RASA MANUNGGAL

KRESNA, titisan WISNU dipercaya sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia. “Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iki dudu Pangeran”. Waskita, tahu hal-hal sebelum terjadi dan Wicaksana, bijaksana memberi solusi kepada Pandhawa bersama Draupadi yang juga disebut Kresna. Dalam pewayangan tokoh-tokoh Maha Baratha adalah gambaran tubuh manusia seutuhnya. Pandhawa gambaran pancaindera Kresna selalu dan hanya mendampingi, mengawasi manusia melalui pancainderanya.

Hardjuna wujud MATA titik pusat pewujud kesempurnaan hidup, berdampingan sekaligus bertentangan dengan keempat indera lainnya. Pada hakekatnya pancaindera menyajikan semua hal baik (hayu) dari sisi penglihatan, pendengaran, penciuman dan lebih luas lagi. Pancaindera adalah jendela penghubung alam sekitar dengan ketiga jiwa yang terkandung tubuh. Hardjuna (manusia), panengah Pandhawa adalah sisi lain Kresna (Gusti) seumpama daun sirih “beda rupane, ginigit padha rasanya”. Allah, Oknum berpribadi mencipta manusia Adam dan Hawa “menurut … rupa kita” (Kej 1:27). Karena Adam dan Hawa diciptakan menurut rupa Allah, mereka dapat menanggapi dan bersekutu dengan Allah di dalam kasih dan secara pribadi. Kedua manusia laki-laki dan perempuan ini diutus, menjadi utusan, Caraka meneruskan karya penciptaan “sebagai mitra” menyempurnakan Alam Semesta, “Hamemayu Hayuning Bawana”.

Sementara Alam Semesta ciptaan Tuhan dikisahkan dalam kitab suci seakan ditinggalkan dalam keadaan belum tuntas, tidak lengkap. Banyak potensi tersembunyi dengan berbagai rahasia yang menanti untuk dibuka, untuk mendayagunakan dan mewujudkan semua potensi. Sabda, Firman-Nya yang luar biasa “beranak cuculah dan bertambah banyak penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah…..”.  Peristiwa Taman Eden berakibat manusia berpindah keluar pada dasarnya adalah hikmat, kebijaksanaan Tuhan agar manusia melanjutkan perintah Tuhan penuhilah bumi dan berkuasalah.

Mengapa Gempa Lombok Tak Ditetapkan sebagai Bencana Nasional? Artikel Kompas.com  https://regional.kompas.com/read/2018/08/21/17315751/mengapa-gempa-lombok-tak-ditetapkan-sebagai-bencana-nasional. Gempa bumi bermagnitudo 7 pada 5-13 Agustus, menelan korban 436 orang, pengungsi 352.000 orang, kerusakan fisik 67.000 unit rumah, 600-an sekolah.

Bencana ini nampak kecil dipandang dari dunia seutuhnya. Pulau dan benua lain mengalami, flora dan fauna tidak menganggap sebagai hal lura biasa. Secara alami mereka tetap berkembang melanjutkan perutusannya. Alam semesta “bumi, air, geni dan angin” secara geologis terus bergerak mencapai keseimbangannya. Gempa yang ditimbulkannya merusak kedepan untuk memperbaharui generasi berikutnya, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan akan berkembang kembali dengan suburnya seakan memperoleh pupuk. Manusia menjadi saksi kesempurnaan Tuhan Sang Pencipta.

Bencana Alam Sejak tenggelamnya kapal Nabi Nuh, benua Atlantik harus dipahami bahwa Alam Semesta juga diutus untuk menyempurnakan dirinya dan semua isi bumi. Socrates memprediksi telah tercapai peradaban tinggi di Atlantik yang tengggelam. Budaya Dayak misalnya memiliki kemiripan dengan adat budaya Maya di Amerika Selatan – Guatemala. Candi Sukuh di Jawa Tengah, Baksei Chamkrong di Kamboja, Kuil Jaguar Besar dan juga Candi Chichen Itza di Mexico mempunyai kesamaan arsitektur, konstruksi. Terbukti juga bahwa bangunan berbentuk Kuil atau Candi dibangun sebagai pewujud ajaran ketuhanan, tempat penyembahan.

Gempa bermagnitudo 7 SR (Skala Richter) yang terdeteksi Seismograf perangkat pengukur dan pencatat gempa bumi, adalah hasil olah pikir, intelektualitas, kecerdasan manusia. Penemuan bahan bakar air pengganti bensin sebagai contoh lain. Kemajuan di bidang teknologi ini perwujudan perintah “berkuasalah”. Pertanyaan ‘mengapa’, adalah rentetan pertanyaan intelektual bermula dari apa, dimana dan bagaimana. WHEN, kapan semua itu terjadi ditentukan oleh WAKTU, semua peristiwa ditelan waktu, dalam pewayangan diperankan oleh BATHARA KALA. Melihat ketidakberdayaan korban, harapan tertuju pada para pemimpin yang berwenang. Bantuan kemanusiaan mengalir cukup deras, termasuk dari luar negeri tetapi bagaimana (HOW) pengalokasiannya?

Dengan bangga dilaporkan bantuan untuk “Asian Games Rp 30 T, Pertemuan IMF-Bank Dunia Rp 810 M, (sementara di) Lombok 548 Meninggal Hanya Rp 38 M”  (NATALIUS PIGAI, 21/8/18). “Hari ini nalar publik tercederai” dengan kebijakan darurat penanganan gempa Lombok di tangan Jokowi yang mengecilkan suasana kebatinan masyarakat Lombok yang sedang sedih. Memang ironi di negeri kemanusiaan yang adil dan beradab. Ada yang salah, apa salahnya?

Tuhan berkehendak bebas dan maha kuasa, Gempa Donggala dan berlanjut Tsunami di Palu mengingatkan betapa kecil manusia dan alam semesta ini. Tentu ada kehendak-Nya memperbaharui generasi mendatang di muka bumi. Peristiwa alam ini tersaji seakan ingin menciptakan rasa “Takut akan TUHAN”, ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat”. (Amz.8:13). Kemampuan memprediksi gejala gempa, lebih banyak ‘menakut-takuti’ berpeluang “hoax” dan menimbulkan keresahan. Kemanunggalan Rasa pemimpin bangsa dengan Tuhan yang harus selalu diingat (eling). Tidak arogan akan memperoleh petunjuk solusi menyeluruh. Berpikir positif dan tidak menanggapi dengan menyalahkan orang lain dengan membenarkan diri. Bersikap bijaksana adil, bersatu, menyatu ‘MANUNGGAL RASA’.  Kunci Romo

“Kualitas manusia ditentukan oleh sifat, kepribadian dan tindakannya. Adanya keseimbangan sisi yang tampak dan yang tidak tampak mempengaruhi adanya perbedaan sikap. Dikatakan dalam Bhagawat Gita terpengaruh prinsip Tri Guna: “Rajas, Tamas dan Sattvam“. Rajas adalah kegelapan, bodoh yaitu tidak memikirkan baik-buruknya sesuatu. Tamas bertindak hanya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Sattvam cahaya, pengetahuan. Keseimbangan antara Rajas, Tamas dan Sattvam yang menentukan sifat seseorang.

Gempa adalah ketidakseimbangan alam menyangkut seluruh sektor, termasuk sikap, sifat, karakteristik masyarakat pada umumnya dan pemimpin. Perubahan ini Hukum Alam, banyak disebabkan oleh panca-indera yang mendominasi Tri Guna, ketika berhubungan dengan hal-hal di luar diri. Keterlibatan panca-indera yang dipicu dari luar dirinya menimbulkan kerinduan, kemudian muncul keinginan. Dan, bila keinginan tak terpenuhi, timbul rasa kecewa, amarah. Panca indera mata, telinga, hidung, mulut dan rasa menyajikan semua keindahan, kemolekan, kenikmatan tanpa disadari memperbudak cipta, rasa dan karsa. Penebangan hutan secara liar misalnya dilakukan tidak sekedar memenuhi kebutuhan melainkan kesombongan (TAMAS), berakibat bencana tanah longsor.

Manusia nampak tak mampu lagi membedakan tindakan yang tepat (RAJAS). Penyebabnya “keinginan, ketamakan” dalam kegelapan dan sifat dasar manusia harus bekerja, “dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” (Kej.3:17). “Kerja, kerja, kerja”. Sedangkan ketamakan dikobarkan oleh hasil kerja, melenyapkan kesadaran manusia untuk memilah kebutuhan dan keinginan, akhirnya ia binasa terbakar oleh api nafsu, keinginannya sendiri. Manusia tak dapat berhenti bekerja untuk memenuhi keinginannya. Hanya dengan “Bekerja Tanpa Pamrih” manusia mampu melepaskan dirinya dari keterikatan duniawi.

Kunci keberhasilan manusia terletak pada pengedalian diri, mengendalikan panca indera. Sebaliknya bila terkendali oleh pancaindera pasti binasa. Panca indera mengendalikan raga, dengan menguasai pancaindera, melalui pikiran. Di atas pikiran adalah intelek, ‘hikmat’ yang ditempatkan Tuhan dalam kecerdasan berkemampuan untuk membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat – itulah KESADARAN. Bertindaklah sesuai dengan bekal kesadaranmu petunjuk Wisnu (Krisna=Kristus) kepada Hardjuna (manusia).

Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu” (Amz:1:8). Petunjuk Salomon yang dikenal sebagai Nabi Sulaiman. “DENGARKANLAH DIA” akan diperoleh solusi terbaik dan dapat melakukan tindakan penuh rasa cinta kasih. HARJUNA mendengarkan arahan pamungkas menjelang dimulainya perang Bharata Yudha. Tugas utama seorang Ksatria membela kebenaran dan berperang untuk mewujudkannya. Ksatria melarikan diri dari tanggungjawab ini, tercatat sejarah dan akan menyebut pengecut. 

Dalam Maha Baratha menghadapi hal-hal yang besar Hardjuna melakukan samadi paling sedikit tiga kali Menyatukan Rasa, ‘RASA MANUNGGAL’ dengan Wisnu. Menyatukan pancaindera melalui Cipta, Rasa, Karsa. Lakon Makutha Rama saat mendapatkan Wahyu Keprabon (Hasta Brata) dari Begawan Kesawa Sidhi. Petunjuk bersikap, perilaku seorang raja, pemimpin mengelola kerajaan. Dalam lakon Kresna Gugah berlomba dengan Kurawa mendapat Wahyu, bimbingan langsung KRESNA dan menolak bantuan Raja 1.000 negara. Ketiga saat menunggu Gong dimulainya perang Bharata Yudha timbul keraguan Hardjuna memberantas pembiaran korupsi dan bermacam tindak kejahatan membunuh Bisma, Dorna dinilai sebagai dosa besar, termasuk keluarga Kuru. Dalam Bhagavad-gita keraguan ini terkupas tuntas oleh Kresna tentang kebenaran mutlak. Sebagai—Kesempurnaan Pelepasan Ikatan—.

Hasta Brata mengajarkan 8 sikap kedewaan yang harus diteladan seorang Raja. Delapan sifat alam semesta, Bantala (Bumi; Wisnu), Surya (Matahari; Surya), Kartika (Bintang; Ismaya), Candra (Rembulan; Ratih), Samodra atau Tirta (Baruna), Akasa (Langit; Indra), Maruta (Angin; Bayu), Agni (Api;  Brahma). Alam memberikan kelembutan, kesejukan, keindahan, kehidupan, keganasannya secara ADIL

Pada awal pemerintahannya, Salomo mengasihi Tuhan dan hidup menurut ketetapan-ketetapan-Nya Penuh hikmat, kecerdasan “Padaku ada nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan. Karena aku (hikmat) para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan. Karena aku para pembesar berkuasa juga para bangsawan dan semua hakim di bumi. (Amz 8:14-16). Pada akhir hidupnya, Salomo, Sulaiman telah berpaling dari Tuhan. Cara hidupnya yang serba mewah segera mendatangkan bencana ke atas kerajaan itu.

Mencermati kepemimpinan dewasa ini, sangat relevan mengutip kembali tulisan Niccolo Machiavelli dalam bukunya The Prince dan terj. Robert M. Adams, ed.2 (New York Norton, 1992) 23#7:

Jika anda harus membuat pilihan, lebih aman ditakuti daripada dicintai. Sebab merupakan aturan umum tentang manusia bahwa mereka bersifat tidak tahu terima kasih, tidak dapat dipercaya, pembohong dan penipu, takut bahaya dan rakus keuntungan”

Para pengeran yang paling banyak keberhasilannya ialah mereka yang tak ambil pusing untuk menepati janji tetapi yang tahu bagaimana memanipulasi jalan pikiran orang dengan cerdik. Pada akhirnya mereka mengungguli orang-orang yang mencoba bertindak jujur”.

 “Anda harus menjadi pembohong dan hipokrit besar. Manusia berpikiran begitu sederhana, dan begitu banyak dikuasai oleh kebutuhan mendesaknya, sehingga orang yang penuh tipu daya akan selalu menemukan banyak orang yang siap untuk ditipu”. (Heroic Leadership karya Chris Lowney 2005, hal. 29)

Pertanyaannya: “Itukah sesungguhnya yang kita inginkan sebagai tempat berdiri para pemimpin kita? Itukah tempat anda ingin berdiri”? Empat Pilar kepemimpinan dibawah ini bisa menjadi acuan bagi seluruh pemimpin yang telah meresapi Hasta Brata.

Saya adalah Hardjuna, memiliki semangat kepahlawanan, Heroisme yang didorong oleh semangat magis (lebih tinggi) membesarkan hati orang untuk membidik tinggi dan menjaga mereka secara aktif terarah kepada sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih besar.

Pandawa pewaris tachta tidak terkurung ritus kerajaan, dibuang ke hutan Dandaka tidak terkungkung kegelapan, mampu meretas banyak masalah tetapi tetap lepas-bebas, Ingenuitas mendisposisikan orang tidak sekadar untuk berpikir di luar batas-batasnya melainkan hidup di luar batas-batasnya.

Tanpa membedakan RAS, manunggal dalam kebhinekaan, berbelarasa dengan tulus ihklas, Cinta Kasih menumbuhkan tujuan dan gairah kepada ingenuitas dan heroisme.

“Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga” hikmat RASA sadar. Kesadaran Diri berakar di dalam dan menyuburkan keutamaan-keutamaan lain yang terkandung di dalam kepemimpinan.  (cetak italic, Heroic Leadership, hal. 233-266) Mencintai Tuhan, tan kasat mata hanya dengan sikap mencintai alam semesta dan sesama manusia ciptaannya yang tampak. Manunggal Rasa.

Jadilah menurut kehendak rakyat, mereka mewakili suara Tuhan, Fox Populi, Fox Dei. Pileg dan Pilpres bersamaan. Kemanunggalan Rasa pemimpin dengan rakyat hanya dengan menemukan HIKMAT artinya hidup dan berpikir sesuai dengan kebenaran, jalan, dan pola Allah. Hikmat artinya mendekati seluruh kehidupan dari sudut pandangan Allah, percaya bahwa segala sesuatu yang dikatakan Allah itu benar, dan merupakan satu-satunya standar hidup yang layak. Memperoleh hikmat jauh lebih baik daripada memiliki emas dan perak (Ams 3:13-14).

Pemahaman Hikmat dalam sila keempat sampai saat ini selalu dilompati, lebih menekankan pada permusyawaratan dan perwakilan. Kecenderungan para wakil rakyat melakukan musyawarat untuk mufakat, ‘piye penake’. Pelan-pelan jeratan kebiasaan ini akan terkikis dengan keteladanan Hasta Brata dan perwujudan Empat Pilar kepemimpinan (Heroic Leadership) Kesadaran, Ingenuitas, Heroisme dan Cinta Kasih. ‘Hikmat ini hanya datang kepada mereka yang mencarinya melalui hubungan yang benar dengan Allah’ (ayat Ams 1:7) dan mempelajari Firman-Nya dengan rajin (Ams 3:1-3).

Kalangan tertentu memandang kisah pewayangan seolah hanya peperangan dari perang gagal, perang kembang, perang brubuh. Mereka menarik kesimpulan orang Jawa suka perang, suka bertengkar, suka berdebat. Apalagi melihat sabetan perang, ketangkasan para dalang seperti Ki Manteb Sudarsono diiringi gamelan dan suara sinden asing. Ilaria dari Italia melantunkan gending Sarung Jagung. 

Melawan lupa dalam persidangan kasus korupsi selama ini jelas digambarkan dalam Bharata Yudha adalah pertempuran utama Hardjuna (mata)  melawan Karna (telinga). Artinya tidak semua yang didengar dapat dibenarkan sebelum dilihat, dibuktikan kebenarannya. Berbelarasa tidak dengan melakukan somasi keras, perlu diawali dengan mengambil hikmat dari apa yang dilaporkan. Hal ini seharusnya menjadi landasan kecerdasan pemimpin dalam bersikap dan mengambil kebijaksanaan. Perlu diingat, ELING setiap langkah dan gerak pemimpin dalam pantauan masyarakat. Kesalahan adalah kesalahan, tidak cukup dengan minta maaf. 

“Eling eling sapa eling balia maning; (MANUNGGAL RASA) sayur pace lembayung pait rasane, rama; mangsa borong mangsa borong. mangsa borong kula nderek sakersane (Jadilah Kehendak-Mu)”. Sayur pace lembayung pait rasane, mangsa borong kula nderek sakersane. Ungkapan tulus masyarakat mengikuti, patuh, nderek seperti yang kehendaki para pemimpin yang mau melayani bukan minta dilayani. Sumangga!!. Rahayu!. Ki Sardjito.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s