuda, adalah nama panggilan Aswatama sehari-hari putranya dengan Bathari Wilutama berwujud seekor Kuda yang ditungganginya menyeberang lautan, putra kesayangan dan sangat didambakan kebahagiaannya meski dibela dengan DUSTA. Busur dan panahnya terjatuh, Dorna mengheningkan cipta dan menyerahkan nyawanya (ngracut) “sudah selesai”. Karma dusta yang dilakukan Dorna terhadap Bambang Ekalaya, ketika memenuhi rasa iri hati Arjuna tergenapi.

Dustajumena inkarnasi Ekalaya menghunus pedangnya dan menebas kepala Dorna dijadikan bola tendang artinya DUSTA akan terus bergulir dari kaki yang satu ke kaki yang lain, tidak akan pernah berhenti. Penggandaan uang yang satu ke yang lain, First Travel yang dibekukan muncul lainnya, UN Swisindo Cirebon yang dilarang memunculkan janji kemakmuran yang lain. Buka MATA (EYE) dan waspadalah.

Dusta di balas dengan dusta, kebencian dibalas dengan kebencian, mata diganti mata, ‘sapa nandur bakal ngundhuh’, barang siapa menanam akan menuai, menabur angin menuai badai hukum karma yang tidak akan berhenti. “….. buanglah dusta dan berkatalah benar”. Mendahulukan dusta artinya mendengarkan bisikan iblis, bapa segala dusta. Sumangga!!! Rahayu!!. Ki-Sardjito.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s