All posts by hendricussardjito

CAHYA PININGIT

 

LESMANA MANDRAKUMARA putra Dewi Banowati dan Prabu Duryudana ahli waris Hastinapura. Duryudana bermimpi akan turunnya Wahyu Cakraningrat Pancering Ratu Tanah Jawa mendesak Lesmana melakukan olah tapa untuk menjemputnya. Atas bimbingan Dorna tercipta kedekatannya dengan Bathari Durga membuat Lesmana yang terbiasa hidup bermalas-malasan, penuh kemewahan menjadi percaya diri akan memperolehnya. Tergoda auman harimau takut diterkam, gagal tapanya. Continue reading CAHYA PININGIT

Advertisements

RATU SATRIA PINANDITA

BEGAWAN DORNA atau RESI DORNA masa muda bernama Kumbayana guru besar Kurawa dan Pandhawa. Menuju Astinapura dari negeri seberang, negeri Atas Angin Kumbayana naik Kuda Terbang, Kuda Sembrani Betina wujud kutukan Dewi Wilutama dengan janji (UNI) siapapun menyeberangkan, bila pria menjadi sahabat, bila wanita diperistri. Terjalin keakraban selama penyeberangan selayaknya sahabat lama menempuh perjalanan bulan madu yang jauh. Sesampainya di Astina keduanya turun, tiba saat Kuda Sembrani melahirkan Aswatama wujud manusia berkaki kuda dan Dewi Wilutama terbebas dari kutukan kembali wujud Bidadari penuh pesona. Continue reading RATU SATRIA PINANDITA

MARANG GAMBARANING

DEWI SAWITRI, DEWI SUKESI dan DEWI DRUPADI perempuan yang sarat dengan kemuliaan, dalam pewayangan ditampilkan berbeda dengan tokoh perempuan lain. Dewi Sinta, Dewi Anggraini dan Dewi Sembadra ditampilkan penuh kelembutan, cinta kasih dan kesetiaanya sebagai isteri. Bathari Durga, Dewi Kekayi, Dewi Anggendari dipenuhi dengan rasa dengki dan iri hati yang membara hampir tidak bisa dipadamkan dan banyak menimbulkan keonaran dalam masa hidupnya. Peran wanita dalam pakem pewayangan Continue reading MARANG GAMBARANING

PADHANG JAGADE

Wong JAWA yen dipangku MATI’ artinya Orang JAWA kalau dipangku tidak sama  kuat (PADHA), tidak memiliki keJAYAan lagi. Wong Jawa memiliki AKSARA (hidup, bersuara) bukan abjad (huruf mati), seperti ABC – XYZ. Aksara JAWA RA misalnya untuk dibaca R harus dipangku, dimatikan diberi sandhangan PANGKON. Memaknai friksi penulisan aksara ini timbul pemahaman yang menjadi falsafah bersikap dengan meninggikan, mengedepankan, memuliakan, menimang (mangku) wong JAWA akan MATI, cara efektif menundukkan, mengendalikannya. Hal ini nampak dalam usaha penjajah Continue reading PADHANG JAGADE

NGUNDHUH WOHING PAKARTI

SANG HYANG WENANG, Sang Hyang Wening mencipta telur pecah menjadi 3 bagian, kulit, putih dan kuning telur, ketiganya melayang-layang. Cangkang disabda menjadi Sang Hyang Antiga, Teja Mantri dikenal sebagai TOGOG, putih telur disabda menjadi Sang Hyang Ismaya, SEMAR sedangkan kuning telur disabda menjadi Sang Hyang Manik Maya, BATHARA GURU berparas sangat tampan, bertangan empat, pemimpin para dewa. Bathara Guru berkuasa, memberi kuasa dan kewenangan, membagi karunia berupa pusaka, kesaktian atau hukuman kedalam kawah candradimuka, neraka kepada semua titah, mahluk dibumi. Continue reading NGUNDHUH WOHING PAKARTI

HAMBEGING PAMONG PRAJA

ABIYASA, disebut juga RESI WIYASA eyang para Kurawa dan Pandhawa, dikisahkan menempati padepokan Wukir Retawu sekarang Gunung Muria, di Jawa Timur tidak jauh dari Gunung Brama (Brahma, Abraham) dataran tinggi Malang Selatan yang menyimpan prasasti Kerajaan Hastinapura. Sedangkan Alas Wanamerta terletak di Cileungsi Jawa Barat, hadiah Destarastra bagi Pandhawa dibangun Kerajaan Amartapura. Wukir Retawu berubah nama menjadi SAPTA ARGA yang dipercaya sebagai padepokan ABIYASA di Gunung Salak mendekati Amarta, Cileungsi. Continue reading HAMBEGING PAMONG PRAJA

KECEMPLUNG LUWENG

ARYA GANDAMANA adalah putra Gandabayu dengan permaisuri Trilaksmi, reinkarnasi pendeta muda Resi Jarwada pernah menyerang kahyangan. Putra Mahkota Pancala ini menyerahkan Mahkotanya kepada Drupada suami Gandawati adiknya. Gandamana murid Pandu memilih sebagai patih Hastina. Kisah ini tidak ada dalam wiracarita Mahabharata. Continue reading KECEMPLUNG LUWENG