PADHANG JAGADE

Wong JAWA yen dipangku MATI’ artinya Orang JAWA kalau dipangku tidak sama  kuat (PADHA), tidak memiliki keJAYAan lagi. Wong Jawa memiliki AKSARA (hidup, bersuara) bukan abjad (huruf mati), seperti ABC – XYZ. Aksara JAWA RA misalnya untuk dibaca R harus dipangku, dimatikan diberi sandhangan PANGKON. Memaknai friksi penulisan aksara ini timbul pemahaman yang menjadi falsafah bersikap dengan meninggikan, mengedepankan, memuliakan, menimang (mangku) wong JAWA akan MATI, cara efektif menundukkan, mengendalikannya. Hal ini nampak dalam usaha penjajah membelokkan (ngiset) kata SUCI menjadi SEPI dalam pepatuh ‘SEPI ING PAMRIH, RAME ING GAWE”. Dengan kata SEPI mereka menyanjung bahwa orang Jawa membelakangkan pamrih lebih mengedepankan RAME nyambut gawe, tak peduli berapapun gajinya. Tujuan memperbudak (mburuhke) bangsa Indonesia seperti perbudakan di Eropa dan sekitarnya masa lalu. Nuansa itu masih tersisa saat ini dengan sebutan BURUH Lokal vs TKA.

Ng. MANGUNWIDJAJA, telah memahani kemanunggalan Gusti dengan Kawula, dalam serat Krida Sastra Winardi menjabarkan aksara Hanacaraka, Datasawala, Padhajayanya, Magabathanga berupa sanepanHANANING CIPTA RASA KARSA, DATAN SALAH WAHYANING LAMPAH,  PADHANG JAGADE YEN NYUMURUPANA, MARANG GAMBARANING BATHARA NGATON.

Mengawali “Padhang Jagade Yen Nyumurupana” agar sanepan tersebut lebih mudah dipahami, dimengerti perlu membahas lebih dulu sanepan terakhir “MAGA BATHANGA”. Marang gambaraning Bathara ngaton. https://www.youtube.com/watch?v=etZRC-O9KAw&t=45s Semar Ismaya

Nyumurupi, mengerti marang Gambaraning (MA GA), perwujudan, karakteristik para Dewa (Bathara) ciptaan yang tak tampak (‘tan kasat mata’) tak berwujud. Dalam pewayangan Hindia, para Dewa dilukiskan dengan sangat agung disertai gambar binatang atau pusaka sebagai ciri khas. Budaya JAWA melukiskan dalam bentuk wayang kulit dengan nama sesuai perwujudan dan kewenangan masing-masing.

Bathara (BA THA-ra) gelar, sebutan, Dewa kedudukan dan kewenangannya mengatur pergerakan alam semesta, matahari, bulan, air, angin, termasuk pohon besar, gua, gunung dipercaya ditempatkan penjaga (penunggu). Dalam kebudayaan atau adat-istiadat tertentu mereka dipuji, dipuja dengan bermacam-macam sesaji sebagai ungkapan terima kasih atas pangreksa mereka. Dalam kepercayaan Mesir Kuna, Roma Kuna dan Yunani dikenal nama-nama dewa Zeus, Hera, Poseidon, Venus, Bathara Guru, Dewi Uma, Bathara Kala. Bathara Surya, Dewa Ra yang berwenang atas matahari, untuk mereka dipersembahkan sesaji, pemberi sesaji ini dikategorikan animisme oleh agama-agama yang muncul di kemudian.

Ngaton (NGA) nampak, mewujudkan diri dan dapat tertangkap INDERA MATA, nyata dalam wujud alam semesta. Bathara Surya (matahari), Bathara Candra (bulan), Bathara Kartika (bintang), Bathara Brama (api), Bathara Indra (mega, hujan). Dewa-dewa ini bersifat adil terhadap MANUSIA (Jagad Alit) ciptaan paling sempurna. Dikatakan demikian karena sifat dan watak Jagad Gede tadi seluruhnya terkandung dalam diri manusia artinya di dalam diri manusia terkandung sifat Matahari yang mampu menerangi, ‘paring pepadhang’ kepada orang lain yang mengalami kegelapan, memiliki Sipat Apikemarahan, semangat berkobar meraih cita-cita, menghangatkan dan memanaskan suasana perdebatan. Sifat Air mengalir terus kebawah, mencari tempat terrendah mencapai permukaan yang sama, rata adil, memberi kehidupan tanaman dan semua machluk hidup, Sifat Angin disebut Hawa, Ruah, Roh NAFAS memberi hidup bergerak kesegala arah sampai relung-relung tersempit, memberi kesegaran yang kepanasan dan Sifat Bumi sabar, diinjak-injak tidak marah kuat menahan beban seberat samodra, gunung-gemunung, dicangkul tidak marah bahkan memberi pengampunan menyuburkan (dhangir) tumbuhan, memberi hasil tambang yang banyak diperebutkan.

PADHANG JAGADE YEN NYUMURUPANA” Nyumurupana artinya memahami, menyerap sifat, watak alam semesta diatas bukan sekedar melihat dengan mata kepala. Mata terutama, sebagai jendela tubuh, menyajikan semua keindahan isi JAGAD GEDE dengan terang benderang, tidak dimiliki mereka yang cacat mata dalam arti buta mereka sangat tergantung pada pendengaran empat indera lainnya. Didalam pewayangan mata diwujudkan sebagai HARDJUNA (HAR=HER – air, manik, manik maya) mampu ‘madhangi’ kegelapan keluarga Amarta maupun Hastinapura, memberi solusi sampai berperang, adu kekuatan. Dalam ‘Ngundhuh Wonghing Pakarti’ dibahas MATA dikendalikan dewa utama, Sang Hyang Tejamantri, Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya.

PADHAJAYANYA terjadi adu kekuatan, kekuatan antar negara, antar kelompok politik, kepentingan ekonomi, perebutan kekuasaan, Pilkada serentak maupun Pilpres. Dalam pewayangan adu kekuatan antara Sang Hyang Tejamantri (negatif thinking) dan Sang Hyang Ismaya (positif thinking) tanpa henti. Pertempuran meperebutkan baik dan buruk, padhang-peteng. Togog (kelopak mata) dan Semar (ISi MAYA-maya tersamar, putih mata) penguasa mata pemegang kunci jendela batin, dalam usaha membuka Pintu Batin, PINTU KETIGA.

Baik dan buruk hasil olah pikir (Cipta, Rasa dan Karsa) tergantung masukan yang ditangkap panca indera, utamanya mata. Dalam pewayangan kekuatan Togog dan Semar berimbang tidak ada yang kalah atau menang, peperangan, adu kekuatan mereka hanya terjadi dalam pikiran manusia. Perebutan antara Benar dan Salah. Aku, INGSUN setiap manusia dikaruniai, KUASA, Kekuatan Setingkat Dewa. Mampu mengatur Togog (kelopak mata, melek-merem) yang selalu menyajikan gambaran tersamar hitam-putih melalui Manikmaya kepada ketiga Jiwa Cipta, Rasa dan Karsa. Dijelaskan dalam Kitab Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan”, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah”.

Manusia berkuasa atas semua tumbuh-tumbuhan, binatang melata, binatang dalam air dan binatang di udara termasuk dewa dan lelembut. “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! (Mat. 4:10). Kekuasaan ini belum dipahami orang kebanyakan, hal ini nampak dari perilaku mereka dalam usaha memperoleh harta duniawi. Banyak orang minta pertolongan mereka dengan berbagai cara, termasuk untuk menduduki kursi kekuasaan, kursi perwakilan dan juga jabatan-jabatan yang menjanjikan kemakmuran, kekayaan. Akhir-akhir ini cukup ramai menjelang pilkada nanti, melalui mereka orang (wong) tidak segan mencari ajimat, ‘sipat kandel’ dengan berbagai laku tapa.

Rebut Kikis Tunggarana antara Suteja dan Gatotkaca mencari batas wilayah kebenaran, menimbulkan percekcokan tiada henti, keduanya memiliki kesaktian yang sama, tidak ada kalah dan menang, Padhajayanya. Peristiwa lain perebutan “senapati” Bharata Yudha, Prabu Bomanarakasura dikalahkan Gatotkaca. Karena putra Bathari Pertiwi, istri Prabu Kresna titisan Wisnu, memiliki DNA Dewa ini, memiliki kesaktian yang luar biasa, ingin berbakti pada Pandhawa sebagai senopati Bharata Yudha. Sudah ditentukan Bharata Yudha tidak boleh mengikutsertakan keturunan langsung Dewa termasuk Antareja, Antasena dan Wisanggeni, ditentukan hanya para ksatria ‘keturunan manusia’ saja dibolehkan, Kurawa dan Pandhawa, Wangsa Bharata.

Perdebatan yang cukup panas banyak terjadi di forum ILC, banyak data diungkapkan oleh masing-masing pihak yang saling tolak-menolak. Percecokan dalam tataran setingkat lawyer, intelektual, masih dalam tataran ‘manusia biasa’ sedangkan percekcokan tataran tingkat ‘dewa’ (cq. Dewan), jarang didengar bahkan tidak pernah ditampilkan. Pembahasan dilingkup ini dikategorikan tertutup, terbatas tidak bocor sebelum jadi undang-undang, termasuk undang-undang terorisme yang belum tergarap sejak 2016. Dengar pendapat, kunjungan kerja, investigasi ke daerah dan juga pada para investor, termasuk pengusaha besar yang ingin undang-undang “merokok bisa membunuhmu” dibicarakan seakan berbisik. http://www.utamakankesehatan.com/2017/11/30-khasiat-dan-manfaat-tembakau-yang.html

Masalah yang lebih mendalam dan rumit ‘undang-undang ketenagakerjaan’ telah dibuat persyaratan Tenaga Kerja Asing adalah tenaga kerja ahli (bukan buruh) yang diharapkan secara bertahap melakukan alih tehnologi, alih keahlian seolah-olah lenyap. Bahkan banyak diupayakan keputusan baru untuk mencabutnya, melemahkan, agar mempermudah masuknya investor membawa serta buruh asing (TKA?) melalui Perpres dan/atau Permen demi kepentingan investor. Sudah cukup banyak buruh Cina masuk Indonesia https://properti.kompas.com/read/2018/04/27/120000221/70-pekerja-china-garap-terowongan-tol-cisumdawu di Sumedang. Diskusi soal Buruh Lokal vs TKA “Mayday, Mayday, Mayday!” dalam forum ILC mengungkap perebutan kebenaran, menteri menolak melimpahnya buruh China berdasar laporan bawahannya, laporan ABS sementara data riil di lapangan tidak dicermati sungguh-sungguh. ‘BENERE DHEWE, DHEWE’, Padhajayanya. https://www.youtube.com/watch?v=GFRLpGiIhz

Mengamati perdebatan para elite politik, peneliti ahli, mantan pejabat yang bersangkutan menunjukkan tingkat intelektual mereka tinggi. Semuanya mampu berpikir, memikirkan hal-hal yang dilihat, didengar, dirasakan dan ketika terjadi sela berpikir, artinya pikiran menganggur mulai ‘mengkhayal’. Disaat itulah pikiran berkeliaran jauh diluar Pusat Mata (Manikmaya, Bathara Guru, Syiwa), saat seperti ini banyak digunakan iblis (lelembut ciptaan Togog) melakukan lokakarya memberi masukan berupa khayalan indah, e-KTP gratis untuk seluruh rakyat Indonesia. Betapa indah kecepatan gerak pikir peserta diskusi di ILC, Kompas TV, Metro TV dan media sosial lainnya. Pendapat A dibantah dengan pendapat B semuanya berdasar data statistik, penelitian, survey, investigasi dan sebagainya. Berpegang pada kebenarannya sendiri. https://www.youtube.com/watch?v=NbW4M-QTZ70

Jiwa telah turun kedalam tubuh pisik ini, dan terikat erat dengan pikiran yang mencintai kesenangan inderawi yang akhirnya membuatnya benar-benar menjadi budak dari indera itu sendiri. Dalam pewayangan Jiwa Cipta ini diperankan Bathara Kresna, titisan Wisnu. Dikatakan perannya licik, kaya dengan muslihat mencari solusi demi kemenangan Pandhawa dalam perang Bharata Yudha. Baladewa (Jiwa karsa) berkarakter dewa, mampu menciptakan, mewujudkan segala kehendak. Dalam pakem Baladewa  ini hanya bisa dimatikan Antareja (ANTA-ka=mati, REJA=ramai, sering) keturunan dewa Naga (Antaboga). Antareja mampu membunuh musuh hanya dengan menjilat tapak telapak kaki, dan Kresna minta bukti dengan menjilat tapak telapak kakinya sendiri dan mati, menyelamatkan Baladewa.

NYA, ucapan dalam bahasa Jawa artinya SILAHKAN, Mangga semuanya itu dapat Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki (Melihat tanpa dengan mata, mengerti tanpa diajari). NYA yang berarti pemberian, ‘please’ karunia bagi manusia yang mendapat mandat “penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah”. NYA yang NYAta adalah NYAwa, JIWA, ketiga jiwa Cipta, Rasa dan Karsa. Pemberian terbesar kepada MA (manusia) adalah Kehendak Bebas (MA GA=mangga, silahkan, ‘please’, ‘sak karepmu’) menurut perintah NYA (Tuhan) atau Iblis. Dewasa ini dikedepankan undang-undang Hak Azasi Manusia, perwujudan Kehendak Bebas – Kebebasan Berbicara. Bicara apapun Bebas, ‘Sak Unine’ Sangkuni dalam pewayangannya, dinampakkan para elite dalam diskusi ILC dan sejenisnya.

YA, artinya menyetujui, jawaban IYA (tanpa tanda seru) Yen rumangsa tanpa karsa (Kalau merasa tanpa kehendak, PAMMRIH) berbeda dengan IYA! artinya sesuai dengan apa yang dikehendaki, dipikirkan. Reaksi pikiran atas masukan pancaindera, apa yang didengar ternyata benar seperti apa yang dilihatnya. Hal ini melahirkan khayalan-khayalan baru yang baik (HA=APIK, fiksi) dan sebaliknya yang tidak baik (LA=ALA, fiktif)

JA, Aja, jangan, larangan artinya pikiran menolak masukan pancaindera karena tidak sesuai dengan kehendak-NYA (Tuhan). Dalam hal ini terjadi kesamaan (jumbuh) antara keinginan, khayalan manusia dengan penciptanya. Jumbuhing kawula lan Gusti (Bersatunya antara hamba dan Tuan nya). Melakukan kehendak-NYA harus dilandasi perintah yang terkandung dalam aksara HA, artinya APIK, baik, becik, ‘becik sejatine becik’, HURIP (hidup) menghidupkan, ‘ngurip-urip titah kang urip’ sebagai air kehidupan manusia. “….. tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Jo. 6:14)

DHA, Dha-dha, dada, berlapang dada (ndha-dha-Jawa) artinya menerima kehendak-NYA atau orang lain dengan dada terbuka. Ini juga bermakna mengakui kesalahan, keluputan dan minta maaf, sekaligus memaafkan, mengampuni kesalahan orang lain, minta ampun pada orang lain. Mengalah dalam pengertian ini akan memperoleh karunia berlimpah Dhuwur wekasane endhek wiwitane. “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Jo. 20:23). Pengampunan itu perlu karena kita sudah berbuat dosa, merusak hubungan kita dengan Allah sehingga dengan demikian harus dihukum. Pengampunan merupakan cara untuk memulihkan hubungan yang rusak.

NDHA-DHA berati menerima, juga mengakui karunia keallahan yang ditempatkan dalam Dhadha (Bait Allah). Dari situ dan disitulah tempat, papan (PA) manusia memahami hidup, HURIP (HA) dan perutusan manusia (NA) Hanacaraka, untuk manembah dan berbakti. Proses ini perlu waktu dan bertahap mulai dari Panembah raga/kawula terhadap Roh Suci, diikuti panembah Roh Suci kepada Guru Sejati, dan terakhir adalah panembah Guru Sejati/Ingsun kepada Allah Yang Maha Agung ya Suksma Kawekas. Hasil akhir yang dicapai adalah tahu (WERUH) jalan kesempurnaan.

WERUH, asal kata aksara WA=wadag, tubuh, raga yang dipepet artinya mepeti RA disuku (RU) dan berpasangan dengan HA, Roh. Tubuh mewadahi, artinya mengurung ROH, tubuh yang dijiwai Cipta, Rasa dan Karsa (pikiran) terbelenggu keindahan duniawi melalui pancaindera menjadi tirai, tirani bagi Suksma (Roh). RUH, Roh Allah terkurung dalam tubuh sejak ditiupkan kedalam janin, kandungan ibu (Samodra Urip). ROH seakan dibutakan tidak mengetahui jalan kesempurnaan. Weruh padhang, terang benderang jalan dari (Sangkan) kelahirannya menuju tempat, papan yang dituju (Parane) Dumadi perlu laku-lampah, Sembah Raga, Sembah Rasa dan Sembah Suksma, bakal weruh PAPAN kang tanpa kiblat.

PA, ini menerangkan Alam Sejati, Kerajaan Allah yang tidak dapat diterangkan bagaimana dan dimana orientasinya “tan kena kinaya apa”, meski demikian dalam perenungan aksara DHA Kerajaan Allah, Bait Allah ada didalam Dha-dha, hati sanubari manusia ciptaan-NYA. Ciptaan Allah bukan hanya manusia, tetapi segala sesuatu yang hidup, HURIP, tersebar disemua arah, dapat dimengerti bila Allah berada, mapan, berdiam dimana-mana tanpa kiblat. “Bapa kami yang ada di surga” doa yang diajarkan Jesus kepada para muridNya. Surga tidak dikaruniakan kepada orang yang berteriak menyebut Nama Tuhan, tidak untuk kelompok, pengikut agama tertentu, apalagi pelaku bom bunuh diri melainkan orang per orang dan sangat pribadi.

Memahami Papan kang tanpa kiblat (Tempat tak berkiblat), tentu tidak bisa dibayangkan surga seperti apa, bila hurip ada dalam semua ciptaan termasuk binatang. Renungan secara mendalam binatang dan tumbuh-tumbuhan memiliki rasa cinta kasih, sabar dan  setia seperti halnya manusia, mereka juga diutus untuk ‘beranakcucu dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah’, apa yang dikaruniakan kepada manusia diberikan kecuali ‘kehendak bebas’ artinya ciptaan lain tidak bisa memilih IYA atau AJA seperti yang diberikan kepada manusia.

Harimau memiliki kesabaran dan kesetian yang besar, mendekam dalam semak menunggu mangsanya datang, untuk menghidupi hasil kasih sayangnya, beranakcucu dan bertambah banyak, penuhilah bumi. Penuh setia, tidak memangsa binatang lain yang bukan haknya, keganasannya tidak dilakukan diluar kodratnya. Ini adab, jadi tidak masuk kategori biadab. Renungkan pencapaian Sila Kedua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”

Kupu-kupu yang indah menjalani sikap sabar dan setia sejak dalam telor yang menetas menjadi ulat, ulat berbulu semuanya menjalani laku tapa, puasa mengurung diri dalam kepompong, memecah tirani ini semua dalam dampingan hurip yang sabar dan setia akhirnya muncul Kupu-kupu yang elok berterbangan mengelilingi bunga-bunga yang indah. Kodratnya memperindah (memayu-ayune) alam (buwana) tidak berbuat jahat terhadap sesama ciptaan.

‘Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;’ (Yoh 3:20). PADHANG JAGADE bila WERUH mengetahui betapa ketatnya tubuh (WA) ini mepet, mengurung Roh. Dari keinginan makan untuk mempertahankan hidup sampai ketingkatan Drajad, Pangkat dan Semat. Semua didorong dengan keindahan, kemewahan dibayangi ketidakbaikan jauh dari rasa tulus ikhlas, atau ‘sak dermo’. Kejahatan demi kejahatan yang menyertai hendaknya dihindari, mengarah pada kepentingan umum, kesejahteraan rakyat, kawulane. Membenci terang akan terjerumus dalam kegelapan, peristiwa nabrak tiang listrik, adalah usaha menutupi kejahatannya. Kegelapan hasil olah pikir yang dicengkeram oleh keindahan duniawi yang disuguhkan pancaindera.

MATA Jasmani dan Rohani keduanya ada dalam diri orang. Kemampuan melihat kebenaran membuktikan apa yang didengar bertumpu pada Mata Jasmani yang digambarkan sebagai Hardjuna, mampu mengalahkan Basu Karna (kakaknya) gambaran pendengaran, ucapan yang didengar (katanya) dalam Bharata Yudha. Sisi positif ini dibarengi dengan kelebihannya menyajikan keindahan yang mampu menyesatkan, mengelabui dengan berbagai kenikmatan duniawi mencengkeram PIKIRAN. Memejamkan mata bukan dalam pengertian ‘tidak mau tahu’ dilakukan dalam keheningan, bersamadi mengosongkan pikiran (menarik ke pusat mata) mampu melepaskan semua keterikatan sambil menyebut Nama Tuhan, membuka MATA KETIGA. https://www.youtube.com/watch?v=ErXMIWmZeJk dedep tidhem

Mengendalikan UCAPAN (UNI=Sangkuni) satu cara menjaga kebersihan hati mencapai kesempurnaan. Uni, ucapan bisa disebut SABDA, dalam bahasa agama FIRMAN artinya Sabda atau Firman Allah disampaikan melalui mulut manusia. Ucapan manusia yang dipilih secara khusus untuk ‘memayu hayuning buwana’, para Nabi, Wali termasuk para ulama, rohaniwan, biksu, pedhande. Tidak ketinggalan para elite, petinggi, penguasa dan juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat, hati-hati dengan ucapan sehari-hari dan Diskusi Publik.Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. (1 Korintus; 13:9). Setiap ucapan hasil olah pikir yang lepas-bebas mengarungi samodra cipta-penciptaan-mencipta-kreasi, rasa-merasakan-perasaan-rasarumangsa melaju dalam niat, karsa-kehendak-niat-keinginan dan semuanya itu bisa terwujud karena adanya hukum tarik menarik, “law attractife”. Ucapan adalah ungkapan karsa yang memolak sesuatu yang menimbulkan kemarahan ucapan ini membangkitkan kemarahan pihak lain. “….. apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. (Mat. 15:18-20)  “JER BASUKI MAWA BEA” membutuhkan biaya bukan sekedar uang tetapi bea, biaya (korban, pegorbanan) pengabdian kepada Tuhan melalui sesama manusia. Kemanusiaan sila pertama Sam Ratulangi menyimpulkan, “SI TOU TIMOU TUMOU TOU” yang artinya “Manusia memanusiakan sesama manusia”. Makna dari slogan ini tidak lain dan tidak bukan adalah kita wajib menolong orang lain, dengan penuh, “iman, harapan dan kasih” yang utama adalah kasih, angudi ‘karya ‘nak tyasing sasami’. Sumangga!! Rahayu! Ki-Sardjito.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s