CAHYA PININGIT

 

LESMANA MANDRAKUMARA putra Dewi Banowati dan Prabu Duryudana ahli waris Hastinapura. Duryudana bermimpi akan turunnya Wahyu Cakraningrat Pancering Ratu Tanah Jawa mendesak Lesmana melakukan olah tapa untuk menjemputnya. Atas bimbingan Dorna tercipta kedekatannya dengan Bathari Durga membuat Lesmana yang terbiasa hidup bermalas-malasan, penuh kemewahan menjadi percaya diri akan memperolehnya. Tergoda auman harimau takut diterkam, gagal tapanya.

Demikian juga Raden SAMBA, Wisnubrata putra Dewi Trijata ahli waris Dwarawati, mendapat kabar turunnya wahyu, merasa lebih berhak menerima karena putra Wisnu, meski tidak didukung Prabu Kresna. Dengan bantuan gandarwa Srigati Wahyu Cakraningrat masuk kedalam dirinya. Tergoda gemulai putri cantik Wisnubrata ditinggalkan Wahyu Cakraningrat.

ABIMANYU, menantu Prabu Kresna didorong untuk menjemput Wahyu Cakraningra karena memiliki peluang yang lebih besar. Harapan dibalik semuanya itu Siti Sondari putrinya akan melahirkan Pancering Ratu Tanah Jawa dari Abimanyu, putra Dewi Sumbadra dan Arjuna, meski bukan putra raja. Kresna tahu Abimanyu mewarisi keuletan bertapa seperti Eyangnya Begawan Abiyasa.

Wahyu Cakraningrat yang mengisahkan penitisan Wahyu Cakraningrat untuk mendudukkan seseorang menjadi pancer ratu tanah Jawa. Lesmana, Samba, dan Abimanyu melakukan Samadi seakan berlomba, PILPRES. Kresna mengetahui bukan Samba pemenangnya, demikian juga Duryudana sadar bukan Lesmana yang mampu meraih Wahyu tersebut. Abimanyu melakukan Samadi seakan tanpa pamrih, karena percaya terkabulnya harapan ‘menjadi pancer ratu tanah Jawa’, sepenuhnya menjadi hak Gusti Kang Akarya Jagad.

PILKADA tahun ini menunjukkan kerjernihan berpikir dan makin cerdasnya masyarakat. Mereka menentukan pilihan sesuai dengan apa yang mereka pahami, seakan tidak ada keterikatan dengan siapa yang mencalonkan. SAMADI Lesmana, Samba dan Abimanyu ini gambaran usaha calon pewaris pancer ratu tanah Jawa, politisi yang mempersiapkan diri menghadapi PILEG dan PILPRES untuk melaksanakan cita-cita luhur ‘mencerdaskan’ diri, dan memperdalam ‘Rasa Pangrasa’, kepedulian mereka kepada “kehidupan bangsa”.

Amanat pembukaan UUD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa “ terasa amat kental dalam episode ini. Yudi Latif merenung saat hari pendidikan Nasional dengan sangat mendalam, merasakan keterpurukan usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa lebih merupakan konsepsi budaya daripada konsepsi biologis-genetika. Kehidupan yang cerdas menuntut kesadaran, harga diri, harkat dan martabat, kemandirian, tahan uji, pintar dan jujur, berkemampuan kreatif, produktif, dan emansipatif.

Ukuran yang paling memilukan dari keterpurukan ini bukanlah rendahnya peringkat Indonesia dalam kemampuan baca, matematika, dan sains (tidak sekedar ilmu tetapi ngelmu) menurut standar Programme for International Student Assessment, melainkan pada kemerosotan mutu kecerdasan para politisi dan penyelenggara negara sebagai produk pendidikan. (Kompas.com – 05/05/2015, Yudi Latif). Pucung

Lebih lanjut ditandaskan bahwa bukan sekadar kecerdasan kognitif, melainkan kecerdasan multidimensional berbasis kesadaran eksistensial. Meniti ke dalam manusia cerdas mengenali siapa dirinya “WHO’m I”, tahu potensi diri, karakter. Ke luar, manusia cerdas mampu mengembangkan kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku bersama, melalui olah pikir (berpikir-cipta-Ilmu), dan olah rasa (Rasa-pengrasa-ngelmu).

Ada kekecewaan dalam renungan itu. Tembang Durma (munduring tata krama), bernuansa kekecawaan serta kemarahan terhadap keadaan dimana moralitas dianggap tidak lagi penting. Ketika seseorang telah mendapatkan kebahagiaan, kejayaan, serta kehormatan, orang tersebut menjadi lupa. Tindakan yang sewenang-wenang dibenarkan, sehingga terjadi penindasan dimana-mana. (Diyono, 1992: 38-39, Pict. from ISI JOGJA Official Site)

Dalam tembang Durma, masyarakat digambarkan mengalami kemunduran moral atau munduring tata krama. Dengan banyaknya kejahatan, penipuan, dan kesewenang-wenangan saat ini menunjukkan bahwa memang manusia sedang mengalami zaman edan. Keserakahan dan nafsu manusia yang menggebu-gebu membuat manusia menghalalkan segala cara. Demi kejayaan dan kebahagiaan yang hanya sementara, manusia bahkan melupakan batas antara benar dan salah, baik dan buruk, halal dan haram. Durma Rangsang.

Bener luput ala becik lawan begja cilaka, mapan saking badan priyangga, dudu saking wong liya, pramila den ngati-ati, sakeh dirgama, singgahana den eling. (Benar ataupun Salah, untung atau malang berpusat pada diri sendiri, bukan karena orang lain. Berhati-hatilah terhadap sikap Dirgama (Durgama), sikap Dur (ingkar). http://rosyana-setyawan.blogspot.com/2015/01/nilai-nilai-moral-dalam-tembang-durma.html

Pencapaian kecerdasan melalui olah pikir (Berpikir) merupakan pencerahan (CAHYA), karunia, kesimpulan yang didapat karena kemampuan merangkai masukan Pancaindera dengan Jiwa Cipta, Rasa dan Karsa. Jadi berpikir adalah aktivitas psikis yang terjadi apabila menjumpai masalah yang harus dipecahkan. Dalam berpikir ‘seseorang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainnya dalam rangka mendapatkan pemecahan persoalan yang dihadapi’ (Soemanto, 1998). Aktivitas berpikir yang dilakukan dengan tujuan untuk membangun dan membangkitkan aspek positif pada diri (ke dalam), baik itu yang berupa potensi, semangat, tekad maupun keyakinan diri kita sehingga memunculkan perasaan, perilaku, dan hal yang baik. Aspek ke luar menjadi sebuah sistem berpikir yang mengarahkan dan membimbing masyarakat meninggalkan hal-hal negatif.

Kemunduran Tata Krama (DURMA) nampak pada terjadinya kesalahan berpikir dalam kelompok tertentu. Selama ini dianggap sebagai plesetan atau plintiran lebih jauh banyak dilakukan dengan mengungkapkan ‘sesuatu yang salah diucapkan berulang-ulang dianggap (menjadi) kebenaran’. Contoh plesetan yang sedang viral saat ini ‘pantas kalau Syaiful kalah karena tiap pagi dan sore istrinya menyajikan kopi dan selalu mengatakan ‘kopi pah’ terdengar seolah menyebut nama Kofifah gubernur Jatim nanti’. “Gitu aja koq repot” jawaban Gus Dur menangkis segala macam plintiran, plesetan pada masanya.

Prof. Rocky Gerung mengatakan bahwa publik hari ini disodori kultus kesederhanaan yang ditampilkan oleh presiden Jokowi. Baik pola berpakaian maupun pola blusukannya. Sehingga publik kehilangan hal yang substansial dari pemerintahan karena ditutup oleh pujian (pengkultusan) terhadap pribadi presiden Jokowi. Dari sisi ini pula dapat dilihat bahwa cara kerja pikir Profesor Rocky Gerung adalah kritik negatif tanpa ada alasan yang kuat. Bahkan dia sendiri lupa cara mengkritik pada hal yang substansial dari pada hanya mempermasalahkan pakaian. Hal demikian saya kira perlu dicurigai: apakah benar gelarnya tidak dijual? http://www.marhaenislokajaya.com/2018/03/kultus-kesederhanaan-kritik-plintiran.html

Saya mohon pamit. “Segala yang lenyap adalah kebutuhan bagi yang lain, (itu sebabnya kita bergiliran lahir dan mati). seperti gelembung-gelembung di laut berasal, mereka muncul, kemudian pecah, dan kepada laut mereka kembali” (Alexander Pope, An Essay on Man). Pamit mundur Judi Latif selaku Kepala BPIP, mengundang banyak pertanyaan. Kemampuan Yudi menurut Moeldoko, untuk mengarusutamakan Pancasila sangat nyata karena Judi memiliki latar belakang pemahaman Pancasila yang sangat mendalam. Kita lagi kering pemahaman ideologi Pancasila. Kita lebih mengagungkan ideologi lain dan seterusnya. Ini saya pikir sebuah prioritas bagi bangsa,” katanya. Pelantikan Uka Kuya dipilih sebagai pengganti Judi Latif, Jokowi percaya, dengan Uya Kuya  menjadi Kepala BPIP, bangsa ini akan pancasilais total dan karena itu gemah ripah loh jinawi. https://geotimes.co.id/satire/uya-kuya-yudi-latif-bpip-jokowi/

Lebih dari soal gaji, kehadiran BPIP hingga kini masih menjadi pertanyaan. Sudah sejak awal, pembentukan lembaga ini dianggap sebagai sikap reaktif pemerintah terhadap berkembangnya intoleransi dan radikalisme di tengah masyarakat, terutama dalam beberapa waktu terakhir. Adakah persamaan dengan Pengamalan Pancasila (BP7) pada 1979, Presiden Soeharto?. Pada kenyataannya, BP7 dipakai untuk “memaksakan” Pancasila seraya mematikan diskusi kritis terhadap ideologi negara. Oleh pemerintah Orde Baru, Pancasila telah dipersonifikasi ke dalam sosok Kepala Negara. Mereka yang menentang Soeharto dianggap melawan Pancasila. (‘Untuk Apa Badan Pancasila’. Selasa, 5/06/2018) https://kolom.tempo.co/read/1094839/untuk-apa-badan-pancasila

Lakon turunnya Wahyu Cakraningrat untuk menentukan wiji ratu dan sekaligus pancering ratu tanah Jawa. Siapa yang mendapatkannya, ia akan disahkan oleh rakyat untuk menduduki tahta kerajaan dan didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa. Namun dalam kenyataan ada keterkaian yang sangat erat dengan penerus Pancering Ratu Tanah Jawa beserta kekuasaannya sampai sekarang. Dipercaya terhitung mulai dari Ken Angrok-Ken Dedes menurunkan Kertanegara, Raden Wijaya, Jayanagara, Tribhuwana Wijayatunggadewi, Hayam Wuruk, Girindrawardhana, hingga Mataram sekarang ini.

Pertanyaan, munculnya Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, melahirkan negara Non- Blok dengan Konferensi Asia-Afrika dapatkah dikategorikan sebagai Pancering Ratu Tanah Jawa saja atau lebih luas Asia-Afrika? Sebaliknya apakah Presiden, setelah Soekarno dapat dikategorikan sebagai Pancere Ratu Tanah Jawa, lebih-lebih yang tidak sempat menduduki tachta kepresidenan dua kali atau lebih? Dengan ditunjuknya Indonesia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB (“Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”) merupakan tanda munculnya kembali bukan sekedar Pancering Tanah Jawa tetapi lebih luas dari Non-Blok (Asia-Afrika), yaitu Pancering Buwana (jagad-dunia), Atlantic yang hilang?.

Pertunjukan wayang selalu berkenaan dengan hal-hal yang berbau ritual, sebagai mitologi keagamaan yang diterima secara universal untuk menginterpretasikan dunia, ‘jagad gede’, makrokosmos dan ‘jagad cilik’, mikrokosmos yang terjalin kait-mengait tak terpisahkan. Proses ritual yang menghubungkan dunia bawah (titah) dengan dunia atas (dewa), berlaku dalam tataran kosmologi Jawa. Wayang tidak hanya tontonan tetapi sekaligus tuntunan bagi orang Jawa mencakup seluruh aspek kehidupan.

Apa makna Wahyu Cakraningrat? dan mengapa Abimanyu yang berhak menerima sehingga ia didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa? Pertanyaan ini terjawab oleh Abimanyu yang mampu menyatukan tataran dewa dan tataran titah berada dalam satu garis ritual. “Jadilah Kehendak MU”, ‘jadilah seperti yang Engkau katakan ya Tuhan’, ‘jadilah kerajaan-Mu di atas bumi seperti di dalam Surga’. “CAHYA PININGIT”, Bapa Kami

Cakraningrat berasal dari kata ‘cakra’ yang mendapat imbuhan ‘ning’ dan ‘rat’. ‘CAKRA’ berbentuk lingkaran, putaran, perputaram yang mengelilingi, menyelimuti, melindungi ‘RAT’ (bumi, jagad). Senjata, Pusaka Cakra selalu mendampingi dan hanya dimiliki titisan Wisnu, Dewa yang secara specifik diutus melindungan, memelihara ‘jagad sak isine’ berbeda dengan  perutusan Bathara Syiwa maupun Bathara Brahma. Penjelmaan Wisnu, “ngedjawantah” di Arcapada. Nge=menjadi, menjelma; Jawa=Tanah Jawa; Tah=titah, menjadi manusia dimulai dari Sumantri (Patih Suwondo) era Prabu Hardjuna Sasrabahu, Prabu Ramawijaya era Alengkadiraja dibawah Prabu Dasamuka (Rahwana) dan dalam episode Bharata Yudha nitis pada Bathara Kresna atau Prabu Kresna.

Kapasitas Wahyu Cakraningrat sebagai ‘pancer ratu tanah Jawa’, simbul CAKRA digunakan sebagai senjata, pusaka pengayom bagi raja ideal, konsep ritual ‘magico-religious’. Karena itu Abimanyu harus tapa mbisu di pertapaan di bawah pohon beringin putih,  “Waringin Putih”. Beringin adalah pohon besar dan rimbun tempat berteduh dan mampu memberi kesejukan masyarakat, dadi pangayomaning para kawula. Itulah harapan Beringin dijadikan sebagai Lambang Partai Golkar masa Orde Baru (32 tahun), dimaksudkan untuk melindungi, ‘memajukan kesejahteraan umum’. Terasa kepandaian (pinter) dalam hal ilmu dan tehnologi meningkat, termasuk ‘minteri’ orang atau kelompok lain. Departemen berhak atas komisi 10% (teen procent) dari setiap proyek pembangunan di bidangnya untuk kesejahteraan pegawai. Cikal bakal, awal mula terjadinya ‘korupsi bersama’ hampir di setiap departemen.  Turi-turi Putih

Pada pidato 19 Mei, Soeharto mengungkapkan keraguan untuk menyerahkan jabatan kepada Habibie, wakil presidennya. Jika ia mundur, kata Soeharto, berarti jabatan presiden mesti diserahkan kepada wakil presiden. “Apakah ini jalan penyelesaian masalah dan tidak akan timbul masalah lagi. “Habibie protes terhadap komentar Soeharto yang mengatakan Habibie tidak dapat menggantikannya. Padahal kenyataannya, Habibie adalah wakil presiden”.

Untuk membendung, menambak (tambak) timbulnya masalah dikemudian nanti, pada jaman Presiden B.J. Habibie dipentaskan Lakon Rama Tambak untuk mengatasi keadaan negara Indonesia yang dilanda krisis berbagai aspek. Bahkan akhir-akhir ini Ki Jaka Edan dalam beberapa pertunjukannya mengidentifikasikan Amin Rais sebagai Prabu Kresna. Namun demikian pada kenyataannya usaha tersebut tidak membuahkan hasil.

SÉTA, Putih, Suci calon pengemban Pancering Tanah Jawa harus bertapa dibawah Beringin Putih “ateges penjenengan yèn bakal bisa dadi titah ingkeng utami, bisa dadi titah angesuhi para titah. Wonten ngriku papanipun penjenengan bakal nampa kanugrahan kanthi mulusing raos, kanthi sucining penggalih … bisa la!.” Petunjuk, nasehat Ki Lurah Semar Badranaya menegaskan “Seorang Pemimpin disyaratkan memiliki keutama sikap, ‘kawicaksana’ sehingga sebagai titah mampu angesuhi para titah, artinya mensejahterakan kawula, masyarakat dengan tulus hati dan ‘Suci Ing Pamrih’.

Trisula Weda Jajar, Jejer, Jujur (Sejajar, Jejeg, Jujur) adalah modal pemangku amanat rakyat untuk tercapainya Tri Sakti. Melepaskan diri dari ketergantungan pada bangsa lain, tidak dengan saling menyalahkan, menilai rendah kemampuan diri, membatasi kreatifitas pemuda,  tetapi bersatu dalam perahu yang membawa Indonesia pada kejayaannya.  “Entah bagaimana tertjapainja persatuan itu: entah pula bagaimana rupanja persatuan itu; akan tetapi tetaplah, bahwa kapal jang membawa kita ke-Indonesia-Merdeka itu, jalah Kapal-Persatuan adanja! MAHATMA, djurumudi jang akan membuat dan mengemudikan Kapal Persatuan itu kini barangkali belum ada, akan tetapi jakinlah kita pula, bahwa kelak kemudian hari mustilah datang saatnja, jang Sang Mahatma itu berdiri ditengah kita!” … (Dibawah Bendera Revolusi). https://nakulasahadewa.wordpress.com/2014/09/25/jajar-jejer-jujur/

Melupakan Konflik dan tidak menciptakan Konflik Baru” ungkapan sekaligus harapan agar persatuan dan kesatuan menjadi landasan berbangsa dan bernegara. Dengan tulus ikhlas berdiri sama tinggi, tidak ragu-ragu mengemban tugas sesuai kedudukan (perutusan), jujur bukan sekedar lamisan tetapi juga jujur pada diri sendiri. Aja Lamis. Sumangga!!. Rahayu!. Ki Sardjito.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s