RATU SATRIA PINANDITA

BEGAWAN DORNA atau RESI DORNA masa muda bernama Kumbayana guru besar Kurawa dan Pandhawa. Menuju Astinapura dari negeri seberang, negeri Atas Angin Kumbayana naik Kuda Terbang, Kuda Sembrani Betina wujud kutukan Dewi Wilutama dengan janji (UNI) siapapun menyeberangkan, bila pria menjadi sahabat, bila wanita diperistri. Terjalin keakraban selama penyeberangan selayaknya sahabat lama menempuh perjalanan bulan madu yang jauh. Sesampainya di Astina keduanya turun, tiba saat Kuda Sembrani melahirkan Aswatama wujud manusia berkaki kuda dan Dewi Wilutama terbebas dari kutukan kembali wujud Bidadari penuh pesona.

SENGKUNI atau  SANGKUNI masa muda bernama Harya Soman mengalami cacat badan akibat berkhianat pada Gandamana dalam memperebutkan kedudukan patih Astinapura, strategi untuk melindungi seratus anak Dewi Anggendari (menutup mata=micek) kakaknya yang menikah dengan Destarastra (buta). Melalui ucapannya, Sengkuni melancarkan kabar bohong (hoak), menghasut, mengadu domba untuk mencelakakan pandhawa, pemegang tachta Astinapura.

DORNA dan SANGKUNI dua tokoh ini tidak pernah terpisahkan, terasa sangat mendominasi kisah dalam Maha Barata. Dikisahkan Sengkuni mengangkat Dorna sebagai guru besar keturunan Bharata. Meskipun Resi Bisma kakek para putra Bharata ahli strategi perang dan tidak akan mati diluar kehendaknya, memiliki peran sentral. Sehingga ketergantungan Dorna pada Sengkuni sangat tinggi. Diungkapkan dalam sanepan ANANING DUR (akibat), timbulnya sifat pengingkaran, pengkhianatan, kejahatan bermula, bersumber (SANGKA) dari UNI (sebab), Ucapan. Uni, apapun yang terucapkan terjadi (tumus) dalam jangka waktu tak diperkirakan. Pandhawa putra Pandhu murid Dorna yang sangat patuh, mampu memenuhi keinginan Dorna menghukum Drupada, Bima mampu mengalahkan Gandamana. Arjuna murid terbaik kesayangan Dorna yang  sangat dimanja ketika berhadapan dengan Bambang Ekalaya. Memenangkan lomba antar siswa dan lomba memanah melawan Karna dari pihak Kurawa, kakaknya sendiri putri Dewi Kunthi yang diangkat anak oleh kusir Astina, Adirata.

KIDUNG AGUNG, Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) bagian dari Mahabharata, dialog Sri Krishna personalitas Tuhan Yang Maha Esa, menguraikan filsafat vedanta [pikiran non-dualitas], sedangkan Arjuna murid tunggalnya menjadi pendengar. Secara harfiah Bhagavad-gita adalah “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan. Jangan ragu-ragu melaksanakan kewajiban seorang Ksatria perang menghadapi siapapun lawannya. Kematian siapapun bukan karena kesaktian seorang Ksatria, tetapi sepenuhnya adalah kewenangan Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi. Kalaupun Resi Bisma ataupun Adipati Karna gugur bukan Arjuna yang membunuh, hanya perantara, melalui peperangan. Om Namah Shivaya

Narasimha menulis, Karna gugur akibat kutukan seorang Brahmin, Bhoomidevi dan Parasurama, intervensi Dewa Indra dan Bantuan decision making dari Lord Krishna kepada Arjuna. Kematian Karna disebabkan oleh sifat menepati sumpahnya => menyebabkan dia tetap berpihak dengan Kurawa; berbesar hati => tetap tegar, berbesar hati dan pasrah walaupun mengetahui ada kalah dalam peperangan dan bersedia mati berhadapan dengan musuh sekuat Pandawa dan Prabu Krishna. Pertanyaan yang timbul untuk apa Kresna membiarkan Karna tetap hidup?

Sulit dimengerti jika pemahaman Bharata Yudha hanya dari sisi peperangan, adu kesaktian para kastria dan pusaka, persenjataan yang super canggih, bahkan dikatakan layaknya perang nuklir saat itu. Falsafah Jawa memaknai pertempuran sengit ini adalah pertempuran dalam diri (hati sanubari) manusia dimana Kurawa dan Pandhawa itu adalah keseluruhan tubuh manusia. Pandhawa yang terdiri dari lima ksatria adalah pancaindera yang ditempatkan di kepala, sedang Kurawa yang terdiri dari 100 orang ditempatkan di seluruh tubuh di bawah leher. Sehingga mudah dimengerti kalau Kurawa bersifat konsumtif sedang panca indera yang mengatur, memenangkan semua bentuk peperangan.

Bharata Yudha pada dasarnya pertempuran mematikan pikiran-perasaan negatif dalam diri sendiri. Sebagai manusia biasa pikiran-perasaan negatif tetap ada, akan selalu ada hal ini adalah alami. Selama kita belum mencapai kesadaran atma yang sempurna, adanya pikiran-perasaan negatif wajar dan manusiawi. Karna saudara kandung Pandhawa berpihak pada Kurawa, Karna dalam bahasa Sansekerta adalah telinga (pendengaran) adanya di kepala tetapi lebih memperhatikan Kurawa, atas semua yang terucapan (UNI) Sengkuni. Karna memang sulit dikalahkan oleh Arjuna karena memiliki kesaktian dan ibu kandung yang sama. Hanya dengan membangunkan kesadaran diri kita dapat melampaui.

Dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak hal tentang kebenaran tertangkap manusia melalui pendengaran. Brexit tidak macet, perjalanan mudik lancar, Kertajati bandara Jawa Barat yang baru. Termasuk tafsir kebenaran oleh petinggi agama apapun yang sering menyebut surga dan neraka yang tidak pernah dilihat. Disini penyesatan jadi sangat mengerikan, dengan tindakan pelaku bom bunuh diri menyertakan anggota keluarga. Mereka mata secara itu adalah mulia. Kepercayaan yang meningkat menjadi keyakinan seperti ini sulit diubah bila tidak dibuktikan dengan mata batin  – “weruh sejatine weruh”. Melalui pemahaman ini terjawab kehendak Sri Kresna agar Arjuna tidak ragu-ragu melawan Resi Bisma dan Karna. “Yen wani aja wedi-wedi, Yen wedi aja wani-wani”  

Pendengaran, telinga sangat tergantung, didominasi oleh bunyi, ucapan, UNI. Dalam Maha Bharata sumber persengketaan adalah Sengkuni, ucapan demikian juga perdebatan yang terjadi antar elite politik akhir-akhir ini. Berapa banyak tenaga kerja asing yang masuk ilegal, berapa besar angka pengangguran saat ini, ucapan demi ucapan mengalir bagaikan banjir bandang. Ucapan yang bernuansa baik tentu membangkitan kebaikan, sebaliknya ucapan bernuansa tidak baik mamancing sikap tidak baik. Semua ini tidak menyalahi hukum alam Hukum Sebab Akibat. Hukum ini merupakan hukum kehidupan yang fundamental. Segala kejadian yang terjadi pada diri kita memiliki sebab yang tersendiri, atau sebab khusus.

Pemikiran adalah SEBAB, dan kondisi adalah AKIBAT. Maka semua tebaran pemikiran akan berkulminasi pada suatu tindakan yang menimbulkan akibat. Ini kondisi jiwa, menurut hukum fisika Newton dikatakan “setiap aksi akan menimbulkan reaksi – yang sebanding/sama  dan/atau berkebalikan”. Hasil pemikiran adalah kesimpulan, berawal dari  Jiwa Cipta menangkap informasi dari pancaindera dibandingkan dengan data base di dalam otak, dikomunikasikan dengan rasa dan dibulatkan dalam karsa, menjadi kehendak, niat.

Jadwal pendaftaran pasangan capres-cawapres yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum yakni pada 4-10 Agustus 2018, ketetapan ini adalah ucapan, UNI. Berakibat munculnya reaksi poros ketiga, Judisial Review pencabutan pasal 222 UU Pemilu, Ketua Umum partai tidak otomatis menjadi calon presiden dan cawapres, muncul juga kemungkinan hanya ada calon tunggal. Sebab ketetapan ini menimbulkan akibat beragam. Pemahaman duniawi semacam ini memang tidak salah atau disalahkan karena tidak terlepas dari hukum alam Sebab-Akibat.

KATA, UNI, UCAPAN dalam dunia spiritual, Hukum Keesaan Ilahi sesungguhnya adalah SABDA atau FIRMAN. Kesadaran spiritual manusia pada umumnya masih di bawah rata-rata. Para sepuh, pinisepuh Jawa dahulu menyatakan dengan sangat sederhana “Gusti yen ngendika nganggo lambemu” artinya Sabda Tuhan (yang tak nampak) disampaikan, diucapkan melalui bibir manusia, antara lain melalui para Nabi. Hal ini menjadi bukti bahwa Tuhan telah lebih dulu menyatu dalam diri manusia (manunggal). Kemanunggalan Allah dalam diri seseorang (bait Allah) ini belum disadari apalagi dinikmati, anggapan Allah bersemayam di Surga sangat diyakini seolah demikian jauhnya. Sabda Allah dapat dan bahkan selalu disampaikan melalui Uni, Dhawuh yang terucap oleh siapapun, setiap orang.

Cukup banyak contoh ucapan seseorang menjadi kenyataan sehingga dikenal istilah “SABDA Ratu Satria Pinandita”, “Sabda Dadi”, “Sabda Pendhita Ratu tan bisa wola-wali”., secara khusus diberikan melalui bibir IBU. Legenda Malin Kundang mengisahkan seorang IBU merindukan kepulangan anaknya, perjumpaannya tidak ‘diwongke’, diingkari bahkan diperlakukan diluar dugaan. Kekuatan doa yang terucap ibu kandung menjadi kenyataan.  Puja Sharma.

Telah diungkap dalam tulisan terdahulu baik melalui pewayangan maupun makna Aksara Jawa (aksara urip) ‘Hananing Cipta Rasa lan Karsa’, (HANACARAKA). HA-urip NA-manungsa adalah CARAKA-utusan Allah. Disamping panca (5) indera manusia juga dibekali tiga (3) jiwa CA-cipta RA-rasa dan KA-karsa. Disamping bekal pisik panca indera juga dibekali tiga jiwa Cipta-Rasa-Karsa yang selalu berkomunikasi dan berkorelasi. Jiwa Cipta ditempatkan dalam pikiran, alam pikir manusia memiliki kemampuan untuk berkreasi, lebih jauh dapat dikatakan mampu mencipta sesuatu yang akan terwujud, yang baik menjadi lebih baik bahkan menyempurnakannya atau menjadi hal yang sebaliknya.

Sebagai contoh perkembangan teknologi konstruksi dari peralatan sederhana yang digunakan disempurnakan dengan berbagai peralatan yang lebih modern dan canggih, yang nampak dan dirasakan pembangunan jalan tol membuat perjalanan mudik lebaran tahun 2018 dirasakan membahagiakan, tanpa kemacetan seperti sebelumnya. Menjadi makin baik (hamemayu) segala sesuatu yang sudah baik (hayu) adalah tugas perutusan manusia ke dunia. “Hamemayu Hayuning Bawana”. Tanpa memahami hal ini rasa iri hati, dengki, loba, moha HAMBEG DUR akan selalu dibisikkan dan mengusik RASA untuk menolak, mengingkari, mengkhianati.    Thankful

Contoh sederhana ini menguatkan pendapat betapa besar kekuatan pikiran mampu, mengubah dunia. Energi terpancarkan akan membawa informasi yang berasal dari pikiran dan hati. Energi (getaran) ini akan saling berhubungan, saling ‘tarik-menarik’. Pikiran menciptakan suatu medan energi yang bergetar pada kecepatan yang ditentukan oleh tingkat intensitas emosi yang menyertai. Semakin bergairah (emosi) atau semakin takut, akan semakin cepat pemikiran memancarkan dan menarik hal serupa sama kuatnya termasuk orang-orang yang bergetaran merespon getaran yang terkirim.

Pikiran, otak bekerja berdasarkan masukan informasi dari panca indera, apa yang didengar, apa yang dilihat, apa yang dirasakan semuanya diolah di dalam pikiran dan menghasilkan kesimpulan. Hukum Tarik Menarik (law of atractif) tidak tinggal diam. Semua yang bersifat negatif menjatu dalam area negatif demikian juga semua yang bersifat positif menyatu dalam area positip dengan kecepatan tinggi. Seandainya getaran pikiran yang muncul adalah negatif maka semua hal negatif akan tertarik dalam pikiran, ini yang sering terjadi sehingga kesimpulannya adalah negatif. – dingin hety k

ANANING DUR, SANGKA UNI sifat dur tidak terbatas dilakukan oleh manusia biasa, rasa DUR ini juga merasuk dalam diri para Ratu, Satria maupun Pandita. Tiga tataran atau kasta ini ciptaan yang memperoleh perutusan khusus, “Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif”. ‘Trias Politika’ tidak ada satu lembaga yang lebih tinggi dari yang lain. Masing-masing punya kewenangan yang tidak boleh diintervensi. Sistem demokrasi yang dianut dewasa ini memberi kebebasan yang luas, tidak ada ikatan, pengikat yang menyatukan mereka “tanpa suh”. Berjalan sendiri-sendiri, tidak ada yang lebih tinggi diantara mereka, tidak ada yang mengawasi dan tidak ada yang mengatur, ‘aturen dhewe’. MPR pelengkap belaka?.

Dapat dimengerti pelaku sikap DUR dipegang, dikuasai oleh pemegang kewenangan yang sangat kuat apakah anggota DPR, penegak Hukum atau pemegang Pemerintahan dari Lurah, Camat, Walikota, Bupati, Gubernur sampai pada Presiden. Semua posisi itu  terasa sangat terkendali atau ada dibawah pengaruh ‘SETAN’ sehingga timbul istilah Partai Setan. Pembenaran ucapan ini memberi peluang menghancurkan peserta Partai Setan seperti yang dilakukan pada kaum Atheis masa lalu. Pertanyaan yang timbul ‘kapankah manusia bisa mengalahkan apalagi melenyapkan Setan’?. Sehingga timbul anekdot setan dan iblis protes pada Tuhan karena tugasnya telah diambil alih manusia.

Telah dipahami penampakan setan tidak pernah menakutkan, bahkan menyediakan hal-hal duniawi yang indah dan menyenangkan berupa Harta, Tachta dan Wanita termasuk Drajad, Pangkat dan Semat. Semua ini membutuhkan bea, ‘jer basuki mawa bea’ berupa kekayaan atau uang. Korupsi adalah jalan terpendek untuk sampai pada tujuan itu, termasuk keinginan agar terpilih kembali. Niat ‘ALA’ (luput, salah) ini semua bermula dari perasaan-pikiran negatif dan menarik semua aktivitas negatif termasuk semua orang yang berpikir negatif, sesuai dengan hukum alam Hukum Tarik Menarik seperti terungkap diatas.

Berapa banyak mereka yang terlibat dalam BLBI, Century dan “Korupsi politik selalu merupakan kerja kolektif yang melibatkan aktor-aktor konvensional seperti partai politik, birokrasi, kapitalis di luar sistem politiknya. Kliennya nonkapitalis. Siapa mereka? yayasan dan lembaga-lembaga lain yang bukan kelompok bisnis dan juga bukan parpol,” kata Boni Hargens. Kasus E-KTP yang berpusat pada para Pandita (Legislatif) yang berwenang membuat aturan (undang-undang) dan mengawasi pelaksanaanya. Dengan demikian terjawab kedatangan SETAN berpusat pada pikiran yang mencetuskan (UNI) Partai Setan betul-betul terjerumus dalam Hukum Tarik-Menarik dan ‘Hukum Sebab Akibat’.

SENGKUNI selalu menggunakan kelebihan DURNA menguasai (ngereh=mengendalikan) Pandhawa, Pancaindera. Semua informasi dari pancaindera akan diolah JIWA CIPTA (Krisna), melalui ucapan segala sesuatu yang diolah dalam pikiran akan terwujud. Hati-hati dengan ucapan (UNI). PIKIRAN yang diperbudak pancaindera pada dasarnya mempunyai kemampuan mengubah, mentransformasi hal yang sebaliknya. BERBALIK, Bertobat, mohon ampunan. Ramadhan kemarin adalah waktu, cara, sarana mencapai FITRI. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin. ‘Ampunilah kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami’. Semakin percaya “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Joh. 20:23).  Deen Assalam 

Jauhkan Durna dan Sengkuni, dengan mengendalikan diri terhadap apapun yang didengar telinga dengan kenyataannya (sanyatane) seperti yang dilihat mata. Lihatlah betapa jauhnya kesejahteraan rakyat, kesejahteraan orang banyak. Berpikir BENAR hanya didapat karena banyak Berpikir sedangkan Berpikir banyak hanya karena mau memikirkan orang banyak, orang lain dan bukan diri sendiri. Barangkali ini bekal bagi calon Ratu (Pemimpin-Pemerintahan), Ksatria (Penegak Hukum) dan Pendita (anggota DPR) disamping tuntunan sikap yang digambarkan dalam MAKUTHA RAMA. Meski sudah banyak didengar tetapi belum belum banyak dipikirkan dan belum dinyatakan dan ketetapan, undang-undang.

Perlu ikatan (SUH) yang menguatkan, sehingga sapu yang terikat SUH bisa digunakan untuk menciptakan suasana bersih, terang dan tenteram. Permohonan khusus ini ditujukan kepada tiga pelaku Trias Politika. “Dodotira, kumitir bedhah ing pinggir” pakaian kebesaran yang dikenakan sudah nampak kumitir, robek, cacat dibagian pinggir. Gunakan pakaian yang bersih atau ‘dom-ana, jlumatana”. Jahit kembali dan juga telisik adanya sikap DUR dan UNI kembali FITRI. Bertobatlah, jalan pintas terpendek dan ampuni siapapun yang salah.   Telaga Sarangan

Telaga (telenge angga – hati sanubari), Sarangan (Saringan). Jaga setiap ucapan, ‘Sabda Dadi’, Jangan ragu-ragu “Yen wani aja wedi-wedi, Yen wedi aja wani-wani”. Seperti Kuda SemBRANI, berani maju terus. Jangan Takut, Jangan Mundur. Maju kena, mundur kena. DURNA, mundur kena terbuai kenikmatan di atas angin, lahirlah Aswatama, Aswa (pembalut-wanita) Tama (utama). Sumangga!!. Rahayu!. Ki Sardjito.-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s