SAMPURNANING HURIP

Kunti (Dewanagari: कुंती; IAST: Kuntī) atau Perta (Dewanagari: पृथा; IAST: Pṛthā), dalam wiracarita Mahabharata, Ia bersaudara dengan Basudewa. Sebelum menikah, ia memiliki anugerah dari Resi Durwasa saat mengunjungi Raja Kuntiboja. Resi Durwasa memberikan sebuah mantra Aji Gineng, yang nantinya akan menyelamatkan kelangsungan Dinasti Bharata.  

Dropadi, Drupadi, atau Draupadi (Sanskerta: द्रौपदी; Draupadī) puteri Prabu Drupada, raja Panchala. Pada kitab Mahabharata, Dropadi adalah istri para Pandawa lima semuanya. Tetapi dalam tradisi pewayangan Jawa, ia hanyalah permaisuri Prabu Yudistira saja. Meskipun demikian putra Dropadi dan Yudhistira disebut Pancawala atau Pancakumara tidak meninggalkan unsur lima.

Siapakah DRUPADI, seperti dikisahkan Rsi Vyasa “Dalam sebuah pertapaan, ada putri Rishi yang terkenal, yang walaupun cantik dan murni, tidak mendapatkan seorang suami. Dengan tapa penebusan dosa yang keras Gadis ini membuat senang Dewa Sankara (Mahadewa). “Mintalah hadiah yang engkau inginkan”.

Demikian disapa, sang gadis berulang-ulang berkata kepada dewa tertinggi pemberi hadiah itu, “Hamba menginginkan seorang suami yang mempunyai setiap kesempurnaan”.

Sankara, dewanya dewa, senang dengannya, memberikan hadiah yang ia minta, berkata, “Engkau akan mempunyai, O gadis yang ramah, lima orang suami”.

Sang gadis, yang telah berhasil membuat dewa itu senang, berkata lagi, “O Sankara, hamba ingin dari paduka untuk mempunyai hanya seorang suami yang baik?”

Dewanya dewa, yang sangat senang dengannya, berbicara lagi, “Engkau telah, O gadis, memintaku lima kali penuh, berulang-ulang, ‘Berikan hamba seorang suami yang mempunyai setiap kesempurnaan.’ Karena itu, O engkau yang ramah, bahkan akan demikian sesuai dengan apa yang engkau minta. Terberkatilah engkau. Semuanya ini, bagaimana pun, akan terjadi di kehidupanmu yang akan datang!”.

Vyasa melanjutkan, “O Drupada, putrimu ini dengan kecantikan surgawi adalah gadis itu.” (Mahabharata, Adi Parva, hal 569).

Kedua wanita ini Kunthi dan Draupadi berperan utama dalam pencapaian kesempurnaan hidup Pandhawa, seolah kedua kaki (SUKU, SAKA, TIANG) dan dua tangan (ASTA, ASTU, AJI) yang mencukupi semua kebutuhan hidup manusia. Dewi Kunthi ibu kandung Yudistira, Werkodara dan Arjuna dan sepeninggal Pandu, ia mengasuh Nakula dan Sadewa, anak Madrim. Saudaranya Basudewa berputera Baladewa, Kresna, dan Sembadra. Selain itu Kunti juga ibu kandung Karna keseluruhan berjumlah 9 (sembilan) ksatria utama dalam Bharata Yudha. Kunthi selaku IBU yang mengasuh, membesarkan dan mendewasakan Pandhawa untuk maju melangkah mencapai cita-cita Hamemayu Hayuning Buwana. Disini nampak eratnya keterkaitan 9 (nawa) Satria Utama menyatu dalam tuntunan Dewi Kunthi.

Sedangkan Draupadi mendampingi dan melayani Pandhawa dengan penuh cinta, kesetiaan dan pengorbanan sampai akhir Baratayudha. Draupadi digambarkan sebagai kedua tangan (ASTA) dengan lima jari mampu mewujudkan semua cita-cita paling ideal sekalipun, Sesaji Raja Suya. Sangat menarik kepercayaan, adat khususnya beberapa suku di India membenarkan poliandri, Draupadi menjadi istri Pandhawa berlima. Pewayangan tidak keberatan Drupadi hanya menjadi istri Yudistira saja, tetapi tetap menyebut anaknya Pancawala atau Pancakumara, bukan hanya sebutan, nama satu orang artinya benar-benar 5 (lima) anak dengan katuranggan masing-masing sesuai “suami yang mempunyai setiap kesempurnaan”. Dalam diri manusia Pandhawa adalah perwujudan panca indera yang menangkap semua obyek di luar diri dan dengan sempurna mengirimkan kedalam ‘hati sanubari’, disimpan dalam otak dan diolah dengan ketiga jiwa Cipta, Rasa dan Karsa. BAIK dan BENAR.

Dropadi orang Jawa menyebut DRUPADI dalam bahasa Sansekerta ditulis Draupadi, DRA (BADRA) dan UPADI (mencari, carilah), artinya carilah Badra (rembulan) gambaran Kebijaksanaan, Semar Badranaya. BENAR, kebenaran sejati hanya mampu disampaikan oleh suara hati sanubari yang jernih setelah menerima masukan dari Panca Indera, Draupadi selalu berwajah (ulat, polatan, wajah) ceria, taat dan setia bersuami para Pandhawa suami yang mempunyai setiap kesempurnaan.

Sisi lain ketiga putra Basudewa saudara Kunthi, Baladewa berkulit putih, kertas putih, kosong tempat menulis, tulisan, suratan, mencipta jalan hidup dan kehidupan manusia, tabularasa adalah Jiwa Cipta. Kresna berkulit hitam (hening, keheningan) mampu menyerap, mengolah dan memilah kebijakan dan kebijaksanaan adalah Jiwa Rasa dan ketiga Sembadra, Dewi Rara Ireng, SEM (sengsem, terpesosna, mencintai) BADRA (rembulan) kesejukan, kedamaian dan kecerahan adalah Jiwa Karsa. Perlu perenungan bahwa manusia memiliki tiga jiwa, yaitu Jiwa Cipta (CA), Jiwa Rasa (RA) dan Jiwa Karsa (KA) bukan hanya satu jiwa.

Sembilan  satria utama dalam rengkuhan Dewi Kunthi dan menantunya Dewi Draupadi adalah 9 (sanga) keutamaan yang kait mengkait dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Dalam Ilmu Kebatinan, Religi Jawa dikenal tindakan, sikap pencapaian Keilahian, mengenal Tuhan dengan Samadi Nutupi BABAHAN HAWA SANGA. Dari (SAKA) sikap inilah manusia mencapai Nilai (AJI) tertinggi dihadapan sesamanya, AJI SAKA. Terhadap sesama manusia tersurat dalam sanepan “Ajining Diri Dumunung Ana Lathi”, harga diri seseorang bergantung dari UCAPAN, dalam pewayangan diwujudkan Yudistira, Puntadewa, Samiadji yang dikatakan berdarah putih dan tidak pernah berdusta.

Kisah Kunthi dan Draupadi yang sangat menarik ini secara sederhana menggambarkan dua kaki dan dua tangan yang memberdayakan masing-masing lima jari seluruhnya berjumlah 20 jari. Kaki dengan sepuluh jari mampu berdiri tegak, menapak, melangkah, menyampaikan sesuatu, menuju kemanapun untuk mewujudkan semua cita-cita. Demikian juga dengan sepuluh jari tangan mampu mewujudkan semua gagasan, keinginan antara lain memasak, membagi, membela diri, memanah, merusak, membangun. Segala sesuatu kebutuhan manusia dipenuhi, diwujudkan dengan 20 jarinya, demikian juga segala sesuatu menjadi bernilai melalui keduapuluh jari manusia.

Kelemahan salah satu bagian dari 4 anggota tubuh ini berakibat ketimpangan, kesempurnaan hidup manusia. Kaki pincang atau lumpuh akibat kecelakaan tidak sebanding dengan akibat kelumpuhan karena darah tinggi, mudah marah, hati nurani yang tak terkendali. Disamping kelumpuhan, sekaligus menurunkan nilai kemanusiaannya ‘ajining diri’. AJI SAKA ke empat anggota tubuh ini, semakin diperdalam dengan makna, filsafat 20 AKSARA JAWA  ungkapan 20 jari.

Begitu luar biasanya Aksara Jawa beberapa pengamat menyebut miskin hanya 20 aksara (vokal, bukan huruf mati) nglegena (telanjang). Dipercaya Ajisaka hanyalah kisah penambahan sandangan, pasangan atau kelengkapan 20 aksara. Penggabungan aksara nglegena dengan pasangannya memiliki 20X20=400 aksara. Jumlah ini baru penggabungan dua aksara, dapat dihitung bila dilakukan 3 aksara atau lebih, karena itu Aksara Jawa mampu menjabarkan Sangkan Paraning Dumadi, dari mana asal dan kemana tujuan hidup manusia sebagai utusan (CARAKA). Hamemayu Hayuning Kulawarga, Praja, Buwana dan Bawana, ‘apabila sudah baik (HA) jangan salah (LA), apabila salah perbaiki’.

Semar mBabar Jati Diri yang digelar hampir seluruh wilayah mengungkapkan Sangkan Paraning Dumadi, berdasar filsafat Aksara Jawa. Semar menjadi tanda sebuah rahmat Ilahi (Wahyu) kepada titahnya. Tan Samar selengkapnya disimbolkan dengan kepanjangan nama Semar, yaitu Badranaya. BADRA (Rembulan), suasana kecerahan, ketenangan, kesejukan. Sedangkan NAYA artinya ‘ulat’, raut muka, wajah, perilaku baik, bijaksana, kebijaksanaan. Caraka balik

Kisah Dewi Kunthi dan Draupadi memiliki kesejajaran dengan kisah dalam Alkitab tentang Mujizat lima potong roti. Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:  “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yoh. 6:8-9)

Diikuti lebih dari 5000 orang, murid Yesus khawatir, saatnya makan sudah tiba, jauh dari pasar. “Berilah mereka makan!” ini perintah yang harus dijalankan. Seorang anak kecil membawa lima roti dan dua ikan, apa artinya?  Peristiwa ini gambaran kejujuran, rasa rendah hati, rasa pasrah sekaligus harapan Andreas atas kekecilan dirinya. ‘Duduklah berkelompok’, Yesus, Tuhan sendiri memberkati Lima Roti dan Dua Ikan sehingga dapat dibagikan kepada mereka secara melimpah.

Ada keterkaitan antara kesibukan para murid dengan dua ikan dan lima roti. Dua ikan dengan kelincahan dan ketrampilannya perumpamaan dua kaki dan dua tangan yang memiliki masing-masing lima jari (roti). Dengan kaki para murid berjalan berkeliling dan dengan tangan membagi, memberi roti dan ikan secara adil dan merata, bergerak, berbuat “tidak tinggal diam” dengan kesempurnaan masing-masing. Memberi makan (menghidupi) mereka yang membutuhkan, membagi kebenaran, menjauhi kedustaan. Saat ini cukup banyak orang yang tahu kebenaran, mereka tinggal diam sehingga ketidakbenaran (dusta) merajalela. Bahkan cukup banyak kebenaran disalahkan, “Kuntul (burung kuntul=putih) diunekake Dandang (burung gagak=hitam), Dandang diunekake Kuntul”

Karena itu Mahfud meyakini, siapa pun presidennya tidak akan bisa merebut Freeport. Sebab itu merupakan warisan turun temurun. Jika pemerintah berikutnya memaksa mengambil alih Freeport, maka mereka harus berurusan dengan peradilan internasional atau bisa dilaksanakan invasi sepihak. Jadi, ketika terjadi pertikaian antara rezim Joko Widodo atau rezim berikutnya dengan rakyat terkait kesepakatan Freeport, hal itu tidak bisa dilepaskan dari sosok Ginandjar Kartasasmita. Pasalnya kedaulatan bangsa ini telah dirusak oleh kepentingan asing melalui para penghianat bangsa hanya dengan sedikit keringat.  Mahfud

“Saya telah mendapatkan laporan bahwa holding industri pertambangan kita Inalum telah capai kesepakatan awal dengan Freeport pengolahan untuk meningkatkan kepemilikan kita menjadi 51% dari yang sebelumnya 9,36 persen. Alhamdulillah,” kata Jokowi di BSD, Kamis (12/7/2018). (CNBC Indonesia 12 July 2018)

Dengan perjuangan gigih dari Presiden Jokowi, Pak Jonan dan Pak Archandra sampai mengalami ancaman digugat ke jalur peradilan internasional atau arbitrase, akhirnya stabilitas investasi dan perpanjangan izin operasi sampai 2041 bisa disepakati kedua belah pihak antara pemerintah Indonesia dan PT Freeport. Dan itu semua menandakan pembicaraan tentang divestasi saham 51% dan pembangunan smelter sudah disepakati, karena semuanya itu memang 1 paket yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.  Jokowi

Kalau para pemimpin mau mendengarkan perintah “Berilah mereka makan” dan JANGAN TINGGAL DIAM. Meski berbeda politik tetap satu azas PANCASILA para pemimpin diharapkan bertekun (KUNTHI) dan berupaya, angupadi (DRAUPADI) memberikan Lima Potong Roti dan Dua Ikan meski masih merasa Anak (negara) Kecil tidak perlu berhadapan dengan Anak Besar. Seumpama orang-orang Felistin (?) memakai Goliat untuk menakut-takuti Israel dan Tuhan mengirimkan Daud, anak bungsu (ke-8, terkecil) Isai dengan tongkat umban (ketepelnya). Masih perlukah diperpanjang rasa terjajah 3,5 abad dengan abad yang sama per sepuluh tahun? “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri,” (Ir. Soekarno)

Semar dalam Mbabar Jati Diri mengingatkan Bathara Guru agar menegur Durga yang memerintah Srikandi membujuk Harjuna memotong kuncungnya. Kembali wujud aslinya membangun negara baru dan mamanggil seluruh ksatria Pandhawa bergantian untuk pembekalan tahu ALA lan BECIK. Memahami kebenaran (kuntul) bukan pembenaran (dandang). Bener sejatine benar!. Bukan Srikandi dan bukan Harjuna yang melakukan ketidakbenaran tetapi Bathari Durga dengan anak buahnya.   Semar Gugat

KEBHINEKAAN bukan perbedaan melainkan kekayaan adat dan budaya bangsa, menjadi lucu dan bahan tertawaan bila ada larangan pentas Wayang Kulit, Tari Piring, Tari Kecak, Tortor, Tobelo, Rambe Yamko  dan sejenisnya yang memperoleh penilaian internasional. Cukup beraneka ragam Nilai Luhur, kearifan lokal suku-suku yang seakan mau dipunahkan melalui agama, adat budaya lain, termasuk intelektual. Cukup lama para pemimpin menjadi kebarat-baratan setelah kemerdekaan, beralih kiblat kepada Amerika melihat kedekatan Bung Karno dengan Kennedy. Pendidikan dibidang keuangan, akuntansi dari sistem Kontinental menjadi Anglo Section. Ilmu pengetahuan yang didapat sedikit banyak disisipi niat untuk mempengaruhi dan bila mungkin mengendalikan kebijaksanaan baik sipil maupun militer. Yamko Rambe Yamko

Pembubaran Komunisme bersifat internasional, tidak diragukan peran Paus Santo Johanes Paulus II mengembalikan Rusia kepangkuan Bunda Maria, sementara yang terjadi disini dengan segala efek sampingnya hanya sasaran antara agar Bung Karno tahun 1967 tidak lagi sebagai Presiden. Konsekwensi lanjut pembunuhan Presiden John. F. Kennedy setelah menandatangani perjanjian Green Hilton, pembayaran bunga selama 33 tahun terhitung tahun 1934. Bunga 100% dialihkan untuk pemerintahan Orde Baru selama 31 tahun, dua tahun sebelum tahun 2000 dengan target utama Soeharto tidak lagi sebagai Presiden di saat pembayaran bunga 3,5% per tahun ditagih pemerintah Indonesia. Tidak tahu, tidak mau tahu atau tidak boleh tahu pengganti pemerintah Orde Baru yang menyebut pemerintah Reformasi berani menyebut orangtua(nya) memerintah dengan biadab. Tahu, pandai, pintar, intelektual tetapi tidak mengerti, tidak mau mengerti atau disesatkan, seperti ini didikan Barat individualistis. Kebebasan Bersuara dan Kebebasan Berserikat yang disuarakan berbalik drastis selayaknya senjata Cakra Baskara berbalik arah menghunjam diri sendiri, Timor Leste merdeka.

BERBALIK, kembali kepada JATI DIRI bangsa, bersumber dan berdasar pada kearifan lokal sesuaikan segala ilmu pengetahuan yang didapat dari manapun sampai MENGERTI. Jangan pernah mengimpikan terjadinya negara federal, NKRI Harga Mati, nampaknya otonomi daerahpun sementara cukup dan ini diamini para wakil rakyat Reformasi. Apakah masih perlu menjual pasal per pasal perundang-undangan demi para pengusaha (investor), ini perbudakan tingkat intelektual seperti layaknya jual fasilitas ruang, kamar dalam Lembaga Pemasyarakatan, Penjara. JANGAN TINGGAL DIAM.

Renungkan PANCASILA yang digali dari Bumi Pertiwi disampaikan Bung Karno tidak menempatkan Sila Pertama pada urutan pertama sejajar dengan Sembah Catur. Menyembah yang tidak nampak menjadi sempurna dengan mengetahui, mengerti bagaimana menyembah yang nampak mata. Orang tua-Mertua, Saudara tua, Guru, Ratu dan Gusti. Sembah Catur

Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga Socionationalisme, Sociodemocratie, Ke-Tuhanan”. TRI SILA. Selanjutnya mohon merenungkan lebih mendalam, terjadi kesalahan dalam membaca lambang Pancasila, sampai saat ini Lambang Pancasila dibaca mulai dari lambang Bintang ke kanan bawah berputar seperti arah jarum jam terbalik. Akan dirasakan berbeda dan lebih mengandung makna yang mendalam bila membaca Lambang Pancasila seperti menuliskan angka tiga (3) dengan urutan yang sama. Sila pertama Merah, Putih, Hitam, Merah dan terakhir Putih. Sehingga Sila Ketiga, Persatuan Indonesia terbaca dilambangkan sebagai Bintang. Bintang dilangit nampak-kelihatan mata begitu dekat tetapi tidak pernah bisa tercapai tangan.

Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “GOTONG ROYONG”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong”. EKA SILA satu-satunya sila, inti budaya bangsa. HOLOBIS KUNTUL BARIS!!   Holobis Kuntul Baris

EKA, SATU, Menyatukan Cipta, Rasa, Karsa dan ketajaman Panca indera, menyatu dalam hati sanubari. Masih banyak undang-undang yang diputuskan ternyata dalam pelaksanaannya justru membatasi diri kita sendiri. Belum mendasar semangat pejabat maupun wakil rakyat “Berilah mereka makan” apalagi penegak hukum. Kebanyakan pemimpin ‘TIDAK TINGGAL DIAM’  Mereka telah berbicara tetapi belum berbuat umumnya masih memiliki mental penghujat. Sulit memberikan kritik dengan tata cara yang baik dan memberikan kontribusi untuk membantu lancarnya pemerintahan dan pembangunan negeri ini. Cenderung membela diri dan bermuka dua ‘Amrih Slamete’. Bersatu ‘SAIYEK SAEKA KAPTI’. Rahayu!!. Sumangga!. Ki Sardjito.-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s