Banyu Bening

KUNTI, Pandu dan Madri hidup di hutan sebagai pertapa demi menebus dosa ketidaksengajaan yang berakibat gugurnya Resi Kindama. Pandu akan mati disaat melakukan hubungan dengan istrinya. Kunti merapalkan mantra rahasia yang diperoleh dari Resi Druwasa menghadirkan Batara Dharma  melahirkan Putra pertama diberi nama Yudistira. Kedua Batara Bayu melahirkan Bima dan yang ketiga mengundang Batara Indra melahirkan Arjuna. Demi menjaga perasaan istri kedua Pandu, maka Kunti mengajarkan mantra tersebut kepada Dewi Madri. Madri mengundang Dewa kembar Batara Aswin menerima putra kembar, Nakula dan Sadewa. Sebelumnya Kunti telah merapal saat mandi di sendang siang hari tanpa sengaja terarah pada Batara Surya mengandung Basukarno, dilahirkan lewat telinga oleh Resi Druwasa, sehingga dipanggil KARNO. Continue reading Banyu Bening

Advertisements

GARIS KANG PINASTHI

PUNTADEWA, dikenal sebagai Yudistira, Dharmaputra, putra Dewi Kunthi ini menyelesaikan babat alas Wanamarta dan mendirikan kerajaan Amartapura, Indraprastha. Proklamasi kerajaan ini memerlukan syarat, srana, upacara SESAJI yang harus dihadiri 100 Raja pendukung. Kendala utama belum ada hubungan diplomatik, belum memiliki negara taklukan harus dengan perang sukur tanpa ngasorake, ini masalah besar. Continue reading GARIS KANG PINASTHI

GENETIKA GATOTKACA

GATOTKACA atau GATUTKACA (Sanskerta: घटोत्कच; ejaan: Ghaṭotkacha). Dalam bahasa Sanskerta, nama Ghatotkacha secara harfiah berarti “memiliki kepala seperti kendi“. Nama ini terdiri dari dua kata Sanskerta, yaitu ghaṭ(tt)am yang berarti “buli-buli” atau “kendi”, dan utkacha yang berarti “kepala”. Putera Bima dan Arimbi (raksesi), Bambang Tetuka memiliki kekuatan luar biasa, tali pusarnya tidak bisa dipotong dengan Cakra Continue reading GENETIKA GATOTKACA

BENER SEJATINE BENER

RAMAPARASU putra ke lima Prabu Jamadagni, Dewi Renuka. Brahmacari, karena sangat menggemari olah kejiwaan. Ia juga menekuni kesaktian dan olah keprajuritan hingga sangat sakti. Ramaparasu berperawakan birawa, mempunyai pusaka busur beserta anak panahnya Bargawasta yang besar. Semakin tua Ramaparasu ingin mati, berharap pada Prabu Harjuna Sasrabahu, titisan Wisnu untuk bertanding dan mati. Dikalahkan Ramawijaya, putra Prabu Dasarata dengan Dewi Kusalya mohon disempurnakan. Dianjurkan kembali ke pertapaan sebagai brahmana. Ramaparasu mempunyai tiga orang murid, Bisma, Drona dan Karna. Continue reading BENER SEJATINE BENER

TITISING GRAHITA

ABIYASA, KRESNA DWIPAYANA putra Setyowati, Durgandini, Lara Amis dengan Begawan Palasara saat menyeberang Kali Yamuna. Berpisah ketika terjadi lomba perebutan permaisuri dimenangkan Sentanu menggendong Dewabrata, sebelum kedatangan Palasara menggendong Abiyasa. Bathara Narada memisahnya dengan janji kemulian mendatang bagi yang mengalah. Palasara memilih janji itu dan mengasuh Abiyasa di pertapaan. https://nakulasahadewa.wordpress.com/2015/09/12/kriwikan-dadi-grojokan/#more-724 Continue reading TITISING GRAHITA

RASA MANUNGGAL

KRESNA, titisan WISNU dipercaya sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia. “Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iki dudu Pangeran”. Waskita, tahu hal-hal sebelum terjadi dan Wicaksana, bijaksana memberi solusi kepada Pandhawa bersama Draupadi yang juga disebut Kresna. Dalam pewayangan tokoh-tokoh Maha Baratha adalah gambaran tubuh manusia seutuhnya. Pandhawa gambaran pancaindera Kresna selalu dan hanya mendampingi, mengawasi manusia melalui pancainderanya.

Continue reading RASA MANUNGGAL

SAMPURNANING HURIP

Kunti (Dewanagari: कुंती; IAST: Kuntī) atau Perta (Dewanagari: पृथा; IAST: Pṛthā), dalam wiracarita Mahabharata, Ia bersaudara dengan Basudewa. Sebelum menikah, ia memiliki anugerah dari Resi Durwasa saat mengunjungi Raja Kuntiboja. Resi Durwasa memberikan sebuah mantra Aji Gineng, yang nantinya akan menyelamatkan kelangsungan Dinasti Bharata.   Continue reading SAMPURNANING HURIP