TAN SAMAR ING PANINGAL

DEWI DRESANALA, putri Bathara BRAMA bathari cantik yang dihadiahkan pada Hardjuna atas keberhasilannya mengalahkan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa negara Manikmantaka yang ingin memperistri DEWI SUPRABA karena dendam. Dikisahkan Prabu Niwatakawaca buta sebelah matanya (mata satu), akibat ditusuk keris Dewi Supraba saat mengintip 7 (tujuh) bidadari penari Kahyangan yang sedang mandi. Perkawinan Hardjuna berbuah Dewi Dersanala  mengandung 7 (tujuh) bulan.

DEWASRANI putra Sanghyang Manikmaya, Bathara Guru dengan Bathari Durga lahir di Setragandamayit, Dewasrani berwajah tampan. Selain sakti, juga mempunyai Aji Kawrastawan, dapat beralih rupa sesuai kehendaknya, mempunyai sifat dan perwatakan; serakah, bengis, kejam, usil dan mau benarnya sendiri. Dewasrani ingin merebut Dewi Dersanala istri Hardjuna. Bathara Guru terhasut Bathari Durga dan atas perintahnya pasukan dewa mengusir Hardjuna, Bathara Brama dipaksa menggugurkan kandungan Dewi Dresnala dan membunuh bayi yang terlahir, menyerahkan Dewi Dresanala kepada Dewasrani.

WISANGGENI terlahir paksa dan diceburkan ke Kawah Candradimuka atas perintah Bathara Guru. Mendapat perlindungan Sang Hyang Wenang menjadi makin besar dan sakti. SEMAR, Sang Hyang Ismaya atas laporan Hardjuna mengawasi semua kejadian di Kahyangan mendampingi bayi yang terlahir dan memberi nama Wisanggeni, Wisa (bisa, upas, racun) dan Geni (api). Munculnya Wisanggeni berimbas pada suhu sosial-politik masyarakat meningkat tajam dengan makin maraknya media sosial menyebar racun dan api melalui kabar bohong, menghasut, memfitnah berselubung kebaikan, kebenaran diri sendiri. Hal juga terjadi di Kahyangan Jonggring Salaka, kesewenangan Bathara Guru. Semar tan SAMAR dibalik peristiwa Dewi Dresanala, memberi petunjuk Wisanggeni menertibkan Bathara Guru (Manikmaya) yang melarikan diri ke Amarta meminta, mencari bantuan Bima (jalan lurus), sedangkan Semar menghukum Bathari Durga yang selalu memanja Dewasrani.

GENI, api dalam pewayangan dipercayakan kepada Bathara Brama. Gunung Brama di Jawa Timur dipercaya sebagai Kahyangan Bathara Brama lebih indah dari Gunung Lawu (Giri Mahendra) Kahyangan Bathara Indra. Dalam suatu penelitian diprediksi terjadi pergeseran nama Brama, Brahman, menjadi Abraham atau Ibrahim yang mempersembahkan putranya di GUNUNG MORIA. Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah MORIA dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22:2) Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. (Kejadian 22:4) Jarak dari Gunung Brama ke Gunung Moria mengendarai keledai, kuda beban makan waktu tiga hari. Abraham sampai Sulaiman (Sleman), Solomon, (Solo), Bilqis (Ratu Seba-Sobo) cucu kita kata Cak Nun.

Gunung Brama tidak mengalami pengubahan nama seperti Gunung Muria yang semula bernama Giri Retawu,  Gunung Lawu Giri Mahendra, Gunung Cireme disebut Giri Indrakila, Gunung Wilis, Pawinihan dan masih banyak lagi. GUNUNG Mahendra adalah Gunung Lawu, dari kata Maha Indra, maka di puncak gunung Mahendra ada daerah bernama kahyangan adalah suku atau kaki kahyangan Tenjomoyo tempat Sang Hyang Batara Indra. (Turangga Seta, https://atlantisnuswantara.wordpress.com/2013/05/

Perubahan demi perubahan semakin cepat, beberapa ramalan Jayabaya banyak terbukti. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul, Ukuman Ratu ora adil, Ratu ora netepi janji, musna panguwasane, Sing sawenang-wenang rumangsa menang, Wong bener thenger-thenger, Wong apik ditampik-tampik, Wong salah bungah, Wong jahat munggah pangkat, Luwih utama ngapusi, Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka. Dewasrani yang ‘ngumbar nafsu’ melalui Bathari Durga ibunya menghasut Bathara Guru menggunakan kuasanya menghukum Hardjuna, ‘Ukuman Ratu ora adil’. Penipuan dengan kedok spiritual, Umroh First Travel, Dimas Kanjeng penggandaan uang berujung pembunuhan, Swissindo Cirebon yang menyebut dirinya sebagai ROYAL K681 KING OF KING’S M1 THE UN-SWISSINDO dan banyak lagi jenisnya. Luwih utama ngapusi!.

Calon pejabat bersiap diri saling berebut dalam pilkada serentak, mulai membina kelompok kader, lobby dengan penguasa dan pengusaha. Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” (Luk. 10:22). Timbul gerutu dan perdebatan diantara para murid-Nya. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. (Luk. 10:42)

Sing sawenang-wenang rumangsa menang, moratorium reklamasi muncul dalam waktu yang singkat, seakan berebut waktu dengan pelantikan gubernur DKI (16 Oktober 2017). Wenang, berwenang, penguasa, pemerintahan pusat dinilai menggunakan otoritasnya melanjutkan reklamasi teluk Jakarta. Berawal dari (11 Mei 2016, TEMPO) KLHK mengeluarkan Surat Keputusan terkait pengenaan sanksi administrasi berupa penghentian sementara seluruh kegiatan pembangunan Pulau C dan D serta G karena dinilai telah melanggar aturan.

  • 19 Juni 2017 terbit sertifikat HPL Pulau D atas nama Pemerintah Provinsi DKJakarta.
  • 20 Agustus 2017 terbitkan sertifikat tanah Pulau C dan D, kepada pengembang HGB,”
  • 24 Agustus 2017. Najib menjelaskan, proses itu berlangsung cepat karena Kantor Pertanahan Jakarta Utara tidak perlu lagi melakukan pengukuran. Merupakan amanat Keppres Nomor 52 Tahun 1995
  • 6 September 2017. Siti Nurbaya menuturkan, bukan pencabutan moratorium reklamasi melainkan pencabutan sanksi administrasi Pulau C dan Pulau D. Dua pulau itu digarap oleh pengembang  PT Kapuk Naga Indah (KNI), anak perusahaan Agung Sedayu Group. “Kalau dibilang moratorium kan berarti seluruh kegiatan”.
  • 2 Oktober 2017. Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 137 Tahun 2017 tentang Panduan Rancang Kota Pulau G Hasil Reklamasi Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta.

 MELIHAT adalah aktifitas mata, satu dari lima indera titipan Tuhan yang vital, hilangnya fungsi mata berakibat kebutaan. “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, IMANMU telah menyelamatkan engkau!” (Luk. 10:51-52). Akibat kebutaan itu sudah banyak deritanya, MATAMU ADALAH PELITA TUBUHMU, mata adalah alat menerima terang, IMANMU menyelamatkan. Kelopak mata, putih mata dan hitam mata dalam pemahaman spiritual pewayangan MATA dikendalikan tiga dewa utama Tejamantri (Togog), Ismaya (Semar) dan Manikmaya (Bathara Guru). Telahir dari sebutir telor (antiga), kulit telor Togog, putih telor Semar dan kuning telor Bathara Guru, jarang disebut NARADA dewa keempat dari selaput telor, tiga dewa yang menyatu dalam MATA, HER (air, manik) dalam JUNA (tempat air, menimba air), HARJUNA.

MEREM, menutup mata (dalam arti tidak tidur) berarti tidak mau melihat, disini peran utama TOGOG (kelopak mata) yang condong pada ketidakbenaran lebih tua, lebih berkuasa atas Manikmaya yang menangkap BENAR, Sejati, tidak bisa menolak apa yang terlihat. Sedangkan Ismaya (Semar) sangat berkuwajiban menjaga KEBENARAN yang diterima Manikmaya namun ditutupi Togog (menutup mata, ‘tidak mau tahu’). Perkelahian Semar dan Togog berkisar pada tangkapan, pandangan MATA tidak akan pernah berhenti, pertengkaran merebut benar dan salah. Kebutaan fisik tidak lebih sederhana dibanding kebutaan mata hati, mata rohani disegala hal apakah itu masalah intelektual, profesi, kepemimpinan, jabatan, kebenaran, benere dhewe.

Ketika penguasa dan pengusaha melihat kebutuhan masyarakat keduanya bersatu,saling percaya untuk memenuhinya namun berbeda dalam harapan. Harapan penguasa kesejahteraan masyarakat, terciptanya lapangan kerja, meningkatnya daya beli, berpendidikan tinggi. Sementara pengusaha berorientasi pada keuntungan tinggi, dengan biaya serendah mungkin. Menguasai zona perdagangan dan tak segan membeli wilayah, pulau centra perusahaan termasuk tenaga kerja ahli yang dibawanya. Perbedaan ini mencipta tarik ulur kebijakan (perundang-undangan) dan kebijaksanaan, ‘win-win solution’ bukan ‘thithik-eding’, bagi-bagi. Melakukan konspirasi berfalsafah ‘talang diliwati air harus basah’ ini salah satu bentuk mata rohani jahat, masih gelap!. Tinggalkan, lupakan yang pernah terjadi dimasa Orde Baru.

Negara adidaya, seperti Amerika Serikat dan Cina, “Mereka terus berusaha menguasai (Indonesia) dengan menghembuskan berbagai isu politik maupun teknologi informasi,” ujar Menteri Dalam Negri Tjahjo Kumolo saat menjadi pembicara kunci dalam sarasehan budaya ‘Pancasila dan Kebhinekaan’ di UGM Yogyakarta, Senin 6 November 2017. Bila benar, MATA masyarakat sudah ‘MELEK’ benar, mampu melihat apapun melalui perkembangan tehnologi komunikasi, media sosial yang cepat tidak perlu menunggu minggu, hari cukup jam, menit bahkan detik.

Dewasrani putra dewa yang digambarkan ‘tan kena ing pati’, tidak akan mati meski dijatuhi pidana hukuman mati, hidup kembali. Demikian juga Rahwana sering disebut DASA (10) MUKA (wajah, topeng) hanya satu wajah cinta-kasih sisanya wajah kejahatan. Seseorang bisa memiliki lebih dari 10 topeng dalam berkomunikasi dengan banyak rekan, rekanan. Setiap topeng demi kepentingan tersendiri bagi diri sendiri, pengaruh iblis ini besar sekali. Kegagalan satu topeng diubah dan diganti dengan topeng lain, kejahatan iblis tidak kenal mati. Ngelmu TOPENG ini banyak digunakan pejabat yang korup, semakin banyak.

“Contohnya saja satgas pangan dua bulan saja 322 perkara. Ya kan? Kartel-kartel itu. Kemudian kita lihat Satgas Saber Pungli dalam setahun 1.100 perkara. (Tangkap koruptor) gampang, karena yang korupsi juga banyak ini, ” terang dia. Polri loyal kepada Presiden. Perintah Presiden untuk tunda, kami tunda. Kami tetap mempersiapkan seperti apa organisasinya kalau seandainya terjadi misalnya perubahan (keputusan Presiden),” ujar Tito di auditorium STIK/PTIK, Jl Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, (26/10/2017).

“Kita masih berkutat hal-hal yang tidak produktif, urusan demo, urusan fitnah, urusan hujat-menghujat yang tidak produktif dan selalu negatif, kita selalu mengembangkan negatif thinking kita terhadap yang lain, suudzon terhadap yang lain, fitnah, kabar-kabar bohong apakah ini akan diterus-teruskan? Ungkapan Presiden Joko Widodo

Belum seminggu muncl Negative Thinking dampak dari tidak mau mendengar (mbudeg), Sudirman Said Sebut Tahun 2012 Ada Pergub untuk Reklamasi, tidak mau melihat (merem) kapan dikeluarkannya, akhirnya diketahui bahwa Peraturan Gubernur Nomor 121 Tahun 2012 tentang Penataan Ruang Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta yang diterbitkan saat era Gubernur Fauzi Bowo (Foke) pada September 2012, sebulan sebelum ia lengser. (Kompas.com – 02/11/2017). Ada unsur kesamaan, apa kesengajaan? Dua minggu sebelum lengser Djarot mengeluarkan Pergub Nomor 137 Tahun 2017, Panduan Rancang Kota pulau G, atas permintaan Menteri LHK Siti Nurbaya.

HA NANING CIPTA, RASA LAN KARSA, DA TAN SALAH WAHYANING LAMPAH, PA DHANG JAGADE YEN NYUMURUPANA, MARANG GAMBARANE BA THARA NGA TON” (Kridasastra Winadi). Uraian aksara Jawa dalam sanepan (perumpamaan) diatas adalah tuntunan hidup manusia (ha, na) yang dibekali CIPTA, RASA dan KARSA (ca, ra, ka) yang tidak nampak, wujud yang nampak adalah Panca indera. Dalam pewayangan diwujudkan PANDHAWA dengan masing-masing karakteristiknya, sedang yang tak berwujud Cipta (Kresna), Rasa (Sembadra) dan Karsa (Baladewa).

BIMA yang dikenal jujur dan menegakkan kebenaran (datan salah=da ta sa) juga dipahami sebagai JALAN LURUS (wahyaning lampah=wa la) bisa dikalahkan Wisanggeni ketika membela Bathara Guru yang salah. Ketika ia melarang Hardjuna (mata) menghadapi Wisanggeni dimaknai tidak mau melihat (merem) sehingga pandangan Bima gelap. Kalau mau melihat (yen nyumurupana) SEMAR dibelakang Wisanggeni tentu ‘tan SAMAR’, bakal Padhang Jagade. Mau melihat (melek, membuka mata hati) marang (tertuju, fokus) pada Gambarane (petunjuk, sabda, firman) Bathara (yang ditinggikan, yang disembah, Tuhan bukan dewa-dewa). Ngaton (katon, nampak, berwujud) dalam perwujudan-Nya dalam gumelaring 7 (tujuh) alam semesta Surya, Candra, Kartika, Bawana, Tirta, Dahana dan Hawa (udara, Ruah, Roh).

WISANGGENI, putra HARDJUNA, Tan Samar ing Paningal dari apa yang terungkapan diatas dapat dipahami bahwa MATA, Pelita Tubuh hendaknya tansah MELEK, waspada, penuh perhatian terhadap impian, harapan, kebutuhan masyarakat. Hendaknya tidak MEREM, menutup mata, tidak mau tahu, hanya mendahulukan kepentingan diri, maju lagi-maju lagi di pilkada. Tidak meracuni masyarakat dengan kabar bohong (hoax), membakar kemarahan rakyat melawan lawan politiknya, membengkokkan jalan lurus beralasan kuasa, kewenangan dan kesewenang-wenangan, jangan diterus-teruskan. Penyesatan cara berpikir ini oleh pendatang, masa kewalian dilanjutkan masa penjajah sejak abad XIV yang diulang-ulang menjurus pada kesalahan berpikir, secara terus-menerus dilakukan akan menjadi pembenaran. Bagi masyarakat Nuswantara penyesatan selama 500 tahun, lima abad (Noyo Genggong, Sabdo Palon) tidak mengubah JATIDIRI bangsa khususnya JAWA tidak menjadi Hindu, Budha, Cina (penyebar Islam awal), Arab maupun Belanda berbeda dengan Australia dan Amerika Latin berbahasa dan berbudaya penjajah.

Bila benar pergantian peradaban terjadi setiap 700 tahun (7 abad), Abad XXI akan menjadi jaman walikan, membalik, pembalikan, kembali ke peradaban luhur. Makin diperdalamnya penelitian peninggalan kuno seperti hypotesa Plato Atlantik yang hilang, Eisen Hower ‘Eiden in the East’ DNA menjadi focus peneliti, termasuk Turanggo Seto (lokal) masih di batasi. Sosok dibelakang Jokowi.

Tiga orang MAJUS ahli perbintangan yang membawa emas, kemenyan dan mur sebagai persembahan bagi KING of KING. Kehilangan sinar Bintang Kejora di Yerusalem, bertanyalah mereka kepada Herodes (raja salah) yang bertopeng ingin ikut menyembah (padahal tidak mau lahirnya raja baru). Keluar dari Istana Herodes Bintang Kejora muncul kembali dan membawa mereka ke Betlehem. Firman Allah menunjukkan jalan baru bagi ketiga orang Majus, jangan kembali melalui jalan salah, BERTOBATLAH. Kembali ke jalan lurus!. Tuhan memberkati!. Sumangga!!. Rahayu!. Ki-Sardjito.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s