TITISING GRAHITA

ABIYASA, KRESNA DWIPAYANA putra Setyowati, Durgandini, Lara Amis dengan Begawan Palasara saat menyeberang Kali Yamuna. Berpisah ketika terjadi lomba perebutan permaisuri dimenangkan Sentanu menggendong Dewabrata, sebelum kedatangan Palasara menggendong Abiyasa. Bathara Narada memisahnya dengan janji kemulian mendatang bagi yang mengalah. Palasara memilih janji itu dan mengasuh Abiyasa di pertapaan. https://nakulasahadewa.wordpress.com/2015/09/12/kriwikan-dadi-grojokan/#more-724

SETYOWATI dan Prabu Sentanu berputera Citragada dan Wicitrawirya. Dewabrata (Resi Bisma) menikahkan mereka dengan Ambika dan Ambalika. Keduanya meninggal sebelum berputra. Setyowati menginginkan keturunan dari putranya sendiri, maka Abiyasa yang berstatus pendhita dimohon bersedia memberi keturunan melalui Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Penerus wangsa Baratha.

Pada malam bulan madu, Abiyasa berkulit hitam, berjenggot lebat. Matanya bersinar menakutkan. Ambika memejamkan mata tidak berani memandang muka Begawan Abiyasa. “Engkau kelak akan melahirkan anak laki-laki dengan keadaan buta kedua belah matanya. Ia bernama Destarasta”. Demikian juga ketika memasuki peraduan Ambalika membuat takut dan terkejut memalingkan muka dengan wajah pucat: “Ambalika, kelak putramu akan tengeng dan pucat mukanya seperti ketika engkau melihatku. Putramu bernama Pandu”.

Dewi Setyowati mengajukan permintaan sekali lagi agar Abiyasa menurunkan satu putra laki-laki tanpa cacat. Dewi Datri, dititahkan menerima kedatangan Abiyasa. Dengan senang hati dan gembira menerimanya, tak ada pikiran apapun dalam hatinya. Ia melahirkan Yamawidura yang bagus rupanya, suci hatinya, pandai dan setia kepada dharma, tetapi timpang kakinya karena ketika menghadap Abiyasa ia berjinjit-jinjit.

Adiparwa karya Prabu Dharmawangsa Teguh Hananta Wikrama abad ke XI yang kemudian digubah R. Ng. Ranggawarsita sedemikian rupa sehingga sesuai dengan alam pikiran dan filsafat nusantara yang sifatnya antropocentris bukan dalam arti pantheistis. Tetapi hanyalah memandang manusia sebagai titik sentral dari segala yang tercipta, ”dumadi” (eksistensi).

https://wayang.wordpress.com/2010/07/19/destarastra-yang-buta-pandu-yang-pucat-itu-karena-akibat-dari-tindakan-grusah-grusuh/

“SABDA PENDHITA RATU”, dipahami sangat akrab dalam sanubari WONG JAWA, artinya apa yang dikatakan seorang Pendhita dan Ratu terjadi, ‘Sabda Dadi’. Apapun yang diucapkan dijadikan teladan untuk hidup bermasyarakat. Menjadi tanggung jawab moral bagi punggawa untuk melaksanakannya. Ucapan Abiyasa akibat  sikap ketiga istrinya menjadi kenyataan, “tumus”, kisah ini menunjukkan Abiyasa telah mencapai tingkat supranatural tinggi ‘TITISING GRAHITA”, ‘weruh sak durunge winarah’. Kisah semacam ini dipercaya masih eksis sampai saat ini, ‘ucapan orang tua’ seolah sabda Tuhan secara tidak langsung.

Belum terbesit dalam sanubari manusia Indonesia yang dikatakan keturunan budak, bahwa ucapannya mewakili kehendak Allah. Ucapan sebagai hasil olahan, analisa yang mendalam Cipta, Rasa dan Karsa tiga jiwa titipan Allah, terucap seolah tanpa kontrol. Pancaindera jendela tubuh selalu mengirimkan yang terindah, menguasai tiga jiwa. Ketika Ambika menutup mata dan Ambalika pucat, berpaling, terucap ‘gambaran’ kedepan, Destarastsra terlahir buta dan Pandhu terlahir tengeng (muka berpaling kekiri) dan berwajah pucat.

“Hanya orang ‘budek‘ dan ‘buta‘ saja mengkritik perkembangan pembangunan”. Mata adalah pembenar, alat pembuktian kebenaran, tayangan TV “tragedi hari pahlawan di Surabaya”, BENAR. Kulit merasakan sentuhan, hentakan atau pukulan dan hidung mencium aroma spaghety, tongseng, sayur asem berbeda, semua kebenarannya dibuktikan oleh indera pengecap. Semua itu oleh Pancaindera dikirim ke jiwa Cipta, Rasa dan Karsa dengan kecepatan tinggi, sehingga analisanya terfokus sebagai suara hati. Jiwa Karsa mengungkap dalam UCAPAN, berkembang menjadi keinginan, meningkat menjadi kehendak dan mulai tertarik daya magnit (law attractif) niat sejenis tanpa henti menuju kesempurnaan.

Destarastra terlahir buta, dalam kebutaannya memilih istri diantara tiga putri boyongan Pandhu. Dewi Anggendari terpilih, dengan penuh kecewa menerima, harapan dipersunting Pandhu. Mulai saat itu ia menutup mata sebagai tanda solidaritas. Buta dalam pengertian negatif dan mendalam mendendam Pandhu, kedua istri dan anaknya. Dengan menutup mata, Anggendari tidak mau tahu anaknya harus menjadi pewaris tachta Astina. Sepeninggal Pandhu tachta Astina dikuasakan pada Destarastra, Sengkuni adik Dewi Anggendari berperanan penting dan mulai mbudeg, micek, ndableg”, penuh kelicikan  terus berusaha melenyapkan Pandhawa.

“Kowe kuwi ASU” terucap melalui proses diatas. Ki Enthus Susmono dalang Wayang Kulit sekaligus koreografer wayang yang luar biasa, mengahiri hidupnya sebagai Bupati Tegal tidak merasa terhina dengan sebutan itu, bahkan berbangga hati. Asu, anjing satu-satunya mahluk yang mendampingi Puntadewa ke Nirwana, ‘Pandhawa Muksa’. Drupadi istrinya gugur lebih dulu, diikuti Sadewa, lalu Nakula, berikutnya Hardjuna dan Bima terakhir. Puntadewa ‘ngracut’, melepas Drupadi, sarana terang sejati, Sadewa perasaan sama (setingkat) dewa, Na(ng)kula sikap berpusat pada diri sendiri, Hardjuna lanange jagad, mengejar keindahan dan kenikmatan, Bima sikap mendominasi kejujuran dan keperkasaan. Mereka semua harus dibersih, ‘diracut’ Puntadewa untuk mencapai Kasampurnaning Pati. Digambarkan nggandheng, menuntun anjing, ASU (Aku Sejatine Urip).

WIRANGRONG dalam Serat Wulang Reh mengingatkan terutama Narendra, para pemimpin tertinggi, bahkan sampai ke lurah, RT., RW. “Den gemi marang ing lathi”, artinya dalam kedudukannya sebagai Ratu berhati-hatilah berucap. Meski disaat membahagiakan rakyat, membagikan 5.000 sertifikat tanah untuk masyarakat Kebayoran Lama (23/10), “Saya kelepasan, saya sampaikan ‘politikus sontoloyo’ ya itu. Jengkel saya”.

Sebutan ‘politikus’ adalah “gebyah uyah” artinya menyamaratakan, tidak fokus, tidak semua politikus melakukan hal-hal sontoloyo. Menegur punggawa harus jelas kesalahannya  “lamun andukani, den dumeling dosanya”. Tidak sulit bagi pimpinan tertinggi mengerahkan kecermatan inteligen menyebut “dumeling dosanya”, jelas kesalahan, kesontoloyoan “mring abdi kang manggih duka”. Dari kelompok koalisi atau oposisi,  kalau dia seorang anggota tentu pimpinan tertingginyalah yang wajib memberi teguran. Ini bukan tindak diktatorisme melainkan mencegah kebohongan dan mengawal kebenaran.

Pernyataan ‘politik genderuwo’ muncul juga di saat pembagian sertifikat tanah masyarakat Kabupaten Tegal (9/11). Siapa genderuwonya, “kalau wapres tidak dari partai saya”, “tidak ada tenaga kerja Cina illegal”, sementara pengusaha Cina kesal, tenaga kerja lokal dengan alasan sembahyang jam 11.00 telah meninggalkan pekerjaan kembali diatas jam 13.00. Wirangrong menandaskan anjurannya “milane lamon miraos, dipun ngarag-ngarah  ywa kabanjur, yen sampun kawijil”. Apa yang telah terucap tidak bisa ditarik kembali “tan kena tinututan”, setiap ucapan akan disambut dengan dukungan atau sebaliknya, saut menyaut tanpa henti menerjang kesemua sasaran.“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu”. (Mat. 24:35)

Perjanjian Lama dalam kitab Yeremia menuliskan firman yang didengar (tidak budeg): “Apabila bangsa ini–baik nabi ataupun imam–bertanya kepadamu: Apakah Sabda yang dibebankan oleh TUHAN?, maka jawablah mereka: Kamulah beban itu!” (Yer. 23:33). “kamu telah memutarbalikkan perkataan-perkataan Allah yang hidup” (Yer. 23:36).

“Kamu telah memutarbalikkan” kalimat ini ada dalam kitab suci, kalau ini dimengerti sebagai perintah “boleh” memutarbalikkan perkataan-perkataan Allah yang hidup itulah yang terjadi, kenyataan akhir-akhir ini penuh pemutarbalikan ucapan orang lain. Gus Dur menyebut hal ini sebagai “plintiran”. Sudjiwo Tedjo dalam forum ILC “Sampai Kapan?”

PANGKUR, “Ana catur mungkur, ana bapang nyimpang”, JANGAN TAKUT ada ejekan, sindiran dan sejenisnya ambil sikap membelakangi, kebelakangkan (mungkur, pungkuri) dan bila ada penghalang simpangi, pilih jalan lain. Tidak perlu membalas atau memberi perlawanan secara frontal, temukan baiknya dan jangan salahnya. GENDRUWO gambaran menakutkan berbeda dengan SETAN tidak pernah menakutkan bahkan memamerkan semua yang glamor, indah, mobil mewah, rumah megah, uang melimpah, istri cantik dan yang lebih cantik. Ada lagi, “dhingin wong madati, pindho wong ngabotohan, kaping tiga wong durjana” dikenal sebagai tindak MA LIMA. Petiklah, Raihlah semua itu dengan berbagai cara ‘sontoloyo’. Kekeliruan yang diulang-ulang akan dianggap benar sebagai kebenaran. Semua ini bisa disamarkan, tidak tampak seperti Gendruwo.

Gendruwo mahluk tak tampak, ‘tan kasat mata’, baru nampak melalui ucapan, sikap, tindakan semua yang berwujud. Wujud ini bisa di luar diri atau bahkan diri sendiri sebagai ungkapan ketakutan. Takut salah omong, takut kebohongannya terungkap. Saul, raja Israel takut dapat serangan orang Filisten (sekarang Palestina), Goliat. Daud yang masih remaja, penggembala domba mampu menjatuhkannya hanya dengan ketepel mengenai kepala Goliat yang tidak tertutup perisai kepala. ”Janganlah takut kepada raja Babel yang kamu takuti itu. Janganlah takut kepadanya, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku menyertai kamu untuk menyelamatkan kamu dan untuk melepaskan kamu dari tangannya” (Yer. 42.11). Sampai sekarang Tuhan tetap berfirman “Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” (Mat. 8:18). “DENGGARKANLAH”, “aja mbudeg”.

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. (Yoh. 14:27). Bersatu, Persatuan adalah dambaan setiap orang, namun cukup sulit mencapainya. Persatuan Indonesia, Kesatuan Indonesia harus dicapai dan harus dipertahankan untuk memperoleh Damai Sejahtera, tidak seperti yang diberikan oleh dunia. Pesan Cak Nun Untuk Kedamaian Indonesia

Pohon Beringin kurang tepat dijadikan lambang Persatuan Indonesia. Hanya satu tujuan berteduh dibawah pohon rindang sehingga banyak orang berteduh. Keteduhan dan kumpulan orang memberi peluang pedagang minuman pemuas dahaga, berkembang pada persainganan es cendol, es serut, es campur dan sebagainya, bukan persatuan. Sulitnya mencapai persatuan meraih kemerdekaan, membangun desa dan yang paling sederhana persatuan pria dan wanita menjadi suami istri memerlukan perjuangan. Kebutuhan nyata yang membahagiakan, nampak didepan mata, sangat sulit dicapai. Indahnya Bintang dan gemerlapnya memberi rasa sejuk, damai dan tenteram nampak nyata di langit namun tidak seorangpun mampu meraihnya. BINTANG lebih tepat sebagai lambang Persatuan Indonesia, sesuatu yang nampak di depan mata, namun mustahil diraih. Kebhinekaan bukan masalah, TUNGGAL IKA yang harus diraih. “Adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan”. Keliru membaca lambang memungkinkan terjadinya sesat pikir. Jauh Tinggi ke tempat kau berada, Bintang Kecil.

Dana Pembangunan Desa, Pembagian Sertifikat Tanah, Prosentase Saham adalah program nasional yang memerlukan kesatuan persepsi dan tindakan. Semuanya memerlukan waktu (KALA) kapan disampaikan (disini-kini). Tanpa memperhatikan hal ini pasti menimbulkan kerancuan, dalam pewayangan Jawa dikatakan “dimangsa Bathara Kala”, perlu diadakan RUWATAN, musyawarah. Artinya pencapaian tujuan memerlukan satu persepsi, pentahapan dan juga kebijakan berlandaskan arahan HASTABRATA seperti dikisahkan dalam Lakon Makutha Rama. Pemaknaan Delapan Dewa utama yang berperan mengatur dunia ini dan mampu menundukkan Bathara Kala, yang harus dipahami dan dikuasai oleh seorang NARENDRA (Presiden) dan seluruh pemimpin dalam tingkatannya.

Persatuan Indonesia, artinya BERSATU, MANUNGGAL. Menyamakan rasa, Manunggal Rasa dengan masyarakat bukan sekedar mewakili. Cukup nyata tindakan Wakil Rakyat yang condong mewakili partai, mereka inilah politikus. Calon bupati Kuningan setor mahar ke kader parpol, parpol dinilai Lindungi Politik Uang dan Mahar, diharapkan parpol tidak melakukan tekanan pada kepala daerah berita ini dikupas Media Indonesia edisi 13/11 menunjukkan tidak adanya persatuan para politikus parpol dengan masyarakatnya, lebih mewakili diri sendiri dan parpolnya. Siapa yang Sontoloyo? Siapa Gendruwonya? Sampai kapan? https://hendricussardjito.wordpress.com/2018/10/09/rasa-manunggal/

TITISING GRAHITA, ketajaman visi seorang pemimpin, kemampuan melihat kedepan harus dimengerti sebagai pembekalan illahi. Kemampuan supranatural ini bagi  Pemimpin diterima begitu saja tanpa disadari seperti halnya Raja Daud si gembala dan Raja Sulaiman (Salomon) yang sangat bijaksana. Sontoloyo, “saya kelepasan” wujud tingkat kesadaran kemudian tidak mampu menarik kembali apapun yang “sampun kawijil”, ternyata PRESIDEN BENAR. Media Indonesia, media lain telah memaparkan sikap ‘SONTOLOYO’ dan ‘GENDRUWO’ para politikus parpol. Sebagai PRESIDEN Bapak Susilo Bambang Yudhoyono juga menerima karunia TITISING GRAHITA ini, beliau tidak keberatan kader Partai Demokrat yang sontoloyo terjeblos tindak korupsi ditindak sesuai hukum. Penindakan terhadap ‘sontoloyowan’ ini BERLANJUT tidak hanya ke depan nanti, tetapi juga ke belakang termasuk kasus Century maupun kasus BLBI, dimana efek jera?. Berbalik, artinya Tobat.

Raja (Presiden), patih, menteri semua punggawa adalah Satria bukan pandita. Tentu diharapkan bersikap sebagai Satria Sejati harus bisa menjalankan makna filosofis dari kata Satria. Yang asalnya dari akronim Sad (enam), Tri (tiga) dan Ya (sanggup). Enam yang dimaksud adalah: eling, percaya, mituhu, sabar, rila lan narima. Yang artinya kepada Tuhan kita selalu ingat, percaya yang didasari rasa sabar, rela dan menerima. KUNCI

Keliru membaca lambang (PANCASILA) memungkinkan terjadinya sesat pikir. Eling, percaya, mituhu, sabar, rila lan narima hendaknya disadari sebagai sarana utama untuk tidak bertindak ‘SONTOLOYO’ dan bersikap seperti ‘GENDRUWO’. Tidak mudah tergantung pada niat, KUNCI, dikunci.  Sumangga!!. Rahayu!. Ki Sardjito.-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s