NGUNDHUH WOHING PAKARTI

SANG HYANG WENANG, Sang Hyang Wening mencipta telur pecah menjadi 3 bagian, kulit, putih dan kuning telur, ketiganya melayang-layang. Cangkang disabda menjadi Sang Hyang Antiga, Teja Mantri dikenal sebagai TOGOG, putih telur disabda menjadi Sang Hyang Ismaya, SEMAR sedangkan kuning telur disabda menjadi Sang Hyang Manik Maya, BATHARA GURU berparas sangat tampan, bertangan empat, pemimpin para dewa. Bathara Guru berkuasa, memberi kuasa dan kewenangan, membagi karunia berupa pusaka, kesaktian atau hukuman kedalam kawah candradimuka, neraka kepada semua titah, mahluk dibumi.

SANG HYANG ANTIGA suka meniru kebiasaan Sang Hyang Wening menyabda, mencipta sesuatu dan karena berlatar belakang kulit (cangkang) terjadi banyak kesalahan, bersabda hanya sebatas kulit, lamis maka terciptalah para lelembut jumlahnya sangat banyak, untuk itu oleh Sang Hyang Wening diciptakan Kahyangan Setra Gandalayu untuk kediaman para lelembut. Kebijakan Sang Hyang Wenang menurunkan Sang Hyang Antiga (Togog) kebumi menjadi utusan (CARAKA) mendampingi Ratu Buta, Raksaksa, Ratu Sabrangan, yang selalu berseberangan dengan hal-hal kebaikan. Kurawa wangsa Kuru, Keluarga Baratha tidak masuk dalam kategori ratu sabrangan meski melakukan banyak perbuatan yang bersifat DUR. (Agung Bimo & Timmy Hartadi  https://www.facebook.com/notes/wayang-nusantara-indonesian-shadow-puppets/jagad-gumelar-1-awalnya-kahyangan/444686471109/)

Sebaliknya SANG HYANG ISMAYA diutus mengasuh para ksatria keturunan Brahma yang mengutamakan dharma, kebaikan, hamemayu hayuning bawana. Kemampuannya mengatasi Togog dan Bathara Guru (SANG HYANG MANIKMAYA) yang diberi kekuasaan atas Suralaya, Kahyangan Jonggring Salaka, Kahyangan Manik Maninten membawahi para dewa dan putra-putri mereka. Ketiganya menerima Sabda Sang Hyang Wenang demikian juga semua titah madyapada tidak dapat mengelak, DATASAWALA, ‘saderma nglakoni’.

Peristiwa turunnya Togog dan Semar ke bumi, memaknai perutusan mereka secara khusus mengawasi, mengawal kecenderungan positif, baik dan sebaliknya. TOGOG memantulkan sinar (Teja) yang menyinari alam semesta sehingga teretangkap jelas dalam mata, tidak mengalami kegelapan (tan-samar=Semar). Togog berwenang mengirimkannya pantulan sinar kedalam mata, kornea mata (Manikmaya) atau menutupinya. YESUS dalam perumpamaan Pokok Anggur memiliki ranting, ‘ranting yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah’. Dunia tercipta dalam dua sisi berlawanan, baik-buruk, padhang-peteng, benar-salah dan seterusnya. Kegelapan, membuat semua hal menjadi tidak jelas, artinya kebaikan tersamar, tertutup oleh kendali, ulah Togog menutup mata (merem) dengan mengerahkan lelembut ciptaannya. Ketiganya menerima perutusan Sang Hyang Wenang tidak ada yang berhak mengelak (DATASAWALA) dilakukan dengan sepenuh hati, totalitas, setia, termasuk para jin, setan, iblis ciptaan TOGOG.

“Dalam putusan, majelis hakim menganggap perbuatan Novanto memenuhi unsur menguntungkan diri sendiri, merugikan keuangan negara, menyalahgunakan wewenang, dan dilakukan bersama-sama pihak lain dalam proyek e-KTP. Novanto dianggap memperkaya diri sendiri sebanyak 7,3 juta dollar AS atau sekitar Rp 71 miliar (kurs tahun 2010) dari proyek pengadaan e-KTP”. Kompas.com dengan judul “Setya Novanto Divonis 15 Tahun Penjara”, https://nasional.kompas.com/read/2018/04/24/14032151/setya-novanto-divonis-15-tahun-penjara.

Novanto dianggap memperkaya diri’ dalam cipta dan rasa-nya telah terbias magnit negatif yang dengan kuatnya menarik sekelompok pelaku lain dalam lingkaran yang sama. Sehingga dalam karsa-nya dilakukan bersama-sama memudahkan pelaksanaan. TOGOG dengan pasukan lelembutnya berperan begitu kuat dan Novanto tidak mampu lagi mengelak, Datan Suwala (DATASAWALA) sampai vonis dijatuhkan.

Catatan Perbankan jadi Bukti Novanto Terima Uang KTP-el. ‘Jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan ada aliran dana korupsi KTP elektronik (KTP-el) untuk Ketua DPR RI Setya Novanto. Hal itu terbukti melalui catatan perbankan’. Apa yang terungkap, dikatakan dalam persidangan perlu bukti fisik yang nampak, tertulis artinya dapat dilihat dengan MATA.

Mata adalah organ tubuh yang berfungsi untuk penglihatan. Dalam beberapa hal, fungsi kerja mata mirip dengan kamera digital, sistem optik. Mata organ bentuk bola, cahaya perlu masuk dari ujung depan bola mata, akan melewati serangkaian struktur pada mata. Di dalam mata terdapat lensa, berfungsi untuk memfokuskan cahaya, tujuannya agar penglihatan tajam. Sedangkan di bagian ujung belakang bola mata, terdapat sekumpulan saraf penglihatan (disebut saraf optik) yang berfungsi untuk mengirimkan informasi penglihatan ini ke otak, agar kita dapat menerjemahkan dengan baik benda apa yang kita lihat. Fungsi mata yang secara biologi, kesehatan mata dijelaskan oleh Ken Pandu Negara dalam tulisannya “17 Bagian-Bagian Mata dan Fungsinya” begitu komplek, jelas dan terperinci. http://www.ebiologi.net/2016/05/bagian-bagian-mata-dan-fungsinya.html

Dalam spiritual JAWA, mata yang nampak terdiri dari Kelopak Mata, Putih Mata dan  Hitam Mata. Ketiganya ditempati dewa Togog, Semar dan Bathara Guru. Persoalan menjadi rancu ketika Togog mendominasi mata, artinya menutup kelopak mata sehingga Manikmaya maupun Ismaya tidak mampu berfungsi dengan baik dan benar karena tidak memperoleh sinar, pantulan cahaya (Teja) kedalam mata, terjadi kegelapan. Hardjuna (Indera mata) dikisahkan selalu terbuka dan tekun malakukan tapa, matiraga untuk mendalami ilmu ‘Pengetahuan tentang kebenaran’ dapat tercapai karena mau dan mampu membuka mata. Dengan menutup mata atau akibat kebutaan pengetahuan seseorang terbatas, sangat tergantung pada keempat indera lain yang normal.

Dalam pewayangan dikisahkan Dewi Hanggendari menutup mata selamanya setelah menikah dengan Destarastra yang lahir buta. Destarastra memetik karma ibunya Dewi Ambika yang menutup mata ketika berhubungan dengan Begawan Abiyasa. Pendidikan Kurawa tergantung sepenuhnya pada Harya Soman yang dikenal sebagai SENGKUNI (Saka=dari; Uni=ucapan, yang didengar, sa-uni-ne). Pendangkalan dan penyesatan berpikir akibat UNI (katanya) bujukan Sengkuni pada Kurawa mendarah-daging. Kekayaan Amarta warisan Prabu Pandhu Dewanata dihamburkan, dikorupsi habis-habisan. Semua ini akibat kelopak mata dipejamkan (micek), sikap Dewi Hanggendari yang kecewa tidak diperistri Pandhu tetapi Destarastra yang buta, dengan dalih ‘merasa sepenanggungan terhadap suaminya’ menutup kedua matanya dalam arti lebih mendalam tidak mau tahu, masa bodoh yang penting Kurawa menguasai kekayaan Amarta.

Melihat keindahan, kerukunan, kesejahteraan adalah harapan setiap orang, semua itu BENAR karena dapat dilihat, dapat dibuktikan. “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1Tim: 2,4) Memejamkan mata adalah kehendak bebas dan dapat dilakukan setiap saat, sementara seseorang menutup mata, ‘tidak mau tahu’  (micek) apalagi selamanya tidak benar. Sisi negatif yang diperoleh adalah tidak memperoleh pengetahuan kebenaran, ‘bener sejatine bener’ – tersesat.

Efek ulah Togog tidak berhenti disitu, akibat tidak memperoleh pengetahuan kebenaran, seseorang akan berbicara dengan lantang hanya sekitar yang diperolehnya yang dianggap benar, ‘benere dhewe’. Merekayasa data untuk pembenar ungkapannya, menciptakan opini melalui media sosial dan atau apapun termasuk lembaga survey dengan sampel yang terbatas untuk meningkatkan elektabilitas seseorang. ANALISIS BIJAK PROF MAHFUD MD, ILC 3 APRIL 2018 seolah melerai kebenaran demi kebenaran (benere dhewe) dua pihak berselisih seolah musuh bebuyutan seperti Togog dan Semar. Kurang menyentuh kepentingan masyarakat secara luas, seolah demi kepentingan elite semata, sudah saatnya berpelukan. https://www.youtube.com/watch?v=pD6AELtA4hE

“DUmadining dzat kang tanpa winangenan – TAtas, tutus, titis, titi lan wibawa – SIfat ingsun handulu sifatullah – WUjud hana tan kena kinira –LIr handaya paseban jati” (DA TA SA WA LA). Menyirat, DZAT Tuhan yang tidak terbatas mencipta dunia seisinya TATAS (sempurna), tutus, titis, titi penuh wibawa. Manusia ciptaan paling sempurna seharusnya meneladan (handulu) sifat Tuhan (sifatullah). Wujud (wadhag) manusia terbatas namun implikasi ilmunya bisa tanpa batas. Selaku titah hidup mengalir semata pada tuntunan Illahi, tidak bisa mengelak.https://www.youtube.com/watch?v=8FaqNLvarOg

Seumpama ranting menghasilkan buah yang kebat kalau tetap menempel pada pokoknya, pokok kebaikan, pokok kebenaran. Hidup manusia makin bernilai bila mampu memberikan buah kebaikan, penuh rasa welas asih terhadap sesama, menanam kebaikan tentu akan menuai kebaikan. Ranting-ranting Eksekutif selayaknya menghasilkan buah kepemimpinan yang baik dan lebat demikian juga ranting Yudikatif menghasilkan buah keadilan yang adil seadil-adilnya, bukan hukuman (punishment) semata demikian juga Ranting Legislatif wakil rakyat hendaknya berbuah perundang-undangan yang memihak masyarakat bukan kepentingan Freeport. Menyimpang dari Pokok Pengetahuan akan Kebenaran berdampak keberpihakan pada pengusaha meninggalkan kesejateraan masyarakat, bentuk lain penjajahan konstitusional. https://www.youtube.com/watch?v=8FaqNLvarOg

Menyadari “SIfat ingsun handulu sifatullah”, berbelaskasih, welas asih saling mengasihi, rela mengampuni kesalahan orang lain, meneladan “laku utama” Panembahan Senopati, ‘amemangun karya ‘nak tyasing sasami’. ‘Wakil Rakyat’ selayaknya membicarakan usaha membahagiakan kehidupan masyarakat bukan dan jangan mewakili kesejahteraan masyakat lebih-lebih sebagai ketua, artinya pemimpin, rajanya wakil rakyat. Berbekal Hasta Bratha meneladani sikap surya, candra, kartika, mega, bumi, banyu, geni dan angin WAJIB bagi setiap pemimpin tingkat manapun sebagai Presiden, Gubernur, Bupati, Camat sampai Kepala Desa. https://youtu.be/8FaqNLvarOg

SUCI ing Pamrih, rame ing gawe sering diplesetkan dengan SEPI ing pamrih. Semua gerak, ulah yang digetarkan pancaindera dan diolah dalam CIPTA, RASA dan KARSA tidak akan sepi ini pamrih hasil cipta, rasa dan karsa selalu rame ing pamrih. Melihat pagelaran konsert musik atau Wayang orang, mendengar lagu yang lembut, mengecap, meraba, mencium keharuman semuanya membangkitkan minat, keinginan, pamrih. Pamrih diukur bukan berdasarkan benar atau salah, baik atau sebaliknya tetapi dengan dasar latar belakang kesucian hati atau keculasan hati. Kesalahan yang diucapkan berulang-ulang, secara konsisten lambat laun akan diberi pembenaran, dianggap benar. Sepi seolah disejajarkan dengan Suci, fiktif disejajarkan dengan fiksi dan masih banyak lagi, psikologi penyesatan penjajahan. Termasuk adu domba kebudayaan sejak 350 tahun yang lalu antar suku bangsa Jawa-Sunda sampai masa kini, sehingga peluncurkan gerakan perdamaian “KEBUDAYAAN: Tiga Gubernur Upayakan Harmoni Sunda dan Jawa”, (Selasa, 6 Mar 2018). Revolusi mental hendaknya diarahkan ke hal-hal tersebut, sehingga masyarakat terbawa pada BERPIKIR BENAR menghancurkan penyesatan penjajah masa lalu. Sumanga!!. Rahayu!. Ki-Sardjito.-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s