HAMBEGING PAMONG PRAJA

ABIYASA, disebut juga RESI WIYASA eyang para Kurawa dan Pandhawa, dikisahkan menempati padepokan Wukir Retawu sekarang Gunung Muria, di Jawa Timur tidak jauh dari Gunung Brama (Brahma, Abraham) dataran tinggi Malang Selatan yang menyimpan prasasti Kerajaan Hastinapura. Sedangkan Alas Wanamerta terletak di Cileungsi Jawa Barat, hadiah Destarastra bagi Pandhawa dibangun Kerajaan Amartapura. Wukir Retawu berubah nama menjadi SAPTA ARGA yang dipercaya sebagai padepokan ABIYASA di Gunung Salak mendekati Amarta, Cileungsi.

BHARATA YUDHA, perebutan tachta Hastinapura antara Kurawa dan Pandhawa, menjadi acuan peradaban dunia. Bharata Yudha, Maha Bharata yang selama ini diklaim berasal dari India semakin dirasa sebagai penyesatan sejarah. Tokoh wayang yang hidup di Jawa dimuliakan di India sebagai Dewa. Sebutan Bathara Brama dan Bathari Sara bergesar menjadi Braham, Abraham, Ibrahim dan Dewi Sara menjadi Sarah, Sarai ibu Iskak.

Telah dilakukan penelitian bangunan candhi di luar Indonesia dilakukan arsitek dan tenaga ahli dari Jawa, yang dikenal tenaga ahli berambut ikal (keriting). Di India didirikan bangunan serupa Candhi Prambanan berdasarkan prasasti arsitektur Prambanan, menjawab teka-teki yang selama ini, bangunan Candhi tidak meniru India tetapi sebaliknya. Bukti lain adanya gugusan Candhi di Dhieng (Dhi-arDhi-gunung Hyang-Dewa) Wanasaba nama yang tidak berkonotasi Hindu atau Budha seperti Candhi Semar, Puntadewa, Bima, Hardjuna, Gatotkaca nama dalam pewayangan, termasuk gua Aswatama.

Sangat menarik bila Atlantik yang hilang hasil penelitian Prof. Arysio Nunes dos Santos (Brazil) dalam bukunya “Atlantis, The Lost Continent Finally” tetap berpegang teguh bahwa Atlantis adalah Indonesia, bukan yang lain, orang-orang Brazil mengklaim bahwa Atlantis adalah negeri mereka. Menyadarkan diri bukan bangsa yang tertinggal dalam peradaban.

EDEN IN THE EAST oleh Stephen Oppenheimer mengungkap Dewa yang dipuja oleh orang Atlantis adalah Dewa Baruna, diberi julukan “Dewa Air” atau “Dewa Laut”. Pulau Kalimantan dulu pernah dikenal dengan nama Warunapura atau tempatnya dewa Baruna zaman Majapahit disebut Baruné, kemudian sebagai Barunai, sebuah kerajaan yang sekarang dikenal dengan nama Brunei. Kolonial Belanda dan Inggris memberi nama pulau tersebut Borneo.

Dr Stephen Oppenheimer, ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris, ternyata PERADABAN DUNIA berawal dari Nusantara (Indonesia). Budaya Yunani kuno mengenal Herkules adalah identik dengan Batara Kala masing-masing adalah anak dewa tertinggi, Zeus dan Bathara Guru. Kelahiran mereka adalah tidak senonoh; Kala lahir dari nafsu Batara Guru pada Dewi Uma sementara Herkules adalah dari rayuan Zeus terhadap Alcmene. Batara Kala dan Herkules keduanya memiliki nafsu yang tak terpuaskan, dan sifat yang sangat kasar, brutal dan keras di sepanjang hidup mereka. Solon menterjemahkan “Kala” sebagai “Herkules”.

“Tahapan Pilkada Serentak 2018 Dimulai, Ini Jadwal Lengkapnya”, Artikel ini telah tayang di Kompas.com, oleh Estu Suryowati. Adapun pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Serentak 2018 sendiri akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018. Sedangkan rekapitulasi akan dilaksanakan pada 28 Juni 2018. Meskipun pemilu legislatif dan pemilu presiden baru digelar tahun depan, 2019, tetapi tahun ini layak disebut tahun politik. Pada 2018 ini digelar pilkada serentak di 171 daerah: 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Itu sama dengan 36% jumlah provinsi dan kabupaten/kota.

Gemuruh Pilkada serentak seolah perang Bharata Yudha memperebutkan tachta, melupakan arti kepemimpinan, pamong praja yang memberi suri teladan mencapai kemakmuran sebagai sarana kesejahteran masyarakat di setiap tingkat. Pertarungan biaya pilkada lebih dominan dibanding sifat, ‘Hambeging Narendra Tama’. Tidak terjadi sinkroniasasi dalam diri para pemimpin bekal Cipta, Rasa dan Karsanya, kecenderungan umumnya lebih membenarkan diri sendiri (ego), meninggalkan kodrat ‘rasa welas asih’ terhadap sesama. Mengasihi sesama bukan dalam arti sempit ‘sesama manusia’ tetapi ‘sesama mahluk ciptaan’ seluruhnya termasuk flora fauna dan buwana, bawana alam semesta, seperti termaktub dan menjadi harapan dalam sila kedua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.

Menebang, bahkan lebih tepat disebut merusak pohon-pohon besar, menghancurkan tempat bersemedi, dianggap tempat pemujaan berhala (animisme) terpengaruh ajaran agama luar yang masuk dibarengi penggundulan hutan, berakibat tanah longsor dan banjir di mana-mana  hingga saat ini. Berburu Elang dan Ular berarti membunuh pemangsa tikus berakibat hama padi, solusi membuat racun tikus berakibat tanah kekurangan hara, panen gagal. Pantaskah Departemen Pertanian dipersalahkan, bila import beras, kedelai hasil pertanian termasuk garam diprioritaskan?

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (Mat. 5:13-14) Pemimpin seumpama terang yang mencerdaskan kehidupan masyarakat bangsa sekaligus Garam memberikan rasa asin, mengenakkan, ‘Amemangun karya nak tyasing sasami’ masyarakat Wedhatama. 

Ajaran Hasta Brata, delapan dasar kepemimpinan yang diajarkan dalam Ramayana maupun Mahabharata tidak memperoleh perhatian. Watak, hambeging seorang pemimpin hendaknya meneladan sifat alam semesta “surya(matahari), candra (rembulan), kartika (bintang), mega (awan), bantala (bumi), samudra (air), hagni (api) dan maruta (angin)”. https://youtu.be/icT1lhQN8zw    Susisardjito’blog

Sudah jauh ditinggalkan usaha mengecap, memetik, merenungkan makna Bharata Yudha, pemahaman hanya sebatas perang membela kebenaran dan memetik “karma”, unduhan tiap perebuatan. Resi Bisma gugur oleh Srikandi, Resi Dorna oleh Dustajumena, Gatotkaca oleh Karna (Basusena) demikian juga Karna gugur oleh Harjuna adik kandungnya. Kurawa dan Pandhawa saudara tunggal Kakek saling bunuh memperebutkan harta dan kekuasaan duniawi, bukan saling mengendalikan untuk  mencapai hidup yang sempurna melainkan seumpama pilkada serentak nanti.

Makna terkandung dalam Bharata Yudha adalah pencapaian “MATI SEMPURNA” setelah “dilahirkan sempurna” dan menikmati “hidup sempurna”. Lahir sempurna artinya merasakan, menikmati, menyadari hidup penuh kenikmatan berbekal kelengkapan anggota tubuh, lima indera dan TIGA JIWA Cipta, Rasa dan Karsa. Hidup sempurna adalah tekad, usaha, keuletan mencapai kautaman urip, keutamaan hidup “Wirya (drajad, pangkat, semat), Arta (kekayaan, kesejahteraan) dan Winasis (kepandaian, intelektualitas)”. Serat Wedatama, KGPAA Sri Mangkunegara IV, Bait ke-29, pupuh Sinom; Bonggan kan tan merlokena, Mungguh ugering ngaurip, Uripe lan tripakara, Wirya, Arta tri Winasis, Kalamun kongsi sepi, Saka wilangan tetelu, Telas tilasing janma, Aji godhong jati aking, Temah papa papariman ngulandara.

Sampurnaning Pati adalah pengendalian semua bekal tubuh materiil (Sampurnaning Lahir) yang dilimputi keempat hawa nafsu khususnya menuju hal-hal yang bersifat spirituil. Mengerti Sangkaning Dumadi (Sastra Jendra) dan mengetahui Paraning Dumadi (Bharata Yudha). Tan samar pamoring Sukma, sinukmaya winahya ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, Pambukaning warana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati    http://kijeromartani.blogspot.co.id/2007/11/olah-bathin.html

KURAWA terdiri dari 99 laki-laki gambaran 99 watak sikap DUR (ingkar, mengingkari, berbalik) dan satu-satunya wanita adalah Dewi Dursilawati. Mengatakan hampir 99% sifat manusia mengandung unsur DUR tetapi tetap ada satu-satunya kesucian pengendali semua itu, pengendali diri. Para Sesepuh menyebut seluruh bagian tubuh bagian bawah leher (gembung) adalah Kurawa sedang tubuh bagian atas leher (kepala, endas), pensuply, pengatur kebutuhan Kurawa adalah Pandhawa.

Gembung, tubuh manusia bersifat konsumtif artinya kehidupannya tergantung pada endase, kepala yang berpikir melalui otak, menangkap masukan pancaindera mengolah dalam tiga jiwa CIPTA, RASA dan KARSA. Dengan demikian dapat dimengerti seluruh bentuk wayang dalam Mahabharata, Kurawa dan Pandhawa adalah gambaran anatomi tubuh manusia,  sedangkan Jiwa yang tak berwujud digambarkan Kresna (Cipta), Sumbadra (Rasa) dan Baladewa (Karsa). Ketiganya berada dalam lingkaran Pandhawa, meski secara wadag Baladewa bersama Kurawa, dalam arti pewujud karsa, minat, keinginan, angan-angan.

Panca indera, adalah jendela yang menghubungkan obyek alam sekitar apapun yang terlihat, terdengar, tercium, terkecap dan dirasa nikmat dengan Jiwa Cipta, menjadi database dan tersimpan dalam otak secara permanent. Jiwa Cipta mencari persamaan ataupun perbedaan obyek yang masuk panca indera dengan database yang dimiliki. Terjadi interaksi timbal balik, saling tarik-menarik panca indera dengan ketiga jiwa dengan kecepatan tinggi di atas kecepatan cahaya 300.000 km per detik yang dewasa ini dikenal sebagai Law of Attrachtif (hukum tarik menarik). Proses panjang ini melalui pancaindera dikirim kedalam otak diolah dalam cipta dan rasa buruk dan baiknya untuk dilaksanakan, sehingga salah bila dikatakan berpikir dengan otak, menyimpang, menyesatkan yang benar berpikir melalui otak.    Cara Memaksimalkan kekuatan Pikiran dan Mata Hati

PIKIRAN BAWAH SADAR adalah kekuatan yang luar biasa memiliki frekuensi, gelombang, getaran ruang dan waktu. Teristimewa Pikiran Bawah Sadar (Cipta) mampu mewujudkan dirinya ke dalam bentuk fisik. Sifat pikiran bawah sadar selalu positif; present tense-aktual-terkini; pribadi; persisten (pengulangan), semestinya prosentase negatif thinking lebih kecil (?). Terdapat sekitar 60 trilyun sel dalam otak menurut Hiromi Sinya, jumlah sangat mengagumkan, sehingga setiap hari melalui panca indera berkelibat 60.000 pikiran. Semuanya harus dikendalikan oleh cipta (pikiran bawah sadar) dan rasa, termasuk pengaruh pikiran positif maupun negatif orang lain. Charles Hendry meneliti kecepatan pikiran adalah 30 bilyun km/detik, lebih cepat dari kecepatan cahaya, hanya 300.000 km/detik.

Mitologi Yunani mengidentifikasi Zeus dan Hera dengan Bathara Guru dan Bathari Durga di Jawa, gambaran sifat dan sikap yang sama di belahan bumi yang berbeda masa itu menunjuk berlakunya Law of Attraction. Lebih dalam penggambaran CIPTA dengan pewayangan Prabu Kresna, Whisnu ada pula yang mengidentifikasikan dengan Kristus, KARSA diwujudkan sebagai Prabu Baladewa penyelenggara, pewujud angan-angan dan RASA dalam pewayangan Rara Ireng, Dewi Sembadra traju Apik dan Ala dengan senyum dan semua kelebihannya. Di India ketiganya dipersonifikasikan sebagai Dewa dan Dewi, menjadi dasar pijakan Stephen Oppenheimer ahli genetika dan struktur DNA manusia penulis Eden in the East menyebut penduduk Nusantara dari Papua sampai Aceh ber DNA dewa.

Abimanyu putra Arjuna dengan Sembadra berputera Parikesit, berputera Prabu Yudhayana, berputera Prabu Gendrayana tidak dipercaya meneruskan tachta Astina digantikan oleh RADEN SUDARSONO, putra Prabu Yudhayana dengan Dewi Sadu Putri Resi Manik Sidi,  dipercaya menurunkan raja Majapahit sampai Surakarta dan Jogyakarta. “Tan hana dharma mangrwa” dan Bhineka Tunggal Eka yang dicanangkan saat itu sebagai landasan berpikir NKRI dan Pancasila sebagai Dasar Negara. Perlu diingat pernah terjadi “SESAT PIKIR, samakan Pancasila sebagai Pilar”, Harry Tjan Silalahi SH. dalam Kompas 12/04/2013. https://nakulasahadewa.wordpress.com/2014/09/25/babat-tanah-jawi/

Meresahkan berita keruntuhan Indonesia kedepan, tidak lepas dari Skenario Besar tentang lenyapnya Pakistan dan Indonesia hendaknya menjadi “TANTANGAN” yang harus dihadapi bukan ditakuti. Sejak sebelum reformasi rencana ini dimunculkan, namun tertunda terus hanya oleh pertanyaan “bila dibubarkan, siapa yang membayar utang Indonesia kepada World Bank, IMF?”. Demikian juga terbantainya niat menguasai dunia sepertinya undian bila “memenangkan persaingan memimpin dunia, maka mereka akan ajak Jawa menjadi rekanan kerja. Kalau Jawa yang ‘juara’ mereka akan berguru kepada Jawa”. Ahmad Yanuana Samantho Juli 7, 2016 in Atlantis Sunda Land

Kekawatiran apalagi ketakutan calon pemimpin masyarakat dari tingkat Kabupaten sampai Presiden menghadapi tantangan ini berarti SESAT PIKIR. Kesatuan dan Persatuan nasional mampu mengusir penjajah meski tanpa senjata, hanya mengandalkan ke-BHINEKA-an bangsa yang ber-DNA Dewa mengedepankan TUNGGAL EKA. Setiap Pamong Praja harus betul-betul memahami falsafah HASTA BRATA, berdasarkan Pancasila “membangun negara seluas desa”. Artinya bila tiap desa sejahtera, maka kecamatan sejahtera, selanjutnya kabupaten sejahtera, propinsi makin sejahtera dan NEGARA “Tata, Tentrem Kerta tur Raharja”.

Lesung Jumengglung karya Ki Narto Sabdo. Merdunya suara Lesung Jumengglung, menumbuk padi hasil panen petani yang memperoleh bibit unggul dan pupuk yang sesuai, contoh pengelolaan hasil bumi yang beraneka ragam sayur dan buah-buahan, tanaman yang menyehatkan semuanya ada disini. Bumi yang berwatak sabar, penuh belas-kasih dan menyempurnakan sebulir padi menjadi untaian padi yang bekelimpahan. Hendaknya menjadi tauladan Pamong Praja “ngurip-urip barang kang urip” termasuk warga masyarakatnya bersatu dan menyatu dengan pamong.  Betapa bangga rasa hati ini melihat Padi yang ‘Ijo Royo-Royo’ tertiup angin sumilir gambaran kerukunan warga ayem-tentrem yang berkembang makin besar, menguning seperti untaian padi.  (Nyiur Hijau)

Sudah ada banyak ilmuwan berdasar keilmuwan mereka mengatakan Indonesia tempat lahirnya peradaban dunia, bukan bangsa kerdil. Dalam syair Ramayana (India), berbahasa Sanskerta (150 M): “Yavadwipa matikramya sisiro nama parwatah, diwam sprasati srngena Dewa danawasevitah” (Di ujung Nusantara, berdiri gunung Sisira, yang puncaknya bersalju menyaput langit, dikunjungi oleh para dewa dan danawa). BANGKIT dan BERDIRILAH dengan Gagah Perkasa menyambut TANTANGAN selayaknya Wanita/Satria Sejati yang Bijaksana dan Penuh Kuasa untuk menghapus (Nyirnaake) perbuatan yang sesat (LUPUT, tumindak ingkang Luput). 

Sumangga!!, Rahayu! Ki Sardjito.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s