KECEMPLUNG LUWENG

ARYA GANDAMANA adalah putra Gandabayu dengan permaisuri Trilaksmi, reinkarnasi pendeta muda Resi Jarwada pernah menyerang kahyangan. Putra Mahkota Pancala ini menyerahkan Mahkotanya kepada Drupada suami Gandawati adiknya. Gandamana murid Pandu memilih sebagai patih Hastina. Kisah ini tidak ada dalam wiracarita Mahabharata.

ARYA SUMAN adik Gendari istri Destarastra dihajar Gandamana sehingga kehilangan ketampanannya, sejak saat itu dikenal dengan sebutan SENGKUNI, dari kata Saka dan Uni, “karena ucapan“. Demikian juga Kumbayana saudara angkat Drupada, memanggil dengan nama kecil Sucitra, Gandamana menghajarnya sampai cacad. Wajah Kumbayana yang tampan berubah menjadi buruk rupa, bertapa menjadi seorang pendeta bergelar DRONA, menjadi guru ilmu perang para Pandawa dan Korawa. Karena perbuatan “main hakim sendiri“, Gandamana dipecat Pandu digantikan Sangkuni yang memfitnah dan mencebloskannya dalam LUWENG.

Gandamana terpaksa meninggalkan kedudukannya dan kembali ke Pancala, sampai akhir hayatnya. Ketika menjadi banten (persyaratan) sayembara DRUPADI, Gandamana berhasil menangkap dan mencekik Bima. Ketika Bima menyebut nama Pandu, Gandamana langsung luluh hatinya, tanpa sengaja, kuku Pancanaka menusuk dadanya. Sebelum wafat Gandamana mewariskan semua ilmu kesaktiannya Ungkal Bener dan Bandung Bandawasa kepada Bima, sedangkan Puntadewa dan Arjuna masing-masing memperoleh kalung Robyong dan ilmu Sepi Angin. Gandamana lega karena Dewi Drupadi diperistri Puntadewa, putra Pandu.

LUWENG adalah galian cukup dalam bukan untuk mendapat sumber air (sumur), biasanya ditutup dengan ranting-ranting, untuk menjebak binatang buruan. Peradaban Jawa dalam bahasa, tata krama, unggah-ungguh sangat padat makna. Terungkap juga dalam budaya wayang, baik dari sisi nama, wanda maupun warna. Tokoh wayang berhadapan dengan siapa adalah sanepan, perumpamaan sikap dan sifat manusia, Karna (pendengaran) harus tandhing dan dikalahkan oleh Hardjuna (penglihatan) artinya apa yang didengar kebenaran harus terbukti, terlihat mata.  https://susisardjito.wordpress.com/2015/11/29/gandamana-luweng/

KECEMPLUNG LUWENG karena ulah (galian) sendiri terjadi sejak tahun 1999 – Kasus pengalihan hak tagih Bank Bali. Galian agak dalam di tahun 2003 – Setya bersama rekannya di Golkar, Idrus Marham, diduga sengaja memindahkan 60 ribu ton beras yang diimpor Inkud. Merasa kurang dalam penggalian di tahun 2006 – Kasus penyelundupan limbah beracun (B-3) di Pulau Galang, Batam. Menciptakan kelompok penggali terjadi tahun 2012 – Kasus Korupsi Proyek PON Riau 2012. Semakin dalam galian, semakin sempit pandangan, pikiran seseorang tidak berkembang, hanya terpusat pada galian, lupa kedalaman berakibat KECEMPLUNG LUWENG di tahun 2013 – Kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP. di Kemendagri. Selama tiga tahun ini, KPK telah memeriksa 283 orang sebagai saksi.  Mereka terdiri dari politisi, pengusaha, hingga pejabat dan mantan pejabat di Kemendagri. http://www.tribunnews.com/nasional/2017/03/04/kasus-korupsi-e-ktp-seret-nama-nama-besar-kpk-mudah-mudahan-tidak-ada-guncangan-politik

Nazarudin menuding mantan Wakil Ketua KPK Chandra M. Hamzah menerima uang dari dirinya, berkaitan dengan proyek pengadaan baju Hansip dan e-KTP. “Terkait uang yang mengalir itu kapan, yang mengasih pada proyek apa, urusannya apa, sempat disupervisi KPK. Nilai kedua proyek itu sekitar Rp 7 triliun,” ungkap Nazaruddin. Tahun 2013 lampau, “Proyek ini juga diatur oleh Anas. Ada saya, ada Setya Novanto bukan hanya e-KTP. Novanto banyak ngurus proyek, tapi namanya tidak ada di mana-mana. Tapi, soal bagi-bagi duit, dia selalu mengatur di mana-mana dan 2.000 persen orang ini dilindungi orang yang sangat kuat,” (https://susisardjito.wordpress.com/2016/07/01/keladuk-wani/

Mencermati ungkapan diatas, Luweng yang tersedia untuk Setyo tentu bukan disebabkan ucapan, perbuatan sendiri, dalam pewayangan dirancang Sengkuni. Selaku Gandamana, Setyo Novanto tentu bisa dan tidak disalahkan meminta perlindungan bila ingin menyeret Sengkuni kedalam ranah hukum. Wakil Presiden Jusuf Kalla membenarkan kabar Ketua Umum Golkar Setya Novanto meminta tolong ke berbagai pihak terkait dengan kasus hukum yang menjerat Ketua DPR itu sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. Sambil berseloroh, Kalla mengatakan upaya Setya itu harus dilihat sebagai upaya terakhir. “Ya, namanya usaha, ya, boleh saja. Usaha terakhir itu,” ujarnya sembari tertawa saat diwawancarai Tempo di Jakarta, Rabu, 22 November 2017.

PADANARAN dikenal karena makam Ki Ageng Padanaran di Bayat, Klaten tempat ini selalu dipadati para peziarah untuk keperluan masing-masing atau kelompok kepercayaan. Tempat spiritual lain seperti Padepokan Lang Lang Buana Gunung Srandil di Cilacap, Kali Garang, Sampangan, makam Pangeran Purbaya di Desa Maguwaharjo, Berbah, Sleman banyak dikunjungi Pak Harto, Soedjono Hoemardani yang didampingi guru spiritual kepercayaannya Romo Diyat. https://id.wikipedia.org/wiki/Padepokan_Jambe_Pitu Cukup banyak tempat spiritual seperti ini yang tidak terdeteksi, Turangga Seta atas petunjuk Susuhunan Amangkurat Agung, Ki Tunggul Jati Jaya Among Raga, atas perintah langsung Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya mencoba meneliti adanya daerah yang disebut area 36 kebanyakan tempat spiritual dibeberapa daerah di Jawa. https://youtu.be/7a8DKwRaFEU

Salah satu kelompok Soedjono Hoemardani, Bawana Tata pernah mendapat petunjuk, dhawuh di tempat ini (Padanaran) ketika ingin mengetahui siapakah pengganti Presiden Soeharto nanti. Salah satu dhawuh menyebut “wong wuto nata negara” di Mesjid bersebelahan dengan kolam teratai. Gus Dur sempat mencoba mendaki makam Pangeran Pandanaran namun tidak berhasil, jawaban, sanepa bahwa kekuasaannya tidak sampai lima tahun. Siapa penggantinya menerima dhawuh di Candi Jago “jaran kepang sing nunggang klambi abang, bareng mudhun jebul wong wadon”. Urutan terakhir menerima dhawuh di Telaga Sarangan Bakal ana jago kluruk saka wetan, Pacitan’. Menjadi kebingungan ketika disebut berinisialnya B, petinggi ABRI masih ada garis keturuna (trah) Pakubuwana III.

Memang sulit menjabarkan semua sanepa dari dhawuh yang diterima, terlebih ketika menerima dhawuh di Kawali, Ciamis pengganti pertamanya disebut “Waja Kanga” adalah Bapak B.J. Habibie. Dalam pewayangan waja (gigi) dan kanga (Kangsa) putra tiri Prabu Basudewa dengan Dewi Maera berwujud raksaksa yang berniat membunuh Baladewa, Kresna dan Sembadra, merebut Kekuasaan Mandura. Berakhir dengan Kangsa adu Jago. Kelompok ini mengakhiri LAKU mereka setelah mendapat empat jawaban (dhawuh) di atas, karena usia.

LAKU yang menjadi basis tatalaksana pemerintahan diawal masa Soeharto membawa kelancaran sampai Repelita III. Kebiasaan ini mulai ditinggalkan sepeninggal Bapak Soedjono sampai sekarang. Barangkali ini yang maksud Romo Sindhunata SJ dalam tulisannya “Semar yang hilang”. Tidak banyak laku spiritual mencari, mendengarkan bisikan Semar (Bathara Ngaton, firman, Allah yang menjelma jadi manusia, perwujudan Yesus Kristus yang rela mati disalib, bangkit dan menjadi hakim akhir jaman).

“Hilangnya Semar memperlihatkan keprihatinan serupa. Khusus di Jawa, Semar adalah simbol kebudayaan, identitas, dan pamomong, yang selalu mendampingi manusia dalam suka dukanya. Dengan Hilangnya Semar dilukiskan bagaimana dewasa ini kebudayaan, identitas, dan pamomong itu menghilang. Hilangnya Garuda dan Semar mengajak kita merenungkan kembali kegelisahan yang akhir-akhir ini terjadi. Pertama-tama, kendati banyak kemajuan, dewasa ini kita mudah merasa tidak terikat satu sama lain. Tiadanya keterikatan itu membuat hidup jadi kurang nyaman, tidak terjamin, dan kurang bahagia. Sebagian warga, lebih-lebih kelompok minoritas, malah merasa hidup dan keberadaannya kurang diterima. Seakan mereka bukanlah saudara se-Tanah Air dan sebangsa.

Sebagai tempat, Tanah Air itu ada dan menampung kita. Namun, karena di tempat itu kita tak lagi merasakan keintiman, keterikatan, kenyamanan, dan keamanan, kita seperti kehilangan Tanah Air. Tanah Air itu bagaikan ibu, tempat kita ingin selalu kembali dan rindu. Hilangnya Garuda dan Semar adalah simbolik ketika Tanah Air seperti tak lagi bisa menjadi ibu. Sekarang, kita mudah menjadi serba gelisah. Mungkin karena Semar sudah ditelan raksasa, seperti digambarkan dalam pameran seni di Bentara Budaya itu. Raksasa itu adalah globalisasi yang menelan bulat-bulat hidup kita, lebih-lebih kaum kita yang miskin dan terpinggirkan.

Bahkan, Patih Sengkuni, tokoh culas dan provokator kerusuhan yang ulung, tak bisa tidak harus mengakui kesalahannya. Ia tak bisa lagi menutupi kejahatannya. Ia tersiksa oleh kejahatan itu. Maka, ia ingin bertobat. Alasan pertobatannya bukan lagi moral, politik atau kekuasaan, melainkan kehidupan. Ia merasa sudah tua, tak boleh lagi ia meneruskan kejahatannya. Kalau tidak, bagaimana ia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya ketika mati nanti. http://www.kawalpemilu.id/2017/11/06/hilangnya-semar-baranews/

Sengkuni akhirnya bertobat. Mana ada Sengkuni bertobat? Ini sungguh melawan pakem wayang. Namun, malam itu lakon wayang Ilange Semar memang sengaja hendak dijadikan sindiran agar politikus kita juga mau bertobat, seperti Sengkuni. Memang, seluruh perbuatan politik pun tak bisa hanya dipertanggungjawabkan secara politik dan demi kekuasaan. Politik harus dipertanggungjawabkan juga terhadap kehidupan, yang mau tak mau harus berhadapan dan berakhir dengan kematian dan akhirat. Untuk itu, siapa pun  Basis, Yogyakarta, Kurator Bentara Budaya  https://youtu.be/bD0aBLtxTEo

Kaligrafie SEMAR dengan aksara JAWA yang demikian indah sementara ini hanya hidup dan merasuk dalam sanubari para Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Belum terungkap siapa koreografernya, aksara demi aksara dari HA sampai NGA sambung menyambung menjadi gambaran Semar, Badranaya. Penjabaran masing-masing aksara dalam pupuh Dandhanggula oleh RM. Ng. MANGUNWIDJAJA mengandung tuntunan hidup manembah, eling, percaya dan mituhu kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi dalam SERAT KRIDASASTRA WINARDI.

Gusti Kang Murbeng Dumadi, ‘akarya jagad saisine’, Tuhan Maha Pencipta Jagad Raya seisinya baik yang nampak maupun yang tidak nampak, selalu menyapa, menuntun, menjaga dan juga mengarahkan agar terlaksana kehendak-Nya. MANUSIA Caraka, Duta, utusan Tuhan bukan hanya manusia ciptaan-Nya yang paling sempurna termasuk juga flora, fauna dan seluruh alam semesta, diutus menjadi wujud gambaran Tuhan yang sempurna. Mengenal, mengerti, nyumurupana (NYA) “MArang GAmbarane BA THAra NGAton” (MAGA BATHANGA). Ngaton artinya nampak tercipta di seluruh muka bumi, termasuk bencana alam yang seakan merusak, menghancurkan peri kehidupan, dibalik semuanya itu adalah karunia-NYA yang agung di kehidupan nanti. Karena itu masyarakat Jawa memahami sekali Hanacaraka Balik membaca Hanacaraka dari urutan terbelakang mulai aksara NGA. https://youtu.be/XfU4KfxBcVg

Membaca Caraka Balik dikenal sebagai Mantra Rajah Kalacakra dimaksudkan untuk mengusir Bathara Kala putra Bathara Guru dengan Bathari Durga yang bertugas memangsa manusia yang melintas ‘garise ngaurip’. Terbebaskannya mereka dari hukum alam ini dengan meruwat, membaca Rajah Kalacakra yaitu membaca Caraka Balik lengkap dengan laku tapa yang dipersyaratkan, biasanya dilaksanakan oleh Dalang Kandha Buwana. Membaca CARAKA Balik sangat sederhana dan dipercaya mampu menolak Balak, bala, gangguan, hambatan artinya mampu mengusir Bhatara KALA bukan dalam rarti memerangi, apalagi memusnahkan. https://youtu.be/s7BRHKQSP4A

HA NA CA RA KA; DA TA SA WA LA; PA DHA JA YA NYA; MA GA BA THA NGA

NGA THA BA GA MA; NYA YA JA DHA PA; LA WA SA TA DA; KA RA CA NA HA

Ucapan yang sederhana ini disempurnakan menjadi ungkapan semacam doa atau mantra yang dilakukan dengan cara membaca terbalik, maknanya upaya membalik keadaan, kondisi yang buruk menjadi baik, dan sifatnya menundukkan, bukan menyerang.

  1. YAMARAJA-JARAMAYA: siapa yang menyerang berbalik menjadi berbelas kasihan.
  2. YAMARANI-NIRAMAYA: siapa yang datang dengan niat buruk akan berbalik dan menjauhi.
  3. YASILAPA-PALASIYA: siapa yang membuat kelaparan berbalik memberi makan.
  4. YAMIRODA-DAROMIYA: siapa yang memaksa berbalik memberi kebebasan dan keleluasaan.
  5. YAMIDOSA-SADOMIYA: siapa yang berbuat dosa berbalik berbuat kebajikan.
  6. YADAYUDA-DAYUDAYA: siapa yang memerangi berbalik membawa damai.
  7. YASIYACA-CAYASIYA: siapa yang menyengsarakan berbalik membawa kesejahteraan.
  8. YASIHAMA-MAHASIYA: siapa yang berbuat merusak berbalik sayang dan memelihara.

Memahami maksud dan tujuan Caraka Balik, atau Rajah Kalacakra diatas nampaknya lebih dulu diajarkan Yesus ketika kotbah di bukit ‘Ucapan bahagia’ (Mat. 5: 3-12) yang diawali dengan  “Berbahagialah orang yang

  1. miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
  2. berdukacita, karena mereka akan dihibur.
  3. lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
  4. lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
  5. murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
  6. suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
  7. membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
  8. dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

https://youtu.be/D4q7MaRMDFo

KECEMPLUNG tidak ada unsur kemauan, kesengajaan diri sendiri melainkan diarahkan, digiring, didesak, dijebak agar terjerumus, terperosok, nyemplung kedalam lubang, luweng yang sudah disiapkan pihak lain. Terperosot, artinya mengalami keterpurukan, hidup dirasa tanpa harga diri, hidupnya (HA) serasa ditelanjangi (nglegena=NA) akibat kesalahan berpikir (Cipta=CA) yang tidak diolah dalam sanubari (Rasa=RA), kesusu, terburu-buru melaksanakannya (Karsa, karya=KA).

Kesalahan Berpikir dalam kelompok elite berpolitik yang marak nampak dalam diskusi ILC betapa indahnya argumentasi koruptor mengalihkan kesalahan pada KPK, menggunakan hak angket selaku pengawas, legislataif. Perkembangan IT, Media Sosial dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang belum menikmatkan kesejahteraan bisa melihat dan menilai betapa mereka yang mewakilinya bergelimang kemewahan dan merasa tidak salah, jauh dari rasa malu. Memayu Hayuning Bangsa semakin jauh terasa sejak demokrasi barat diberlakukan secara menyingpang. Pilkada dengan biaya negara maupun biaya pribadi semakin tinggi. Mengembalikan demokrasi barat dengan falsafah gotong royong, musyawarah dan mufakat perlu diteliti dan diterapkan kembali agar Garuda tidak terbang meninggalkan bangsa ini. Sumangga !!! Rahayu!!.  Ki Sardjito.-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s