Tag Archives: adil

ADILING GUSTI KANG MAHA KUWASA

PRABU PANDU DEWANATA, beristeri Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Kedua istri Pandu tahu setelah Begawan, Resi Kimindana bercinta dengan istrinya menyamar sebagai kijang, keduanya mati dipanah Prabu Pandu. Terucap kutuk Resi Kimindana ‘dikala engkau sedang bercumbu rayu dengan istrimu, disitulah sampai ajalmu’.

KUNTHI memiliki mantra sakti pemberian Resi Durwasa, Adityahredaya, aji Gineng yang dapat memanggil dewa-dewi. Mendengar kutukan itu, seijin Prabu Pandu Dewanata, Dewi Kunthi berputera Puntadewa, Wrekudara, Hardjuna dan Dewi Madrim berputera kembar Pinten dan Tangseng (Nakula-Sadewa).

DEWI MADRIM mohon berbulan madu mengendarai Lembu Andini, tunggangan Bathara Guru, atas jasa-jasanya dikabulkan. Sekembali berpesiar Prabu Pandu Dewanata tergerak untuk bercinta dengan Dewi Madrim, saat ini ADILING GUSTI terwujud sejalan ucapan, sabda, kutukan Resi Kimindana.

BRATASENA mengetahui kesalahan ayahnya, mengetahui jasa-jasanya pada para Dewa, merasa sedih karena Prabu Pandu dan Dewi Madrim menerima (SELEH, Semeleh) sikap tidak adil para Dewa, dijatuhi hukuman masuk Kawah Candradimuka. Peristiwa ini mengggugah semangat Bratasema mendapat Banyu Suci Perwitasari, Tirta Amerta, Tirta Pawitra, Air Kehidupan, Air Hidup yang mampu mengubah seseorang.

HAMBEGING BANYU (air) selalu mengalir ketempat yang lebih rendah, menerjang semua penghalang hingga mencapai ketinggian yang sama, WARATA (rata=adil). Rasa adil, KEADILAN yang dewasa ini menjadi harapan, menjadi kehausan masyarakat seolah impian yang jauh dicapai. WATAK AIR salah satu dari delapan keteladanan bagi para pemimpin (HASTA BRATA) adalah kewenangan Nalendra, Raja, Pemerintah, Eksekutif mewujudnya HUKUM Adil. https://susisardjito.wordpress.com/2016/10/15/makutha-rama/

HUKUM ADIL yang digodog, diolah dan seakan dilahirkan oleh YONI, Gedung MPR/DPR (gambaran Ibu Pertiwi) karya Agung Bung Karno sebagai bayi yang molek, terlahirnya masa depan penuh harapan, kedamaian, keadilan, ketenteraman dan penuh cinta kasih. “Gemah ripah loh-jinawi, tata-tentrem, kerta-raharja”. Undang-undang yang dilahirkah para anggota parlemen, Legislatif, DPR adalah bayi-bayi yang terlahir sehat, cerdas, ceria. Tidak semestinya selalu dilakukan revisi, perbaikan, bahkan Angket yang nampak gaduh untuk disempurnakan, agar menjadi semakin baik, makin sempurna meraih ADILING GUSTI. ADIL, tanpa membedakan pembuat HUKUM (oknum Legislatif) maupun pelanggar hukum (oknum Eksekutif maupun oknum Yudikatif).

WATAK AIR ADIL atas semua ciptaan, daerah, kota, negara yang kalingan (terhalang tingginya) gedung, lembah, ngarai maupun gunung sekalipun bukan masalah, AIR tidak akan terhenti membagi keadilan. Menguap berubah wujud, menjadi AWAN, MEGA, MENDUNG terbang mengangkasa dan jatuh ke bumi sebagai hujan (udan, ngudani, menelanjangi kedustaan).

ADILING GUSTI tidak akan terhalang oleh tingginya kedudukan, jabatan, bupati, gubernur, hakim, hakim agung, anggota DPR, ketua DPR yang ingin menutupinya, menciptakan kegelapan, mendung setebal dan setinggi apapun. Hukum Adil tidak dicetak lagi diatas batu loh, kitab undang-undang maupun kitab suci tetapi tergurat dalam hati sanubari insan. ADILING GUSTI dumunung Telenging Ati, sikap Adil Tuhan, tertanam dalam hati sanubari setiap orang. Hati Sanubari tidak  pernah bohong pada diri sendiri

HIMINDHAMEGA, MENDHUNG. Awan selalu diatas dan mengatasi semua, anglimputi (menyelimuti) semua mahluk tanpa membedakan, bersikap adil. Disaat awan berubah mejadi hujan, tidak membedakan tinggi-rendahnya gunung-lembah, hutan-padang belantara, desa-kota maupun gubuk-kerajaan dia jatuh dimanapun dan kapanpun. Ini gambaran sikap adil seorang raja harus memilih para penegak hukum yang mampu dan rela (ihklas) menegakkan sifat adil tanpa pertimbangkan sanak-saudara, kerabat maupun sahabat, siapapun yang wajib diadili harus diadili setimbang dimata hukum dan dilandasi hukuman setimpal. https://susisardjito.wordpress.com/2016/02/02/anggodo-balik/

Jangan kamu lalim dalam hukum; jangan kamu memandang akan muka orang kecil atau mengindahkan muka orang besar, melainkan hendaklah kamu membenarkan hal sesamamu manusia dengan adil. (IM. 19:15).

Lembaga Legislatif yang selalu mengklaim dirinya Wakil Rakyat, mewakili suara rakyat, VOX POPULI VOX DEI layaknya menjauhi penafsiran sebagai VOX DEI yang harus dilaksanakan Legislatif maupun Yudikatif. Trias Politika bermakna Mitreka Satata, tidak menempatkan Legislatif selaku pembuat hukum tertulis (undang-undang), PALON, Palonan, Sabdo Palon diatas yang lain. ”… sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi ROH menghidupkan”. (2Kor 3:6)

MASYARAKAT HAUS”, “AKU HAUS” bahkan ngorong (sangat kehausan) memperoleh perlakuan ADIL. “Berilah Aku minum” (Yoh, 4:7). Kata perempuan (Samaria) itu kepada-Nya: “dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Jawab YESUS kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,…. . Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

BRATASENA BRATASENA tidak cukup di negeri ini, para pemimpin, khususnya pelaku peradilan belum mengecap AIR HIDUP, TIRTA PAWITRA, BANYU PERWITA SARI, mereka fasih menjalankan dan mewujudkan hukum yang tertulis untuk menghukum bukan timbangan bagi keputusan sikap adil. Belum terbesit pemikiran lembaga peradilan menjadi lembaga pengampunan, betapa sejuknya mendapat pengampunan. Bilitong Berenang

Pengampunan, semangat mengampuni, memaafkan nampak belum merata bahkan semakin menjauhi sanubari manusia, disaat Idul Fitri ini kebersihan hati FITRAH yang dicapai setelah pertobatan selama sebulan, sebagai HARI KEMENANGAN yang didambakan. Dalam lembaga peradilan tidak ada ampun, siapa salah dihukum, hanya BENAR dan SALAH yang menjadi acuan. Membuka peluang untuk BENERE DHEWE, tidak ada kebenaran diluar dirinya.

Setiap kasus pelanggaran hukum dijatuhi HUKUMAN, masuk penjara, rumah tahanan (Rutan). Over kapasitas, Rutan seharusnya hanya bisa menampung sebanyak 561 penghuni namun tahanan/napi yang tinggal di Rutan Pekanbaru diketahui sebanyak 1.870 orang. Sementara itu total pegawai di Rutan Pekanbaru hanya 54 orang. Untuk petugas keamanan hanya 30 orang yang dibagi 6 orang setiap regunya. “Memang rutan ini isinya 300, diisi 1.870 sudah lebih 600 persen over kapasitas. Jadi memang persoalan kita di indonesia seperti itu,” kata Yasonna saat melakukan kunjungan langsung ke Rutan Pekanbaru, Minggu (7/5/2017).

Gelap, segelap langit tertutup MEGA-MENDHUNG mencari solusi masalah yang kait mengkait ini. Belum lenyap bahkan tidak mungkin dilenyapkan orang atau kelompok yang menciptakan “pepeteng, kegelapan”, melontar hoax dengan hoax yang lain, mengelabui kebenaran dengan membenarkan hak angket. Tanpa mau tahu bahwa Akulah JALAN dan KEBENARAN dan HIDUP” (Yoh. 14:6).

Cukup menarik kisah WONDER WOMEN (yang diperankan Miss Israel 2004, Gal Gadot) dengan berbagai kesaktiannya, menghadapi perang modern dibawah ARES (Herkules identik Bathara KALLA) “dewa perang” putra ZEUS (indentik Bathara Guru). Wonder Woman tidak dibekali kebenaran, bahkan dijauhkan dari KEBENARAN,

SAPA SALAH, SELEH. Salah Jalan–Seleh, Salah memahami Kebenaran–Seleh, Salah menjalani Hidup–Seleh. Petuah ini dimaksud agar para pamong, pangembating Praja melakukan pemeriksaan batin, introspeksi, meditasi menelusuri perbuatan masa lalu, dengan rasa tobat, menimbang dan menerima akibat perbuatan (SELEH, Semeleh, Pasrah), menyerahkan pada ADILING GUSTI tampa (menerima) DANA atas pertimbangan BENAR atau DENDA atas pertimbangan SALAH (Luput). Watak Satriya pengembating praja, teguh menempatkan dirinya sebagai SATRIYA SEJATI, WANITA SEJATI, nyuwun wicaksana, nyuwun PANGUASA. Kangge anyirnaake (menjauhkan) TUMINDAK INGKANG LUPUT. Sumangga!!. Rahayu!. Ki Sardjito.-

 

Advertisements